READING

Koran Ini Mustahil Terbit di Indonesia

Koran Ini Mustahil Terbit di Indonesia

Iklim demokrasi yang berlaku di Indonesia telah membuka ruang informasi hingga tanpa batas.  Namun begitu, ada satu media massa yang tak akan pernah diterbitkan lagi di Indonesia dengan alasan terlarang, yakni Harian Rakyat.

Pernah terbit dan mendominasi ruang informasi masyarakat Indonesia, Harian Rakyat akhirnya tumbang untuk selama-lamanya. Berbeda dengan sejumlah media massa yang muncul kembali usai dibredel seperti Detik dan Tempo, Harian Rakyat bernasib tragis. Sejak ditutup paksa usai tragedi 30 September 1965, media cetak ini tak pernah terbit kembali hingga kini.

Paska peristiwa 30 September 1965 atau yang biasa dikenal dengan tragedi 30-S/PKI, semua hal yang terkait dengan Partai Komunis Indonesia dilarang. Mulai perbukuan, penerbitan koran, wartawan, hingga sastrawan pun dicekal dan dihilangkan. Tidak terkecuali koran Harian Rakyat yang selalu memuat karya-karya sastra buah pemikiran sastrawan Lekra.

Dalam buku berjudul Lekra Tak Membakar Buku yang ditulis Muhidin M. Dahlan dan Rhoma Dwi, disebutkan jika Koran Harian Rakyat yang dikenal identik dengan PKI pun tak bisa lepas dari beberapa tokoh partainya. Seperti pernyataan D.N. Aidit, pimpinan PKI yang menyebut bahwa pembaca Harian Rakyat berasal dari berbagai kalangan. Tak hanya kaum buruh, tetapi juga pemuda-pemudi serta polisi dan tentara yang membeli eceran HR (Harian Rakyat).

Begitu pula Njoto, wakil ketua II PKI sekaligus pimpinan redaksi Harian Rakyat yang menerangkan bahwa pembaca HR selain kaum kiri adalah kaum tengah. “Dan djangan lupa bahwa djuga kaum kanan membatja HR (Harian Rakyat), sekalipun sembunji2,” terang Njoto.   

Harian Rakyat yang semula bernama Suara Rakyat terbit pertama kali pada 31 Januari 1951. Jargon yang diusung HR adalah “untuk rakyat hanya ada satu harian, Harian Rakjat”.

Kliping Harian Rakyat. Foto Repro: M. Fikri Zulfikar

Berkantor di Pintu Besar Selatan No. 93 dengan dewan redaksi Njoto dan direksi Haibaho, koran ini menjadi terompet Partai Komunis Indonesia. “Adapun jurnalisme yang diusung oleh HR adalah jurnalisme konfrontasi dengan bahasa yang meledak, tembak langsung, jambak, sikat, dan pukul di tempat,” terang Muhidin dalam bukunya.

Busjari Latif penulis buku Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI  (1920-1965) juga menerangkan gaya bahasa koran ini dipengaruhi oleh kemajuan Marxisme pada saat itu. Hal itu seperti yang dilakukan koran-koran kiri revolusioner pendahulunya seperti Sinar Hindia, Api, Njala, Mawa, dan lainnya.

“…kemadjuan marxisme, telah turut pula mempengaruhi perkembangan bahasa Indonesia, tetapi dalam hal “gaja-bahasa. Gaja jang serbaruwet, berbelit2 dan kabur, adalah pentjerminan daripada klas2 jang dekaden, tetapi gaja bahasa jang hemat, lintjhah dan terusterang dengan tidak mengabaikan kemesraan dan kehalusan rasa-bahasa, adalah bahasaja Rakyat jang dikerangkai oleh Marxisme/Leninisme…,” paparnya.    

Tak hanya memuat berita-berita lokal maupun internasional, HR juga memuat berbagai karya sastra di rubrik kebudayaan. Setiap minggunya akan dijumpai karya sastra berupa cerpen, cerbung, cerita anak, hingga puisi yang mewarnai isi koran kiri ini.

Untuk porsi pemuatan cerpen, SR memberi kesempatan lebih luas. Muhidin menyebut jiak biasanya cerpen ‘mainstrem’ hanya mendapat jatah pemuatan setiap akhir pekan atau sekali dalam sepekan di surat kabar nasional, Harian Rakyat nyaris saban hari memuatnya.

Kliping Harian Rakyat. Foto Repro: M. Fikri Zulfikar

Hal ini terjadi pada medio 1961 dimana banyak karya sastra antri untuk dipublikasikan. “Akan absen beberapa hari bila ada hal-hal penting atau pidato-pidato yang memerlukan jumlah tempat yang luas pemuatannya,” terang Muhidin dalam bukunya yang lain berjudul Laporan Dari Bawah.

Karena porsi pemuatan rubrik budaya, terutama dalam menampilkan karya-karya sastra yang begitu besar, media massa ini banyak menuai penghormatan berbagai kalangan. Harian Rakyat dianggap sangat peduli terhadap isu-isu kebudayaan.

Salah satunya adalah H.B Jassin (dalam Yuliantri & Dahlan, 2008:5). Pria yang dijuluki Paus Sastra ini  memberikan testimoni bahwa Harian Rakyat adalah satu-satunya koran yang memberikan tempat bagi dunia sastra di tempatnya yang terhormat. Walaupun kini riwayat koran Harian Rakyat sudah tamat, koran ini masih bisa dibaca di Perpustakaan Nasional sebagai koleksi sejarah. (M. Fikri Zulfikar)


Editor : editor posting Reporter : Reporter posting Visual editor : Visual posting

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.