READING

Kisah dari Balik Ruang Isolasi: Minim “Amunisi” di...

Kisah dari Balik Ruang Isolasi: Minim “Amunisi” di Lini Siap Mati

Mereka ada di garis depan tanpa “amunisi” yang memadai. Mereka juga dikucilkan, oleh sesama rekan kerja dan masyarakat. Tapi mereka harus selalu menebar asa di depan pasien positif Virus Corona.

KEDIRI- Minarsi (47 tahun) duduk di balik meja registrasi ruang isolasi RSUD Gambiran, Kota Kediri. Ia mengenakan masker yang tak pernah lepas selama ia bertugas. Di sampingnya, duduk Tri Sudaryati (54 tahun), rekan kerjanya dengan masker yang sama. Ruang isolasi itu senyap dan tintrim, mirip medan perang di garis depan. Garis paling depan menghadapi Covid-19 dengan risiko paling kecil yaitu terpapar hingga risiko kematian.

Saat ini terdapat 12 tenaga medis yang bertugas di ruang isolasi RSUD Gambiran. Mereka bekerja secara bergilir selama 24 jam untuk memastikan pasien yang dirawat baik-baik saja. Di sisi lain, hingga hari ini, tercatat sudah 18 orang tenaga medis di seluruh Indonesia, gugur di “medan laga” ini.

“Tidak semua perawat mau ditempatkan di sini karena resikonya yang tinggi,” kata Minarsih, perawat yang bertugas di ruang isolasi. Ketika banyak perawat menolak ditempatkan di ruang isolasi, Minarsi justru menerima dengan lapang dada. Hanya satu semangatnya, tugas kemanusiaan, apapun risikonya.

Ia mengingat bagaimana wajah-wajah para pasien yang menempati ruang isolasi. Tegang, depresi, bahkan ada yang nyaris bunuh diri karena tertekan. Peran Minarsih dibutuhkan di sini, bukan hanya sebagai perawat yang merawat terkait asupan obat namun lebih pada sebagai teman yang membangkitkan semangat pasien untuk sembuh.

Sejak wabah corona melanda Kota Kediri, RSUD Gambiran langsung membentuk tim dan sarana perawatan pasien yang terpapar penyakit itu. Minarsih salah satunya. Sebelum wabah terjadi, Minarsih bertugas di bagian Pengendalian Pencegahan Infeksi (PPI). Dia dipindahkan ke bagian isolasi pasien penyakit menular untuk membantu penanggulangan Covid-19.

Tugas ini menjadi semakin menantang untuk tidak mengatakan lebih banyak menangguk risiko ketika APD (alat perlindungan diri) yang minim.

“Kami terpaksa mengurangi intensitas keluar masuk ruang isolasi karena keterbatasan APD. Di zona merah, APD hanya bisa dipakai sekali dan langsung dibuang,” kata Minarsih.

Sebagai gantinya, Minarsih membentuk grup WhatsApp yang terdiri dari petugas ruangan dan pasien. Sehingga komunikasi bisa dilakukan secara daring tanpa harus masuk ke dalam ruang isolasi. Selain menghilangkan kebosanan dan menyampaikan motivasi, grup WA itu juga dipakai untuk melaporkan kebutuhan pasien seperti cairan infus yang habis.  Melalui WA pula para pasien bisa saling berinteraksi dan mengenal satu sama lain, dan membangun semangat sembuh bersama-sama.

Lain lagi kisah Tri Sudaryati. Di ruang isolasi ia, bisa dikatakan menyabung nyawa, tapi oleh sesama rekan kerjanya, ia pun dikucilkan. Apalagi di tengah masyarakat. Dahsyatnya pemberitaan tentang penularan Corona secara langsung turut memojokkan para perawat. Tak hanya oleh tetangga di rumah, beberapa rekan kerja di rumah sakit turut menjaga jarak dengan para tenaga medis yang bertugas di ruang isolasi. Mereka tak mau tertular oleh virus mematikan yang hingga kini belum ditemukan obatnya.

“Mereka mengucilkan saya karena dianggap bisa menularkan virus. Padahal tidak sesederhana itu,” kata Tri Sudaryati.

Di sini Minarsih menanggalkan APD-nya, menanggalkan keletihannya sebelum meninggalkan rumah sakit.
Foto: dok. Pemkot Humas Kota Kediri

“Bohong Putih” pada Orang-Orang Terkasih

Jam bertugas usai. Minarsih berganti baju di ruangan khusus sebelum meninggalkan rumah sakit. Setiba di rumah, Minarsih langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan keramas, serta mencuci pakaiannya. Baru setelah itu dia bisa mendekati anak-anaknya tanpa bisa berpelukan. Ia tak pernah menceritakan bahwa ia ditempatkan di ruang isolasi. Dia tak ingin anak-anaknya berpikir jauh dan ketakutan atas tugas dan profesi yang dijalani ibunya.

 “Saya juga terpaksa tidur terpisah dengan anak saya agar tidak terpapar. Sejak bertugas di ruangan ini, secara otomatis saya masuk dalam kategori ODR (orang dalam resiko),” kata Minarsih.

Dengan kondisi tersebut, baik Minarsih maupun Tri Sudaryati harus tetap membangun optimisme pasien di rumah sakit. Mereka juga selalu siap menjadi tempat curhat saat kondisi pasien sedang drop atau sedih.

“Semua pasien harus dalam kondisi baik, nyaman, dan bahagia. Karena itu modal awal untuk sembuh,” kata Sudaryati.

Jika diperlukan, para perawat ini juga merangkap menjadi kurir untuk mengantarkan titipan dari keluarga pasien. Karena keterbatasan APD, pengantaran itu tak bisa dilakukan setiap saat. Ini berbeda dengan pasien di ruang perawatan lain yang bebas keluar masuk tanpa membutuhkan perlengkapan khusus.

Ketika ditanya tentang keinginan terbesar mereka saat ini, Minarsih dan Tri Sudaryati berharap mendapat bantuan APD agar bisa menjalankan tugasnya dengan maksimal. Mereka juga berharap wabah ini segera berakhir, dan bisa menjalani kehidupan normal bersama keluarga.

“Dibutuhkan ketulusan, keikhlasan, dan percaya pada Allah untuk mengemban tugas ini. Kalau Allah tidak menghendaki kami tertular, Insyaallah aman,” kata mereka.

Direktur RSUD Gambiran,  dr. Fauzan Adhima mengakui bahwa ketersediaan APD memang terbatas. “Pada awal-awal sempat ada kesulitan penyediaan APD karena banyak distributor yang menghentikan pengiriman. Tapi saat ini ketersediaan APD relatif sudah mencukupi, semoga pasien covid-19 tidak nambah lagi sehinggs APD-nya tetap tercukupi,” kata Fauzan yang juga Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Kediri.

Fauzan menambahkan bahwa manajemen sangat mengapresiasi kepada semua medis, paramedis dan petugas lainnya yang telah all out memberikan pelayanan terbaik bagi pasien covid-19 di RSUD Gambiran. Semoga tenaga medis, paramedis dan lainnya selalu diberikan kesehatan (Titik Kartitiani).

Sumber: press release yang disampaikan oleh RSUD Gambiran Kota Kediri, 03/04/2020

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.