READING

Koperasi Bangun Lestari, Tumpuan Peternak Sapi Tul...

Koperasi Bangun Lestari, Tumpuan Peternak Sapi Tulungagung

Di era industri kreatif, koperasi dianggap barang usang. Stigma konvensional membuat pilar ekonomi kerakyatan ini makin tergerus. Namun tidak dengan Koperasi Bangun Lestari, tempat ribuan peternak sapi lokal menembus perusahaan susu nasional.

Tak mudah bagi pengurus Koperasi Bangun Lestari untuk mencari anggota. Rendahnya kepercayaan masyarakat pada koperasi, hingga sulitnya membangun relasi membuat koperasi di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur ini berjibaku mempertahankan usaha.

Koperasi ini dirintis pada tahun 1995 oleh sejumlah peternak sapi perah di Tulungagung. Belakangan koperasi ini melebarkan sayap dan merekrut para peternak sapi di luar Tulungagung seperti Malang, Blitar, Trenggalek, dan Ponorogo. Jumlah anggotanya mencapai lebih dari 1.000 orang, dengan jumlah populasi sapi 5.000 ekor.

Nurdin Afandi, sekretaris Koperasi Bangun Lestari mengisahkan jumlah keanggotaan itu tak diraih dengan membalik telapak tangan. Berbagai pergulatan terjadi dalam pengelolaan koperasi demi memperjuangkan nasib para peternak yang makin tergerus. “Salah satu tujuan koperasi ini adalah memperjuangkan harga jual susu di pasaran,” terang Nurdin kepada Jatimplus.ID, Jumat 18 Oktober 2019.

Dengan kemampuan pengelolaan ternak yang rendah, para pemilik sapi masih harus berjuang menghadapi tengkulak yang tak menginginkan peternak sejahtera. Sementara di satu sisi gempuran susu impor terus membanjiri pasar dalam negeri.

Koperasi Bangun Lestari mulai menarik perhatian setelah sukses bekerja sama dengan perusahaan susu Frisian Flag Indonesia. Tak hanya memberi kepastian harga dan pasar, perusahaan multi nasional itu juga memberi pendampingan pengetahuan dan manajemen bisnis kepada para peternak anggota koperasi.

Mitha Kopiyah adalah salah satu peternak di Desa Penjor, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung yang menuai manis dari keanggotaan koperasi Bangun Lestari. Bukan saja mendulang untung dari sapi perah, perempuan 37 tahun ini juga berkesempatan mempelajari pengolahan sapi di Belanda. “Saya dikirim ke Belanda oleh pengurus koperasi atas peran Frisian Flag Indonesia,” katanya.

Hadiah pelesir itu merupakan buah kerja keras Mitha menjadi peternak sapi perah. Peternakannya terpilih menjadi pemenang ajang kompetisi Farmer2Farmer yang digagas Frisian Flag Indonesia untuk mendorong peternak sapi perah lokal menerapkan good dairy farming practice (GDFP) secara konsisten.

Di lingkungannya di Desa Penjor, Mitha adalah perintis sapi perah. Selama bertahun-tahun, ayahnya dan peternak setempat memilih memelihara sapi pedaging. Padahal sapi jenis itu tak banyak membantu roda perekonomian warga karena dijual 10 bulan sekali.

Peternakan sapi milik Mitha Kopiyah di Desa Penjor, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung. Foto Jatimplus/Hari Tri Wasono

Mitha berjuang merubah pola itu. Bersama suaminya, dia menawarkan kerjasama pemeliharaan sapi perah milik orang lain karena tak mampu membeli sendiri. Kepada pemilik sapi, Mitha menjanjikan pembagian hasil penjualan susu yang diperah setiap hari. Pola itu dilakukan sejak tahun 2014 silam.

Meski menjanjikan, usaha tersebut belum berbuah terlalu besar. Setiap saat Mitha harus memeras otak memikirkan kebutuhan ternaknya yang terus membengkak. Sementara produksi sapi yang dihasilkan cenderung stagnan.

Persinggungan Mitha dengan pengurus Koperasi Bangun Lestari mengubah situasi itu. Perlahan-lahan dia diajarkan tata kelola beternak sapi perah, yang selama ini belum pernah diketahui. Secara rutin pengurus koperasi juga memantau langsung kondisi ternaknya, dan memberi bimbingan hingga pengelolaan bisnisnya.

Mitha mengatakan, sejak bergabung dengan Koperasi Bangun Lestari pada tahun 2017, bisnisnya mengalami pertumbuhan pesat. Tak hanya menekan biaya produksi, Mitha juga sukses menggandakan produksi susu yang sebelumnya 10 liter per hari per ekor, menjadi 18 liter. “Saya banyak mendapat pendampingan dari koperasi,” kata Mitha.

Kondisi ternaknya makin berkembang saat Koperasi Bangun Lestari membangun kemitraan dengan perusahaan susu Frisian Flag Indonesia (FFI). Tak hanya dukungan dokter hewan yang dikirimkan koperasi, Mitha juga berkesempatan menerima bimbingan langsung tenaga ahli dari Belanda atas prakarsa FFI.  

Kini Mitha dapat merasakan buah dari bimbingan itu. Jumlah sapinya telah mencapai 15 ekor. Dari sapi tersebut, Mitha mampu membeli tiga petak tanah yang sebagian ditanami rumput gajah untuk pakan sapi. Sisanya untuk membeli beberapa sepeda motor dan mobil. “Saya beli semua ini dari sapi,” katanya bangga.

Kepala Divisi Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Epi Taufik mengatakan pendampingan yang dilakukan Koperasi Bangun Lestari kepada peternak seperti Mitha sangat dibutuhkan. “Sebab hingga kini masih banyak peternak yang tak memiliki pengetahuan cukup,” katanya.

Minimnya edukasi kepada mereka membuat produktivitas susu yang diperolah tak signifikan. Sementara biaya produksi yang dikeluarkan makin membengkak, terutama pakan. Belum lagi resiko kematian sapi akibat kesalahan tata kelola kandang yang memicu penyakit.

Epi mencontohkan, hingga saat ini banyak peternak yang tak tahu cara memerah sapi yang benar. Alih-alih menjaga kebersihan susu saat diperah, mereka memandikan sapi sebelum diperah. Padahal kotoran dari badan sapi akan terbawa jatuh ke area puting sapi. “Bakteri ini akan mencemari susu ketika diperah,” katanya.

Kesalahan lain adalah pola pemberian minum yang masih dijadwal pagi dan sore. Padahal kebutuhan sapi akan air minum tak boleh berhenti karena sebagian besar kandungan susu adalah air. Kebiasaan-kebiasaan lama para peternak ini yang pelan-pelan dikikis dengan pendampingan koperasi. Sehingga peran koperasi tak hanya berhenti pada menampung dan menjual susu, tetapi mengedukasi peternak mulai hulu hingga hilir.

Jika peran ini mampu dilakukan koperasi, maka stigma konvensional yang disematkan akan terkikis. Dan koperasi akan benar-benar menjadi penyangga ekonomi kerakyatan yang adil dan berkemakmuran.

Penulis : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.