READING

Kisah Tionghoa Dalam Semangkuk Pangsit (2)

Kisah Tionghoa Dalam Semangkuk Pangsit (2)

Sejarah Tionghoa di Kota Kediri cukup panjang. Sebagian mampu beradaptasi dengan jaman, sebagian justru tertinggal dengan bayang-bayang masa lalu. Keluarga Tan Ju Nio adalah salah satu potret keluarga China yang bertahan. Jatimplus mereportase perjuangan keluarga ini mempertahankan hidup dengan berjualan pangsit.

Liliana masih duduk di bangku sekolah dasar saat papanya berjualan pangsit mie Garuda. Kala itu hanya dua pilihan untuk menjajakan dagangan secara keliling. Dipikul atau didorong. Dan Gie Swie memilih mendorongnya.

Bersama gerobak yang bertumpu dua roda, Gie Swie berjalan kaki mengelilingi wilayah timur Sungai kota Kediri. Gerobak berisi pangsit mie itu dibawa menyusuri ruas jalan protokol, jalan kampung, serta gang sempit.

Gie juga menawarkan dagangannya di kawasan pertokoan. Di beberapa titik jalan, pertigaan atau perempatan, ayah tiga anak itu biasanya berhenti sejenak.  Selain melepas penat, juga berharap ada orang lewat yang membeli. “Papa biasanya mangkal di depan sekolah Chung Hua Tsung Hui (CHTH) di Jalan Doho Kota Kediri yang sekarang menjadi hotel Grand Surya,“ kenang Liliana yang kini telah berusia 64 tahun.

Liliana bersekolah di sekolahan milik CHTH, yakni sekolah khusus Tionghoa. CHTH merupakan perkumpulan umum orang Tionghoa. Sebuah organisasi yang didirikan orang orang Tionghoa bekas tawanan Jepang.

Secara politik CHTH berafiliasi dengan Partai Guomintang atau Kuomintang di Negeri Tiongkok. Sebelum CHTH berdiri, pemerintah kolonial Jepang lebih dulu mendirikan organisasi Perkumpulan Umum Tionghoa Perantauan.

Perantauan yang dimaksud adalah Tionghoa totok atau Hoa Kiau. Pendirian perkumpulan Tionghoa perantauan ini untuk menyokong kepentingan Jepang. Perkumpulan itu bubar diam-diam setelah Jepang menyerah kepada sekutu. Beberapa eks aktivis diantaranya turut membidani pendirian CHTH yang diketuai Ong Siang Tjie. Mereka berniat menyatukan Tionghoa peranakan atau Kiau Seng dan Tionghoa totok.

Di masa revolusi 1945 orientasi politik kedua kelompok Tionghoa ini terbelah. Kaum Tionghoa totok lebih berkiblat ke Negeri Tiongkok. Sementara Kiau Seng memilih memperjuangkan kepentingan dimana kaki mereka berpijak. Termasuk tidak sedikit yang mendukung nasionalisme Indonesia. 

Karena itu ketika Indonesia memproklamirkan diri pada 17 Agustus 1945, hubungan CHTH dengan Soekarno terjalin mesra. Dalam pidatonya Bung Karno mengatakan Tiongkok dan Indonesia memiliki banyak kesamaan kepentingan.

Liliana adalah salah satu generasi garis Kiau Seng yang mendukung nasionalisme Indonesia. Namun karena geger politik di tahun 1965, pemilik nama Lim Sho Lien ini hanya mengenyam pendidikan kelas enam SD di sekolah CHTH.

Liliana tak bisa mengingat persis kapan ayahnya Gie Swie memulai berjualan mie pangsit. Dia hanya mengingat meletusnya peristiwa G 30S PKI membuat papanya berhenti berjualan keliling. Sebab semua toko di kawasan Kota Kediri tutup. Sekolah CHTH juga ditutup. Situasi sosial berubah tegang.

Anak-anak Tionghoa sebayanya juga berhenti sekolah. Jika ingin melanjutkan pendidikan harus berpindah ke sekolah umum. Namun tak sedikit yang berharap sekolah mereka tetap buka suatu saat. “Tapi ternyata tak pernah dibuka lagi,” kata Liliana yang terpaksa putus sekolah.

Tak ada pilihan lain baginya selain membantu ibunya di rumah. Sementara ayahnya berjualan mie pangsit tiap malam. Tak disangka, aktivitas berjualan mie yang ditempuh ayahnya hingga kini bertahan sebagai mata pencaharian Liliana dan ibunya Tan Ju Nio hingga sekarang.

