READING

Kisah Perebutan Kuasa di Dalam Ruang Teater Hampa ...

Kisah Perebutan Kuasa di Dalam Ruang Teater Hampa Kota Malang

“Mana dia, akan ku bunuh Sujito!, ”pekik salah satu aktor memecah kesenyapan malam pentas teater di Gedung Sasana Budaya Universitas Negeri Malang (UM).

MALANG- Adegan luapan kemarahan warga gara gara kematian dua ekor sapi tanpa sebab yang wajar itu berhasil menggiring penonton Teater Hampa Indonesia untuk saling membenturkan telapak tangan. Gema tepuk tangan sontak menyalakan suasana.  

Adegan naik pitam tanpa sadar membuka pintu memori penonton, lalu membawa masuk kedalam peristiwa sosial yang kerap terjadi di masyarakat. Penonton melihat sebuah kemarahan paripurna yang mengerdilkan akal sehat.  

Rasa amuk yang bisa membuat manusia nekat melakukan apa saja, termasuk menghilangkan nyawa orang lain maupun diri sendiri. M. Zainul Alamsyah, sang sutradara sengaja memainkan plot peristiwa kematian sapi warga lebih dalam.

Konflik diaduk aduk, diperuncing dengan memunculkan adegan kasak kusuk yang berujung tudingan kesenian bantengan sebagai biang keroknya. Insiden kematian sapi dikaitkan dengan ritual kesenian bantengan milik mantan kepala desa.

Menyebar desas desus sapi sengaja dibunuh untuk tumbal peraih kekuatan kanuragan. Entah siapa yang meniupkan, isu merambat cepat ke masyarakat, hingga pada titik tuduhan sebagai perbuatan syirik yang melanggar syariat agama.

“Akibatnya, sang mantan kepala desa yang dulu disegani dan dipercaya omongannya, menjadi dibenci warga. Hingga sampai ada yang ingin membunuh dia dan keluarganya karena alasan telah membunuh sapi-sapi warga, ”tutur Zainul.

Oleh Zainul, misteri dipungkasi dengan adegan hansip desa yang menemukan botol berisi cairan potasium di sekitar kandang sapi. Tudingan tumbal ritual pun kandas. Namun sebagai ganti, muncul silang sengkarut pertanyaan, untuk apa?, motifnya apa?.

Dengan cukup cerdik konflik yang mulai menyempit ditutup dengan adegan klimaks tewasnya cucu mantan kepala desa gara gara keliru menenggak cairan bening potas yang dikira air minum di kamar kakaknya.   

“Di sinilah warga tahu siapa pelaku sebenarnya dari tewasnya sapi-sapi warga,” ungkap Zainul.

Drama yang dipentaskan malam itu berjudul “Kudnat”. Kudnat berasal dari boso walikan khas Malang yang bila ditempatkan secara normal, berarti “Tanduk”.

Menurut Zainul, Tanduk merupakan simbol kekuatan pemimpin, layaknya seekor banteng yang ditakuti hewan lain karena tanduknya. Dalam bahasa kekuasaan, Tanduk diterjemahkan sebagai pengaruh pemimpin terhadap kawula yang dipimpinnya.

Semakin besar pengaruh sang pemimpin maka  ia akan semakin bertanduk. “Kami gambarkan sang Kades ini gila pengaruh dan kekuasaan, hingga cara-cara seperti fitnah pun dilakukan,” ujar pria berambut kriting ini.

Tidak hanya bermain dalam kekuatan cerita. Pementasan drama itu juga menampilkan balutan etnik daerah, khususnya kesenian di sekitar Malang dan Batu yang identik dengan bantengan.

Pertunjukkan seni bantengan juga dihelat sebagai membuka pentas drama. “Dari tinjauan historis bantengan ini erat dengan kerajaan Singasari yang warganya gemar memainkan kesenian ini, ”ungkapnya.

Sebelum naik pentas, naskah drama “Kudnat” lebih dulu melalui proses pembedahan selama seminggu. Naskah yang ditulis Abdiayana Ihsan itu dianggap memiliki relevansi dengan isu politik yang berkembang akhir-akhir ini.

Mulai pasca pelantikan anggota dewan hingga akan penyelenggaraan Pilkades serentak di sejumlah wilayah di Jawa Timur. “Isu perebutan pengaruh dan kekuasaan akhirnya yang kami ambil karena relevan dengan isu akhir-akhir ini,”ungkap Zainul.

Septiana Adi, salah satu penonton mengapresiasi drama yang dipentaskan. Menurutnya isu yang diangkat menggambarkan situasi masyarakat saat ini.

Pentas seni itu juga dianggap cukup memberi edukasi, terutama membantu mengasah  daya kritis para pelajar yang malam itu memenuhi ruang penonton.

“Seperti di Mojokerto dan Kediri kan ini juga mau ada agenda Pilkades. Setidaknya pementasan ini bisa menjadi refleksi sekaligus kritikan,” ujar Adi.

Reporter : Moh. Fikri Zulfikar
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.