READING

Kontroversi Ahmad Dhani, Dari Musisi, Politisi dan...

Kontroversi Ahmad Dhani, Dari Musisi, Politisi dan Bui

AHMAD Dhani Prasetyo memang rebel sejak kecil. Mokong (keras kepala) sejak usia milenial. Tidak hanya menyangkut beda pendapat. Adu otot, gelut, duel dalam arti sesungguhnya (fisik), biasa dia lakoni. Orang Surabaya, yakni tanah dan lingkungan sosial dimana dia lahir dan dibesarkan menyebutnya sego jangan (biasa atau lumrah).  

“Tapi, biasanya berantem soal cewek, “kata Joyce Abdul Manaf, ibunda Ahmad Dhani sembari tergelak dalam buku Manunggaling Dewa Ahmad Dhani. Saking gemarnya berkelahi, si ibunda sempat dibikin berdebar ketika di hari kelulusan SMP, wajah putranya tergurat bekas cakaran.

Dhani yang seharusnya pulang, menolak ketika diajak pulang. Didorong rasa khawatir, Edy Abdul Manaf, sang ayah yang sebelumnya memutuskan pulang tanpa keikutsertaan sang anak, tiba tiba memutar balik kendaraan menuju sekolahan.

Khawatirnya terjawab. Di halaman sekolah terlihat para siswa berseragam putih biru, berkerumun membuat lingkaran. Bak gelanggang gladiator, para bocah itu bersorak sorai menyemangati dua bocah lain yang tengah bergelut diatas tanah. Edy melihat salah satu dari dua petarung itu adalah anak lanangnya.

“Wajahnya kayak ekspresi Sydney, kucing kami di rumah. Saya sudah curiga dia (Ahmad Dhani) menolak diajak pulang, “tutur Joyce.

Dhani juga rela berduel hanya untuk membela hal hal yang bukan urusannya. Di masa mudanya ayah Al, El dan Dul itu kerap beradu otot hanya untuk membela seorang kawan yang menurutnya patut dibela. Kalau sudah begitu, siapapun sulit mencegahnya.

“Aku pernah juga ngebelain teman dari preman yang malakin dia, “ungkap Dhani suatu ketika. Sifat pembangkang sekaligus kontroversi itu terbawa sampai dewasa. Tidak hanya dalam berpenampilan, tapi juga bertutur kata. Ceplas ceplos, ringan, seenak pusarnya sendiri.

Mungkin itu yang membuat mantan suami pentolan duo Ratu Maia Estianti itu tidak gampang khawatir menghadapi persoalan. Dhani kebal menghadapi beragam tudingan, baik yang paling miring sekalipun.

Diktator, arogan, one man show, pongah, sok menangan, sok kuasa, dan beragam cap negatif lain, dihadapinya dengan rileks. Dhani tidak pernah terlihat risau popularitasnya sebagai publik figur akan redup. Hidupnya seolah bebas nilai.

Taruh saja saat berpolemik dengan jurnalis cum sastrawan Yudhistira ANM Massardi, yakni terkait kasus tembang Arjuna. Lelaki plontos kelahiran 26 Mei 1972 itu tidak secuilpun terlihat gentar.

Statemennya di media massa tetap ceplas ceplos, seenaknya, dimana gaya komunikasi itu kerap melahirkan tudingan asal bacot. Gestur tubuhnya juga tidak berubah. Tetap memancing orang lain memberinya cap arogan.  

Begitu juga saat berseteru dengan pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Habib Riziq terkait logo album Laskar Cinta yang dituding melecehkan simbol agama. Dhani tidak gentar.

Suami penyanyi Mulan Jameela itu juga tidak cemas melewati pro dan kontra saat diangkat sebagai Duta Lingkungan Hidup oleh Kementrian Lingkungan Hidup. “Kalau aku tidak merasa salah, ya aku hadapi, “tandas Dhani di suatu hari.

Kagum Demokrasi Terpimpin Bung Karno

Guruh Soekarno Putra pernah menyatakan Ahmad Dhani adalah  sosok yang unik. “Orang ini benar benar aneh dan sangat langka, “katanya di buku Manunggaling Dewa Ahmad Dhani.

