READING

Kopi Biji Salak Alternatif Kopi Tanpa Kafein

Kopi Biji Salak Alternatif Kopi Tanpa Kafein

 JOMBANG – Menikmati seduhan bubuk  biji kopi sudah menjadi kebiasaan bagi mayoritas masyarakat di Indonesia. Tidak hanya laki-laki, sejumlah perempuan juga banyak yang menikmati, nikmatnya menyeruput kopi. Namun tahukah Anda ternyata tidak hanya biji kopi yang bisa dijadikan minuman kopi. Di Jombang  seorang pelaku usaha yang prihatin dengan banyaknya biji salak, memproduksi  kopi dari biji salak. Rasa dan khasiatnya ternyata tidak kalah dengan kandungan biji kopi yang sudah menjadi produk andalan negeri ini.

 Buah salak yang memiliki nama latin Salacca zalacca. Buah yang hidup di kawasan tropis seperti Indonesia ini merupakan jenis buah berduri yang memiliki daging berwarna putih gading  dan memiliki kulit berduri. Di dalam kulit daging buah ini ada biji yang cukup keras yang biasanya dibuang setelah dimakan. Namun di tangan Kuswartono, warga Desa Kedungrejo, Kecamatan Megaluh, Jombang, biji salak ini dikumpulkan dan di sulap jadi minuman seduh kopi biji salak. 

 Dibantu  empat pekerja, setiap pagi Kuswartono sibuk  memilah biji salak kering. Biji salak yang di dapatkan dari petani salak ini disortir antara  biji berkualitas baik dan  yang tidak. Sebelum digiling, biji salak dimasukan ke mesin oven untuk proses pengeringan.  “Proses oven ini untuk menyempurnakan biji salak setelah di jemur di bawah terik matahari,” ujar Kuswartono pemilik usaha kopi biji salak kepada Jatimplus.ID.

 Setelah proses oven dengan suhu tertentu biji salak langsung dikeluarkan untuk proses penggilingan. Dalam penggilingan biji salak ini dimasukan dalam mesin yang biasa digunakan menggiling biji kopi. Untuk prosesnya,  sama dengan proses pembuatan  biji kopi.

Pemilik usaha ini biasa mendapatkan  suplai dari petani salak di wilayah Kecamatan Tembelang. Di kecamatan ini, salak sudah ditanam sejak puluhan tahun silam. Saat panen rasa yang biasanya dijual di pinggir jalan raya Jombang-Lamongan. Pembeli  langsung memakan dan membuang biji salaknya.  Tidak jarang salak-salak yang tidak laku biasanya membusuk dan dibuang. “Ide membuat biji salak menjadi kopi muncul karena banyak salak di desa saya, namun sepi pembeli. Rasa prihatin itulah yang memaksa saya untuk berpikir kreatif, agar salak asli daerah ini bisa tetap bertahan,” kisahnya.

 Akhirnya Kuswarto melakukan uji coba membuat berbagai olahan dari salak. Ide pertama muncul adalah kopi dari biji salak. Setelah melakukan beberapa eksperimen, akhirnya dia berhasil membuat kopi dengan takaran yang pas. Agar tak di anggap asal-asalan, ia pun melakukan uji nutrisi, mengurus izin edar hingga sertifikasi halal. ”Setelah berhasil melakukan uji nutrisi dan mendapatkan ijin edar, akhirnya saya mulai memproduksi dalam jumlah banyak,” jelasnya.

 Dari segi rasa kopi salak ini memiliki rasa tak jauh berbeda dengan kopi pada umumnya. Namun ada rasa sedikit asam dan aroma khas harum buah salak.  Selain rasa, biji salak ini memiliki manfaat  pada kesehatan. Mulai dari menambah stamina, rematik hingga darah tinggi. ”Sesuai dengan referensi yang saya baca memang seperti itu. Apalagi, di olahan saya tidak ada campuran bahan pengawet. Jadi aman,” jaminnya.

Dalam beberapa literatur, biji salak mengandung air, selulosa, pati, karbohidrat, lemak dan protein. Beberapa kandungan dalam biji salak tersebut memiliki manfaat yang apabila dikonsumsi, diantaranya  bisa mengatasi asam urat, mencegah hipertensi,  meningkatkan kerja otot hingga menambah tenaga. “Saat ini selain memproduksi biji salak, saya juga mengolah buah salak menjadi dodol salak hingga kulitnya menjadi teh daun salak,” urainya sambil  menyebutkan semua produk berbahan dasar buah salak ini diproduksi demi untuk mempertahankan keberadaan petani salak di daerahnya.

 Reporter: Lufi syailendra
Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.