Pangsit Mie Garuda

Meski sudah uzur, Tan Ju Nio terbilang masih cekatan dalam menyiapkan pangsit mie. Sepotong demi sepotong Bian Shi (dalam dialek Hokkian berbunyi “Pian Sit”) atau populer disebut Pangsit, dientasnya dari wajan penggorengan yang berisi air mendidih. 

Setelah ditiris, lembaran tipis tepung terigu berbentuk gumpalan awan dengan isi daging itu diletakkan ke dalam mangkok. Di mangkok bermotif batik Cina sudah menanti gulungan mie. Juga sawi yang selesai direbus. Semua proses tidak mengenal goreng. Semuanya direbus.

Melihat mamanya bekerja, Liliana langsung tanggap. Dia siapkan suiran daging ayam serta cincangan daun seledri. Sebelum disajikan, daging dan sayuran itu ditaburkannya ke atas pangsit mie. “Setelah papah meninggal, saya dan mama menggantikan jualan pangsit,” kata Liliana sambil bekerja.

Namun belakangan peran Tan Ju Nio lebih banyak digantikan Liliana. Perempuan lanjut usia itu mulai sakit-sakitan.

Memanfaatkan rumah peninggalan leluhur di Jalan Dr. Wahidin No.23 Kelurahan Pakelan, Kecamatan Kota Kediri, keluarga Tan Ju Nio menyulapnya menjadi depot pangsit mie Garuda. Nama Garuda dipilih karena lokasi tempat makan itu tepat berada di belakang gedung bioskop Garuda di kawasan klenteng.

Warung pangsit ini berada persis di perempatan jalan sebelah barat. Tak jauh dari rumah Tan Ju Nio terdapat lembaga pendidikan milik Yayasan Cinderela. Seluruh bangunan di kompleks ini masih memiliki bentuk asli dan menjadi kawasan Pecinan. “Rumah ini tak pernah dipugar. Paling-paling hanya bocor,” kata Tan Ju Nio yang menyukai menemani pelanggannya makan.

Menurut dia, selera orang sekarang berbeda dengan jaman dulu. Pelanggan era lama menyukai menyantap pangsit mie dengan kuah sekaligus. Sementara penikmat mie jaman sekarang lebih menggemari kuah terpisah.

Liliana mengklaim tak ada perbedaan rasa mie buatannya dengan Gie Swie, ayahnya. Hanya penambahan sedikit bumbu saja yang dilakukan untuk menyesuaikan dengan lidah sekarang. Hanya saja jika dulu mie dibuat sendiri oleh ayahnya, kini Liliana tinggal membeli mie jadi. Dia hanya merebus dan meracikkan bumbu sebagai pangsit mie. “Kalau tidak habis tinggal masukkan kulkas, ndak basi,” katanya.

Untuk menyediakan tempat makan pelanggannya, Liliana terpaksa menggusur ruang tamunya. Ruang kecil yang berfungsi sebagai ruang tamu sekaligus ruang keluarga itu disulap menjadi ruang saji. Karena sempit, hanya satu meja menampung empat orang yang bisa diletakkan di ruangan itu. Sebidang papan panjang ditata menempel dinding sebagai meja untuk menambah kapasitas pengunjung.  Dari ruang ini terlihat jelas aktivitas di dapur masak yang diletakkan di depan rumah.

Dapur mini yang penuh sesak untuk dua orang ini dibangun di atas trotoar depan rumah mereka. Sambil memasak, Liliana dan ibunya mengajak berkomunikasi pelangganya yang menunggu di meja saji.

Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk memasak seporsi pangsit mie. Warnanya yang putih dengan kuah jernih menggugah selera makan. Daging ayam suwir ditabur di atasnya. Demikan pula tambahan acar dan cabai rebus yang diletakkan terpisah menambah kenikmatan kuliner legenda ini.

Seporsi mie dibanderol Rp 20.000. Cukup mahal untuk ukuran pangsit mie di Kota Kediri. Namun harga tersebut tak membuat pelanggannya kabur. Mereka adalah pelanggan lama yang menyukai pangsit mie Gie Swie yang melegenda. “Dulu bapak atau engkongnya, sekarang anak-anaknya yang jadi pelanggan,” kata Liliana bangga.

Dia ingin meneruskan bisnis leluhurnya yang dikenal sebagai pedagang kuliner. Mendiang engkongnya (kakek) dulu juga penjual kue bulan. Semasa hidupnya si engkong menjajakan dagangan dari klenteng ke klenteng. Sebelum berjualan pangsit mie, ayahnya juga pernah menjajakan wedang ronde.

Liliana kini telah berumur. Cucunya sudah dua. Kelangsungan pangsit mie Garuda bergantung pada Roni, anaknya. Meski bergelar sarjana arsitek, Roni sudah menyatakan mau melestarikan bisnis orang tuanya kelak. (*)

print

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.