Penampilan Dhani yang meniru gaya Bung Karno, yakni berfoto dengan peci hitam dan mengenakan baju potongan ganefo, lengkap dengan atribut penghargaan militer di dada kiri,  bagi Guruh menjadi nilai lebih, terutama di mata awam para pecinta Bung Karno.

Karena penasaran dengan penampilan itu, Guruh sempat bertanya langsung kepada Dhani. Apa jawabnya?

Dengan polos Dhani mengatakan sangat mengagumi Bung Karno. Tidak hanya kepincut pada kepintaran dan kecerdasan Bung Karno. Dhani juga mengaku kagum pada sosok Bung Karno yang flamboyan dan penuh gaya, yang itu membuat kawan maupun lawan merasa segan.

Namun yang paling dikagumi Dhani adalah ide Bung Karno menata Indonesia dengan cara Demokrasi Terpimpin. Bagi Dhani Demokrasi Terpimpin sangat cocok dengan kondisi bangsa Indonesia.   

“Banyak kecocokan diantara kami, karena sama sama tidak hanya berbicara di bidang musik saja, tetapi juga politik, “tulis Guruh.

Adik kandung Ketua Umum PDI Perjuangan itu menilai Dhani bukan hanya musisi, tapi juga pemain politik. Dhani memiliki bakat menyatukan seni dan politik menjadi satu bagian dalam hidupnya.

Faktanya, di Pemilu Legislatif  2019 ini Guruh dan Ahmad Dhani berada dalam gerbong politik yang berbeda. Guruh menjadi calon anggota DPR RI dari PDI Perjuangan, sedangkan Dhani berangkat dari Partai Gerindra.

Satryo Yudi Wahono atau biasa dipanggil Piyu Padi pernah mengatakan gaya Ahmad Dhani bisa menjadi boomerang di suatu hari. Apapun yang over, berlebihan, kata dia akan menjadi penyakit, kelak di kemudian hari.     

Piyu tengah menanggapi gaya public relation Dhani dan kepemimpinannya di Dewa. “Gaya seperti Dhani bisa menjadi boomerang suatu hari, “katanya.

Memang tidak hanya berpengaruh pada Dewa yang gonta ganti personil. Gaya Dhani memang terbukti menjadi boomerang buat dirinya sendiri. Musisi yang sekaligus politisi Partai Gerindra itu ditetapkan tersangka pelanggaran UU ITE, yakni melakukan ujaran kebencian dan pencemaran nama baik.

Dhani dianggap bersalah lantaran menyebut kelompok penolak deklarasi #2019 Ganti Presiden di Surabaya dengan kata kata idiot. Diksi idiot itu disampaikan Dhani saat nge-vlog di lobi Hotel Majapahit Surabaya 26 Agustus 2018 lalu. Selain itu tiga cuitan Dhani di akun twitternya juga menjadi bukti pelanggaran UU ITE.

Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis 1,5 tahun dan langsung menjebloskan Dhani ke dalam rumah tahanan Cipinang Senin (28/1/2019). Dan bukan Dhani kalau tidak memperlihatkan sikap melawan. Sebelum digelandang ke penjara, dia  berseru kepada awak media meminta dipotret.

“Foto saya. Foto saya, “seru Dhani sambil mengacungkan dua jari sebagai dukungan kepada pasangan Capres dan Cawapres nomor 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahudin Uno.

Di akun twitternya Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menyatakan dukungan kepada Ahmad Dhani. Fahri mencuit, penahanan Ahmad Dhani akan membuat elektabilitas capres petahana, yakni Joko Widodo akan turun sampai 5 %.

Disisi lain Fahri juga mengatakan penahanan Dhani membuat Prabowo menemukan momentum kritik.

Fahri menyarankan Prabowo mengeluarkan pernyataan khusus terkait penahanan Ahmad Dhani. Hal itu mengingat Dhani merupakan kader Partai Gerindra.

“Saya mengusulkan Prabowo bikin statement (pernyataan) jika dia berkuasa nanti UU ITE yang disalahgunakan harus disetop, jangan menganiaya kebebasan berpendapat, “ujar Fahri. (*)

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.