READING

Kisah Keluarga “Naga” Kediri di Perayaan Hari Tole...

Kisah Keluarga “Naga” Kediri di Perayaan Hari Toleransi

Dua puluh foto yang ditempel di dinding rumah kuno milik B Poedijohartono di selatan Jalan Brawijaya Kota Kediri itu merupakan fragmen perjalanan hidup keluarga perantau Tionghoa Tjiang Fang Tjien. Dalam rangka peringatan Hari Toleransi Internasional di Kota Kediri, hasil jepretan Freddy M A Lempas –salah satu anggota keluarga Tjiang Fang Tjien– dipamerkan.    

KEDIRI- Sebuah rumah dua lantai bergaya kolonial. Dindingnya bermodel melengkung dengan sepasang kusen jendela nako persegi empat berkelir kuning. Di foto karya Freddy, tinggi loteng itu tampak sejajar dengan cagak ting atau tiang lampu penerangan jalan umum (PJU) yang tegak berdiri di pinggir trotoar jalan Doho Kota Kediri.

Loteng berasal dari bahasa Hokkian lauteng. Artinya bagian teratas atau tingkat teratas dari sebuah bangunan rumah atau gedung. Oleh keluarga Hoo Tje Tjin, loteng yang ada dijadikan sebagai tempat hunian. Praktis seluruh aktivitas keluarga Tje Tjin, termasuk tidur dan beristirahat, dilakukan disana. Sebab lantai bawah digunakan sebagai rumah makan.

“Dari dulu sudah umum rumah sekaligus menjadi toko (ruko), “tutur Freddy kepada jatimplus.id. Sejak pra kemerdekaan, keluarga Hoo Tje Tjin dikenal sebagai pengusaha kuliner.  Terutama  di kawasan pecinan Jalan Doho Kota Kediri, usaha yang awalnya bernama “Restoran Tionghoa”itu, menjadi pelopor.

Sebelum rumah makan, depot, atau kaki lima penjual pecel tumpang tumpah ruah di jalan Doho seperti sekarang, Restoran Tionghoa sudah lebih dulu terkenal. Pelanggan yang datang dari mana mana. Bagi masyarakat berkantong tebal di Kediri, namanya sangat familiar.

Bahkan tiap berkunjung ke Kediri, Bung Karno maupun Jendral Besar Sudirman konon selalu menyempatkan mampir ke Restoran Tionghoa. “Intinya saat masih bernama Restoran Tionghoa menjadi ikon kuliner di Jalan Doho. Sekarang sudah menjadi warung makan biasa,  “terang Freddy.

Hoo Tje Tjin akrab dipanggil Hoo Ceking. Kebetulan perawakan pria keturunan itu memang tinggi kurus sekaligus ramping. Karenanya panggilan semi olok olok itu tidak pernah membuatnya gusar. Hoo Ceking merupakan suami Tjiang Pei Tjie, salah satu putri kembar Tjiang Fang Tjien.

Dalam foto hasil daur ulang (repro) Freddy, Tjiang Pei Tjie tampak masih  gadis remaja. Mengenakan baju potongan you can see Pei Tjie berdiri bersama empat saudarinya yang lain.

Posisinya dibelakang punggung Tjiang Fang Tjien yang duduk bersanding dengan istrinya. Di dalam foto  juga terlihat enam bocah kecil dan lima lelaki remaja berdiri berjajar paling belakang.

Sayang, Freddy tidak hafal satu persatu nama namanya. Ayah dua anak itu  hanya mengetahui cerita perjalanan hidup Tjiang Pei Tjie yang tak lain nenek istrinya, yakni Sen Hong atau Seniawati. “Sayangnya saya tidak hafal nama satu persatunya, “tuturnya.

Jika keluarga Hoo Tje Tjin dikenal pengusaha kuliner, Tjiang Fang Tjien dikenal sebagai pengusaha pembuat gigi palsu dan optik kaca mata. Usaha yang ditekuni sebelum kemerdekaan itu diberi nama “Tjiang”, yakni diambil dari nama keluarga atau marga.

Sebagai yang pertama di jalan Doho, bisnis produksi gigi dan optik Tjiang  maju dan terkenal. Kala itu Fang Tjien juga sudah menjual daganganya di ruko. Bahkan saat itu Tjoa Jien Hwie atau Surya Wonowidjoyo, pemilik sekaligus pendiri Pabrik Rokok Gudang  Garam, masih berjualan di kios pinggir jalan.

“Saat itu pemilik Gudang Garam masih melinting rokok di kios pinggir jalan. Sedangkan keluarga Tjiang Fang Tjien secara bisnis sudah lebih besar. Karenannya ketika Tjiang Fang Tjien meninggal dunia, pemilik Gudang Garam juga datang melayat, “terangnya.

Melalui  jalur pernikahan (Hoo Tje Tjin dan Tjiang Pei Tjie), dua keluarga yang memiliki jalur bisnis yang berbeda itu, yakni kuliner dan optik itu menjadi satu.

Si Kembar Yang Berakhir Diatas Kapal

Sama dengan Tjoa Jien Hwie (Pendiri Gudang Garam Kediri) yang berimigrasi ke Indonesia. Tjiang Fang Tjien yang berasal dari Hubei, yakni salah satu Provinsi di Tiongkok dengan ibu kota Wuhan, juga hijrah ke Indonesia.

