READING

Kisah Adik Pejuang PETA Soeprijadi Yang Memprotoli...

Kisah Adik Pejuang PETA Soeprijadi Yang Memprotoli Mobil Bung Karno

BLITAR- Mobil Cadillac Fleetwood seri 75 Limousine itu dibongkar total. Tidak hanya turun mesin. Beberapa bagian bodi mobil juga dia protoli. Yang masih tersisa di tempatnya tinggal bodi utama dan empat roda.

“Pokoknya saya bongkar habis, “kenang Soeroto (80) adik pahlawan nasional yang juga pemimpin pemberontakan PETA Syodanco Soeprijadi dengan tertawa geli.

Soeroto tidak tahu roda empat itu kendaraan dinas Presiden RI Soekarno. Salah satu dari sekian mobil yang cukup sering dipakai Paduka Yang Mulia Pemimpin Besar Revolusi. Waktu itu tahun 1960an di Jakarta. Oleh Soeroto, mobil mewah itu rencananya akan dia garap belakangan. Tidak hanya tune up mesin. Tapi juga menservis seluruh perkakas mobil, termasuk kaki kaki.

Sebagai montir bengkel yang menangani, Soeroto masih menggarap mobil Jendral Gatot Subroto. Kendaraan bekas komandan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang sekaligus pendiri Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yakni cikal bakal TNI itu harus beres pada waktunya.

“Karena waktu itu saya harus menyelesaikan mobil Jendral Gatot Subroto. Jadi setelah saya preteli (mobil Bung Karno), saya biarkan dulu, “katanya santai.

Permasalahan muncul ketika seorang perwira militer datang ke bengkel untuk melihat Cadillac Fleetwood. Begitu tahu mobil dalam kondisi berantakan, sang perwira sontak berang. Disitulah Soeroto baru tahu, kalau mobil yang dia edel edel adalah kendaraan dinas Bung Karno. “Saat itu saya langsung dimarahi, “kenang Soeroto.  

Sudah kepalang tanggung, pikir Soeroto. Kalaupun menjelaskan, pikir dia tidak akan didengar. Adu mulut bervolume tinggi pun tak terhindarkan. Pada titik dimana dia harus menyudahi perselisihan, Soeroto membentakkan kalimat, “bilang kepada Soekarno”.

Cek cok seketika berhenti. Si perwira militer kaget dan terdiam.“Saya tidak ingat lanjutan kalimatnya. Yang saya ingat perwira militer itu langsung terdiam. Mukanya sontak kecut, “kata Soeroto dengan tertawa.

Soeroto mengaku tidak menyebut nama kakaknya, yakni Syodanco Soeprijadi yang pernah diangkat menjadi Menteri Pertahanan Keamanan RI pertama, namun yang bersangkutan tidak pernah datang.

Meski sebagai adik tokoh pemberontakan PETA, Soeroto mengaku selalu berdikari. Dia memilih  mengandalkan kemampuan diri sendiri. Merantau kemana mana, yakni mulai Jakarta sampai Makassar juga dilakukannya seorang diri.

Paska insiden adu mulut itu, Soeroto mengaku sempat dipanggil ke Istana untuk bertemu Bung Karno. Identitasnya sebagai orang Blitar dan adik Soeprijadi terungkap. “Dan servis mobil Cadillac itu pada akhirnya juga selesai, “katanya.  

Sifat mandiri dan berani sudah diperlihatkan Soeroto sejak kecil. Hanya untuk melihat Bung Karno berpidato di Kota Blitar, Soeroto yang masih berusia 10 tahun, pernah nekat memanjat pohon untuk kemudian bisa turun mendekat.

Gayanya berdiri dengan bekacak pinggang seolah menantang, menarik perhatian Bung Karno. Di tengah pidatonya, sang Proklamator itu tiba tiba turun mimbar dan mendatangi bocah kecil Soeroto.

“Sambil menjulurkan tangan (mengajak jabat tangan), Bung Karno bilang aku Soekarno, lha kowe jenengmu sopo (Aku Soekarno, lha kamu namanya siapa), “kenang Soeroto. Dia pun menyampaikan namanya dengan lugas. Tanpa takut takut.

Ketika ditanya siapa orang tuanya, Soeroto juga mengatakan ayahnya bernama Darmadi, yakni Bupati Blitar ketujuh (periode 1945-1947). Darmadi juga pernah menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Kediri.

“Oleh Bung Karno saya lalu dibawa ke depan. Saat itu ada Jendral Abdul Haris Nasution. Dan entah apa maksudnya, oleh Bung Karno saya dikenalkan kepada Jendral Nasution, “paparnya. Saat itu keluarganya, yakni terutama ayah ibunya merasa cemas. Sesampai dirumah dirinya sempat “diinterogasi” kenapa sampai digandeng Bung Karno.

Bersama semua cerita kenangannya, Soeroto kini hidup sendiri di Wisma Darmadi, yakni rumah peninggalan ayahnya (Darmadi) di Jalan Syodanco Soeprijadi Kota Blitar. Anak kedua dari 11 bersaudara pasangan Darmadi dan Ny Sesulih itu memang tidak berumah tangga.

Rumah berstatus cagar budaya diatas tanah seluas 856 meter persegi itu telah ditawarkannya untuk dijual. Sebuah papan reklame penjualan lengkap dengan nomor HP telah dipasang di depan rumah. Soeroto mengaku sudah terlalu tua untuk menempati dan merawatnya.

Karena itu, menurut dia biar dibagi untuk 10 orang ahli waris lainnya (anak dan cucu Darmadi). “Saya sudah tua. Biarlah dijual saja, “ujarnya. Disinggung soal keberadaan Soeprijadi yang hilang paska pemberontakan PETA 14 Februari 1945, menurut Soeroto, keluarga besarnya meyakini sudah tiada.

Syodanco Soeprijadi diyakini tertangkap dan ikut dieksekusi tentara Jepang. Jika masih ada orang yang mengaku ngaku sebagai Soeprijadi, keluarga, khususnya Soeroto mengatakan tidak pernah percaya.

“Kalau lokasi eksekusinya kemungkinan di markas PETA yang kini menjadi sekolahan atau di hutan Maliran, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, “ungkapnya. (*)       

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.