Kisah Wabah Maling di Lumajang

LUMAJANG – Alkisah di sebuah kampung di Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang tengah terjadi musim maling. Hampir seluruh harta milik warga diambil gerombolan maling yang beroperasi di malam hari. Mulai ternak, hasil pertanian, hingga peralatan elektronik dan pakaian.

Pencurian yang makin mirip penjarahan karena banyaknya benda yang diambil membuat warga desa bingung. Setiap hari kantor kelurahan didatangi warga yang melapor kehilangan barang. “Kalau terus-terusan begini lebih baik transmigrasi ke Surabaya saja,” protes Ponirin yang baru saja kehilangan charger HP.

Akibat cas-casannya raib, Ponirin harus dag dig dug saat menerima telepon dari pacarnya. Dia khawatir saat Wati, pacarnya menelepon, HP-nya mati mendadak. Ponirin masih trauma ketika dua hari lalu obrolannya dengan Wati yang bekerja di Malaysia terganggu akibat gangguan sinyal. Akibatnya, telepon mesra menjadi perang mulut:

Ponirin : Aku cinta kamu dik Wati

Wati      : Iya mas, aku juga

Ponirin : Foto yang sampeyan kirim keliatan cantik. Baju dan wajahnya jancok

Wati       : Heh ?! Kok misuhi aku ?!

Ponirin : Ora dik, wajahmu jancok karo klambine

Tuuuuttt ……(telepon mati)

Ponirin kaget karena sinyal benar-benar hilang. Wati terlanjur naik darah. Rupanya kata ‘jancok’ muncul akibat ganguan sinyal saat mengucapkan ‘jian cocok’. Ajuuur suuuum.

baca juga:Penyerangan Markas Pagar Nusa Tak Terbukti

baca juga: Wali Kota Blitar Divonis Rendah

Tak ingin kehilangan benda lainnya, malam itu Ponirin berniat tak tidur. Dia ingin menangkap basah pencuri yang telah menggondol cas-casannya. “Awas yo,” kata Ponirin geram.

Malam itu Ponirin benar-benar tak tidur. Biar betah melek, dia mengusung kasur ke ruang tamu. Tekadnya sudah bulat untuk memergoki si maling saat masuk melalui pintu depan.

Jam satu lewat, Ponirin masih terjaga. Jam setengah dua matanya mulai ciut. Jam dua tepat tubuhnya ambruk di atas kasur. Pulas sampai pagi.

Ponirin terperanjat saat matahari telah tinggi. Buru-buru dia memeriksa barang-barang di ruang tamu. Nafasnya lega karena semua barang masih berada di tempat. Namun saat menundukkan wajah, dia menjerit, “Ya Allah, kasurku ilaaaaaanng”.

Ponirin menangis sesenggukan. Dia mengutuk maling yang tega mencuri kasur satu-satunya. Padahal di rumahnya ada TV setengah inch, kulkas tanpa pintu, dan benda berharga lain. Kenapa justru kasur yang diincar.

Tangis Ponirin yang kencang mengundang perhatian Wak Dul, tetangganya. Dengan tergopoh Wak Dul menghampiri Ponirin. Masih menangis, Ponirin menceritakan kasurnya yang hilang digondol maling.

“Matamu nang endi, su. Kasur ketutupan seprei mbok warah ilang, sempak,” tukas Wak Dul membanting pintu. (*)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.