READING

Koperasi Ponpes Tebuireng : Lembaga Pendidikan Sek...

Koperasi Ponpes Tebuireng : Lembaga Pendidikan Sekaligus Pemberdayaan Masyarakat

JOMBANG – Koperasi Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang terus melakukan perubahan agar tetap bertahan digempur perubahan zaman. Perannya di masyarakat pun semakin terasa dan berbaur.

Didirikan 2008, koperasi ini awalnya dikhususkan untuk karyawan yang ada di lingkungan Pondok Pesantren Tebuireng saja. Namun, seiring banyaknya masyarakat yang ingin bergabung, kini mulai menerima anggota dari masyrakat umum.

Penanggung Jawab Koperasi KH M Riza Yusuf menyebutkan jenis usaha koperasi yaitu di bidang konveksi, menyediakan kebutuhan oleh-oleh bagi peziarah ke makam Gus Dur, kantin santri dan simpan pinjam tentunya.

Koperasi menyediakan segala keperluan sekolah ribuan santri Tebuireng terkhusus dibidang tata busana, seperti seragam sekolah lengkap, kerudung, ikat pinggang, sepatu, sandal, kopyah, hingga kasur dan seprei. Selain di bidang konveksi, koperasi juga bergerak di bidang sablon.

Sablon kaos yang paling laris yaitu ada foto Gus Dur, KH M Hasyim Asyari, Nahdlatul Ulama dan dunia pesantren. Kaos ini dijual dari harga Rp 65-100 ribu.

Model penerimaan santri Tebuireng yang dilakukan setiap semester membuat koperasi tak henti-hentinya memproduksi alat kelengkapan santri.

Dalam kaitannya ke masyarakat sekitar, koperasi merekrut para pekerja seperti tukang jahit dan sablon. Sehingga Pesantren Tebuireng ikut serta membuka puluhan lapangan pekerjaan dan meringankan tugas pemerintah.

“Setiap karyawan dan guru di Pesantren Tebuireng kita arahkan untuk gabung koperasi. Setiap bulannya ada setoran wajib,” jelasnya, Sabtu(2/11)

Tujuan awal koperasi untuk memudahkan para santri dan siswa dalam menyiapkan berbagai perlengkapan sekolah di bidang tata busana. Hingga kini tujuan tersebut masih terus dipertahankan.

Segala keperluan santri dapat dijangkau dengan mudah. Mayoritas santri Tebuireng berasal dari luar Jombang dan membutuhkan banyak kelengkapan sehari-hari. Koperasi menyediakan berbagai keperluan sekolah di bidang tata busananya, baik itu seragam sekolah, seragam olahraga, hingga sepatu.

Awal berdiri pada 2008, pengurus punya ide dengan mengajukan proposal kepada Dinas Koperasi Jombang dan ternyata disetujui.

Tidak lama setelah pengajuan, proposal mendapat persetujuan dari Dinas Koperasi beserta mendapat bantuan dana sebesar Rp 250 juta.

Koperasi ini dulunya juga bertujuan untuk melatih para santri dan para siswa agar lebih terampil sehingga bisa mandiri di masyarkat.

“Lokasinya di dekat pondok putri Tebuireng,” tambahnya.

Melihat perubahan menjadi suatu keniscayaan, Koperasi Tebuireng mulai merambah konveksi. Hal ini setelah adanya pemberitahuan dari Nyai Hj Farida Salahuddin, selaku Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Sejak saat itu, koperasi di bidang konveksi ini semakin berkembang.

Selanjutnya, koperasi ini terus berkembang dalam bidang produksi dan sumber daya manusianya, yang mana pada saat ini masyarakat sekitar juga ikut terjun mengelola.

Ini suatu hal unik, karena pesantren selain berperan sebagai lembaga pendidikan dan dakwah ternyata juga bisa berperan sebagai pemberdayaan masyarakat.

Umumnya pesantren di Indonesia hanya mengambil peran tarbiyah (pendidikan) dan dakwah saja. Ini tentu bisa ditiru oleh insan pesantren di Indonesia.

“Koperasi mulai merambah ke masyarakat sekitar. Dengan mendapat respon yang baik dari masyarakat, meskipun tidak sepenuhnya, pihak koperasi terus berupaya meningkatkan sumber daya manusianya,” kata Riza

Dalam rangka meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) para pekerja dan masyarakat, pihak penanggung jawab dan pengelola koperasi mengadakan sejumlah pelatihan di Tempat Praktek Ketrampilan Usaha (TKPU) yang telah berjalan selama satu tahun terakhir.

Pada tahun 2016 pihak pengelola mengajukan proposal kepada pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng untuk membangun lokasi sendiri. Ada dua faktor yang mendasari, satu karena melihat semakin meningkatnya produksi dan pemesanan sehingga membutuhkan tempat yang luas, dua karena faktor kegiatan konveksi yang sempat mengganggu kegiatan lembaga sekolah.

Setelah menimbang lokasi yang tepat, akhirnya pada tahun 2016 Pondok Pesantren Tebuireng membangun gedung baru tepat di depan Pondok Pesantren Putri  Tebuireng Jombang. Pembangunan gedung ini menghabiskan uang sekitar 350 juta.

“Alhamdulilah aset kita sudah ratusan juta,” tambahnya.

Pemasaran barang

Koperasi mempunyai 50 stan yang berada di sekitar Komplek Makam Gus Dur di Tebuireng. Sehingga pemasarannya meliputi masyarakat sekitar Jawa Timur dan konsumen dari luar Jawa bahkan luar negeri.

Stan dibuka khusus untuk anggota dengan ongkos sewa Rp. 2,5 juta pertahun. Ini sangat murah dibandingkan pendapatan hasil jualan.

Para peziatrah ke makam Gus Dur menjadi pembeli utama. Jika sedang rame maka setiap bulan penyewa stan bisa menghasilkan puluhan juta rupiah.

“Sabtu dan Ahad kadang kita dapat 2-3 juta perhari,” ujar Sugeng salah satu pemilik stan.

Pengunjung makam Mantan Presiden RI-4 ini tak pernah sepi. Setiap hari ada belasan ribu hingga puluhan ribu peziarah. Ini menjadi fenomena tersendiri juga bahwa komplek makam Gus Dur paling ramai dibandingkan makam presiden lainnya, termasuk Soekarno.

“Pengunjungnya paling ramai ya bulan maulid, rajab, dan libur nasional. Semua pemeluk agama nampaknya pernah kesini. Belanja juga,” ceritanya.

Sugeng mengaku sangat terbantu dengan sistem kerja koperasi Tebuireng yang sangat terbuka dan mengayomi anggota. Hal juga membuat ia bisa terhindar dari jeratan rentenir saat meminjam uang untuk modal.

“Sifatnya kekeluargaan, jadi aman dan tidak khawatir,” tandasnya.

Reporter: Syarif Abdurrahman
Editor: Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.