READING

Kisah Heroik Command Center Kota Kediri, Dari Sela...

Kisah Heroik Command Center Kota Kediri, Dari Selamatkan Kapal Laut Hingga Update Corona

Tahun 1980-an, mengirim informasi tak sesederhana kini. Mesin-mesin pengirim pesan di ruang Seksi Sandi dan Keamanan Informasi, Dinas Kominfo Kota Kediri menjadi saksi, bagaimana kemajuan dunia informasi telah melipat jarak dan waktu. Ini perkembangan Dinas Kominfo dari dekade ke dekade.

Ketika pandemik Covid-19, semua pertemuan dan koordinasi pemerintah dilakukan virtual, Kediri Command Center yang tadinya untuk aktivitas informasi semua bidang menjadi ruang sentra pemantauan Corona yang berjaga 24 jam. Ruang ini berfungsi untuk mengadakan video conference, update data terbaru tentang statistik pasien Corona, dan tempat kerja operator call center Corona Kota Kediri yang terdiri dari petugas Dinkes termasuk dokter juga Kominfo.

“Begitu Pak Wali memerintahkan untuk mengeset ruang untuk video conference, kami langsung bergerak,” kata Nurkholis, Kasi Sandi dan Keamanan Informasi, Dinas Kominfo Kota Kediri. Ruangan itu pun siap mulai dari kamera, perangkat lunak, dan segala fasilitas yang mendukung. Dalam satu hari bisa 4 video conference dalam waktu bersamaan sehingga harus membagi SDM.

Di balik peralatan mutakhir ini, ada teknisi yang sudah bekerja di balai kota sejak tahun 1986. Dia adalah Hariyanto (55 tahun), staf Seksi Sandi dan Keamanan Informasi, yang mengoperasikan SSB dan telegram hingga kini sistem digital. “Sebetulnya apapun alatnya, kalau alat telekomunikasi prinsip kerjanya sama yaitu frekuensi,” kata Hariyanto, lulusan STM jurusan Listrik.

Meski tampak sebagai “orang jadul” tapi ia tidak gagap teknologi. Katanya, jika mau belajar, apapun bisa. Hariyanto berpengalaman mengoperasikan mesin-mesin pengirim pesan sistem analog. Mesin-mesin itu kini masih berfungsi meski tak difungsikan lagi dan tersimpan di gudang Kominfo. Mesin pertama yaitu mesin telegram yang masih ada pita kertasnya.

Prinsip kerjanya, jika ingin mengirimkan undangan/surat resmi, maka pengirim mengetik di mesin sebagaimana mengetik di mesin ketik manual. Oleh mesin, ketikan tersebut diubah menjadi sandi titik yang terketik di pita kertas. Pesan titik inilah yang akan dikirim ke alamat penerima. Mesin penerima lantas akan mengetik sendiri pesan di lembaran kertas, bukan dalam bentuk kode lagi.

Pada saat Pemilu, mesin ini bekerja keras sebab arus informasi khususnya tentang perolehan suara terus diperbarui setiap saat. Hariyanto mengenang, pada masa pemilu tahun 1989, ia terus duduk di samping Wali Kota Drs. Wiyoto (1989-1999) untuk menulis dan mengirimkan pesan hasil Pemilu ke Provinsi. Seiring dengan telegram, ada SSB (Single Side Band). “Dulu ada “jam sket” yang harus standby,” kata Hariyanto sambil menunjukkan mesin SSB lengkap dengan mic-nya.

Prinsip kerja alat ini seperti HT (handy talky) hanya jangkauannya nasional. Bila ada undangan/perintah dari Provinsi Jawa Timur, maka petugas sket di Pemkab/Pemkot seluruh Jatim stand by untuk mendengarkan pesan berupa suara dari Surabaya. Kemudian, petugas yang bertugas akan menulis cepat, bisa dengan tangan atau langsung dengan mesin ketik. Hasilnya berupa surat undangan/informasi yang akan diserahkan ke Wali Kota.

Masing-masing Pemkot/Pemkab punya “nama udara”. Untuk Pemkot Kediri namanya Kana ketika nama udara berupa bunga dan buah. Kemudian ketika nama udara burung dan satwa, Kota Kediri punya nama Gelatik. “Petugas sket ini diistimewakan. Sebab kalau lagi bertugas tidak boleh diganggu. Apel pun bisa ditinggalkan sebab kalau salah dengar bisa kacau,” kenang Hariyanto.

Hariyanto mengenang, ia pernah ikut membantu, meski tak langsung, menyelamatkan kapal yang nyaris tenggelam di NTB gara-gara ia menangkap kode morse tanda bahaya. “Kalau lagi tidak jam sket, saya kan bisa ubah frekuensi untuk “mojok” dengan teman-teman lain sesama operator. Nah, pas itu saya menangkap kode morse SOS dari kapal itu,” ungkap Hariyanto. Ia pernah ikut Pramuka dan piawai dalam kode morse.

Pesan yang tak sengaja ia dengar itu ia teruskan ke Koarmatim (Komanda Armada Timur) TNI AL Surabaya yang langsung ditindaklanjuti. Akhirnya kapal itu bisa diselamatkan. Era telegram ini kemudian digantikan dengan mesin faks dengan prinsip kerja serupa. Nurkholis mengalami, bahwa mesin fax dulu masih mencetak dengan kertas panjang sehingga penerima harus memotong sendiri. Kemudian beralih ke mesin fax dengan kertas yang otomatis bisa memotong.

Kini mesin fax itu masih ada dan masih berkedip-kedip tanda menyala. “Baru tahun 2011-an ketika UU ITE disahkan dan e-mail bisa menjadi surat resmi, jarang yang mengirim fax ini,” kata Nurkholis. Meski sebetulnya, mesin fax relatif aman dari hacker.

SSB (Single Side Band) yang masih dipunyai Kominfo Kota Kediri.
Hariyanto, staf Seksi Sandi dan Keamanan Informasi Kominfo Kota Kediri.
Mesin telegram jadul yang masih dipunyai Kominfo Kota Kediri.
Nur Kholis, Kasi Sandi dan Keamanan Informasi Kominfo Kota Kediri.
Ruang operator Command Center Kota Kediri.
Walikota Kediri saat melakukan tanya jawab dengan pasien nomer 02 Covid-19 Kota Kediri yang telah dinyatakan sembuh.

Teks oleh Titik Kartitiani, Foto oleh Adhi Kusumo (Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Kediri)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.