Hubei kesohor sebagai asal muasal Tai Chi, seni bela diri Wing Chun dan seni akrobatik. Tanah kelahiran Fang Tjien itu juga terkenal sebagai pusat kebudayaan China. Melalui jalur air (kapal laut), perjalanan panjang Tjiang Fang Tjien bersama istrinya sampai di Kediri.

Hingga kini belum terungkap apa yang mendorong Fang Tjien meninggalkan negaranya. “Yang pasti orang hijrah biasanya untuk mencari kehidupan yang lebih nyaman. Katanya sebelum Indonesia merdeka,  “tutur Freddy.

Pada salah satu foto Freddy, Tjiang Pei Tjie yang sudah berusia 90 tahun tampak memegangi baju anak kecil. Sebuah baju tanpa lengan bermotif batik China.

Pakaian dengan benang yang dirajut sendiri oleh istri Tjiang Fang Tjien itu merupakan baju Pei Tjie ketika masih berusia tiga bulan. Pakaian yang menjadi saksi perjalanan hidup itu masih dirawat dengan baik.

Melalui foto itu (Tjiang Pei Tjie memegang baju) kisah perjalanan Tjiang Fang Tjien sebagai sang pemula atau generasi pertama di keluarganya, terungkap.

Saat merantau ke Indonesia Tjiang Fang Tjien dan istrinya meninggalkan anak anaknya di Hubei. Bocah bocah kecil itu dititipkan kerabatnya.

Ketika bisnis gigi palsu dan optik Tjiang di Kediri cukup mapan, Fang Tjien meminta kerabat dan anaknya menyusul ke Indonesia.“Tjiang Pei Tjie sendiri terlahir sebagai kembar, “kata Freddy.

Singkat cerita, dengan diantar kerabatnya, Tjiang Pei Tjie dan kembaranya yang masih berusia tiga bulan, menyusul ke Indonesia.

Mereka  menempuh perjalanan  air (kapal laut) dengan bekal yang ditempatkan di sebuah kopor kulit. Foto kopor tanpa merek dengan kondisi yang sudah butut itu juga turut dipamerkan. Dalam perjalanan selama berbulan bulan diatas kapal itu, kembaran Tjiang Pei Tjie tiba tiba sakit.

Berbagai upaya pengobatan dilakukan. Namun nyawa si kembar tidak terselamatkan. Menurut Freddy, dengan pertimbangan membusuk dan  menimbulkan penyakit, jasad kembaran nenek istrinya itu diputuskan dilarung ke samudera.

“Cerita pelarungan itu sampai kini dikenang keluarga, “terangnya.

Sesampai di Indonesia, Tjiang Pei Tjie tidak bisa langsung ke Kediri karena masih harus mencari tahu. Sebelum bertemu orang tuanya di Jalan Doho Kota Kediri, bersama pengantarnya, Pei Tjie lebih dulu tinggal di Kabupaten Tulungagung hingga beberapa tahun.

Saat ini Pei Tjie sudah berusia 90 tahun. Secara fisik, seniman bela diri  wushu dan tai chi itu masih sehat. Masih kuat naik turun tangga rumah, termasuk melakukan aktivitas bersih bersih rumah. Pei Tjie yang merupakan generasi kedua optik Tjang, juga masih menyimpan seluruh barang yang menjadi sejarah hidup keluarganya.

Misalnya boneka plastik berbaju beludru, berwajah Eropa dengan rambut sebahu, lengkap dengan kursi santai, juga masih disimpannya dengan baik. Boneka itu merupakan mainan masa kecilnya. Hanya saja penyakit tua, yakni kerap lupa mulai  beberapa tahun terakhir ini mulai menghampiri.

Freddy dan istrinya yang merupakan generasi keempat optik Tjiang. Kelak anak anaknya ketika sudah besar menjadi generasi kelima. Seingat Freddy, nenek istrinya tidak bersedia lagi membicarakan hal hal masa silam yang terkait dengan persoalan intoleransi.

Dia yakin perlakukan buruk sebagai orang keturunan tentu pernah mendera. Hal itu terlihat bagaimana sikap tertutup, yakni khususnya ketika diminta bercerita soal masa lalu masih kentara. Namun semuanya telah berlalu dan faktanya kehidupan bertoleransi di Kediri, khususnya Kota Kediri telah tumbuh semakin baik.

“Dengan peringatan Hari Toleransi Internasional ini kita semua berharap kehidupan toleransi di Kota Kediri akan semakin baik, “pungkasnya.

Baca Juga: Merayakan Toleransi

Seperti diketahui peringatan Hari Internasional di Kota Kediri ini diinisiasi oleh SETARA Institute, yakni sebuah NGO yang bergerak di bidang keberagaman dan demokrasi.

Kota Kediri terpilih sebagai salah satu kota penyelenggara peringatan Hari Toleransi Internasional yang dihelat serentak di Indonesia. Acara yang diramaikan pertunjukan seni lintas agama itu juga dihadiri Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar.

Direktur Riset SETARA Institute dalam Halili dalam keterangan persnya mengatakan toleransi merupakan pondasi sosial bagi bangunan harmoni yang berbhineka tunggal ika.

“Sudah seharusnya seluruh masyarakat mendorong bersama sama agar toleransi menjadi etika kolektif, “tulisnya. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.