READING

Kisah Mubarok, Menikah Dengan Berseragam Banser

Kisah Mubarok, Menikah Dengan Berseragam Banser

Bukan hanya suka, menjadi anggota Banser adalah kebanggaan. Bahkan ada yang memilih mengenakan seragam Banser saat prosesi pernikahan.

Dari ribuan anggota Banser yang tersebar di tanah air, ada sejuta kisah tentang kecintaan dan loyalitas terhadap organisasi. Salah satunya adalah Imam Mubarok Muslim, warga Kelurahan Ngronggo, Kecamatan Kota, Kediri.

Imam Mubarok baru lulus sebagai santri di Pondok Pesantren Mojogeneng, Kabupaten Mojokerto, saat berinteraksi dengan organisasi Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Dia memutuskan aktif di organisasi itu setelah pulang ke kampung halamannya di Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri tahun 1996.

“Saat itu kawan-kawan Banser di Kediri sudah cukup dinamis karena pergolakan krisis ekonomi nasional sebelum pecah gerakan reformasi,” kenang Imam Mubarok saat berbincang dengan Jatimplus.ID, Selasa, 27 Agustus 2019.

baca juga: Tokoh Persekutuan Gereja Papua Silaturahmi ke Ponpes Tebuireng

Sebagai putra kiai yang kerap disapa Gus Barok, keterlibatannya di organisasi Banser langsung menyita perhatian. Salah satunya adalah Agus Sunyoto, tokoh Nahdlatul Ulama yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Lesbumi PBNU.

Melihat ketertarikan Mubarok yang besar kepada Banser, Agus Sunyoto memandunya menjadi pimpinan ranting Banser untuk menggerakkan anggota yang berserak di pedesaan. Tak hanya itu, Agus Sunyoto juga melatih kemampuan menulis Mubarok hingga menjadi wartawan Jawa Pos Grup. “Sebab Banser harus berdaya secara ekonomi, dan memiliki penghasilan untuk membiayai organisasi,” kata Mubarok.

baca juga: Kiai Lirboyo: Islam Tak Mengenal Hukum Kebiri

Dia masih mengingat kala pertama menghidupkan kembali organisasi Banser di desanya yang hanya diampu oleh 40 anggota. Berbekal uang patungan untuk membeli seragam, mereka bertekad menjadi anggota Banser yang dikenal gagah dan disegani.

Jaket Banser milik Imam Mubarok. Foto Jatimplus/Adhi Kusumo

Menurut Mubarok, nilai patungan saat itu cukup besar, yakni Rp 50 ribu per orang. Harga yang mahal untuk anggota Banser yang rata-rata bekerja sebagai buruh tani dan serabutan. Namun mereka mampu menyisihkan demi menebus seragam kebanggaan.

Sebelum dibaiat menjadi anggota Banser, ada tahapan tertentu yang harus dilalui Mubarok, yakni gemblengan. Tahapan ini paling krusial sebagai pembekalan calon anggota Banser menjadi pasukan pembela ulama. Selain cinta tanah air dan bela negara, anggota Banser juga didoktrin untuk mempertahankan keutuhan NKRI dan membentengi ulama. “Jangankan waktu dan tenaga, nyawa pun harus diserahkan untuk menjalankan tugas itu,” kata Mubarok.

baca juga: Leonardo Dicaprio dan Komentar Halu di IG Nicholas Saputra

Begitu bangganya menjadi anggota Banser hingga pernah terjadi kisah penyelundupan calon anggota baru saat penggemblengan masa itu. Alkisah seorang calon anggota Banser terlihat mengendap-endap di antara barisan yang hendak dibaiat. Karena mencurigakan, anggota Banser berpangkat provost mendekatinya. Ternyata dia adalah seorang perempuan yang mengenakan kumis palsu dan pelindung dada yang ketat. “Saat itu Banser masih tertutup bagi perempuan, belum ada Banserwati seperti sekarang,” terang Mubarok.

Menikah Berseragam Banser

Kecintaan Mubarok kepada Banser tak perlu diperdebatkan lagi. Bahkan momen paling sakral dalam hidupnya yakni pernikahan harus dijalani dengan entitas Banser. Dia menolak mengenakan jas yang disediakan bosnya, dan menggantinya dengan seragam Banser. “Saya tak mungkin meninggalkan identitas sebagai Banser,” katanya.

Alhasil pesta pernikahan itu menjadi pestanya anggota Banser. Sebanyak 50 kendaraan roda dua merek Honda GL-Pro lengkap dengan sirine mengiringi arak-arakan pernikahan Mubarok. Mereka bangga mengantarkan Mubarok yang kala itu sudah menjabat komandan Banser memasuki jenjang pernikahan.

Foto pernikahan Imam Mubarok berseragam Banser. Foto Jatimplus/Adhi Kusumo

Pergulatan Mubarok di organisasi ini makin terasah saat memimpin keberangkatan puluhan anggota Banser ke Jakarta paska reformasi. Saat itu Banser dari seluruh daerah diminta ke Jakarta mengawal kepemimpinan Presiden RI Abdurrahman Wahid yang menghadapi tekanan politik.

Menyewa dua gerbong kereta api, mereka berangkat dari Kediri menuju ibu kota untuk menggantikan pasukan Banser dari daerah lain yang kembali. Selama di Jakarta, mereka menyewa penginapan dan menjejali tiap kamarnya dengan anggota Banser.

Satu kamar penginapan yang hanya menampung maksimal empat orang diisi hingga 10 orang sekaligus. Tempat tidur yang memenuhi ruangan disandarkan ke tembok agar bisa ditempati lebih banyak orang. Selama dua pekan mereka tidur di lantai dan makan dengan biaya sendiri. “Itulah Banser saat bertugas membela ulama,” kata Mubarok.

Kini, meski sudah tak menjabat dan beraktivitas di organisasi Banser, Mubarok masih bangga memajang foto pernikahannya yang berseragam Banser di ruang tamu. Foto itu tampak menarik perhatian di tengah koleksi keris dan benda seni yang memenuhi ruangan. Selain berprofesi sebagai wartawan, Mubarok juga menekuni bisnis keris. Di luar itu, hidupnya tetap didedikasikan untuk membela ulama dan NKRI, dan menduduki kursi Wakil Ketua Pengurus Wilayah Lesbumi Jawa Timur.

Penulis: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.