READING

Kota Kediri Masih Alami Inflasi Meski Diterpa Pand...

Kota Kediri Masih Alami Inflasi Meski Diterpa Pandemi

KEDIRI – Di tengah wabah virus corona, banyak daerah yang perekonomiannya mengalami kelesuan. Hal ini terlihat dari data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri yang menunjukkan bahwa Jatim secara umum mengalami deflasi di Bulan April sebesar 0,12 persen.

Namun hal ini tidak berlaku di Kota Kediri. Di Bulan April, Kota Tahu masih menunjukkan trend yang positif yakni inflasi sebesar 0,08 persen. Angka ini membuat Kota Kediri menjadi daerah dengan inflasi tertinggi ketiga setelah Banyuwangi dan Sumenep.

Atas kondisi ini, Adi Wijaya, Kasi Statistik dan Distribusi, BPS Kota Kediri menganggap hal ini sebagai hal yang normal. “Hal ini menurut saya masih wajar. Karena di daerah lain deflasi karena tiket pesawat dan angkutan umum turun drastis akibat kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar, red),” terang Adi kepada Jatimplus.ID melalui pesan Whatsapp.

Di Kota Kediri, harga-harga yang mengalami fluktuasi masih didominasi oleh bahan-bahan makanan. Komoditas pemicu inflasi berasal dari gula pasir, bawang merah, mie jadi, buah pisang, buah duku, dan jus buah siap saji. Komoditas lain yang juga menjadi pemicu adalah harga emas, parfum, sabun mandi, dan krim wajah.

Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga adalah daging ayam ras, bawang putih, cabai merah, dan telur ayam. Tidak hanya itu, ada pula buah naga, alpukat, tempe, kentang, dan daging sapi. “Dari temuan tim BPS di lapangan, permintaan masyarakat terhadap makanan jadi masih tinggi akibat tutupnya restoran dan kedai-kedai makanan,” tambah Adi.

Pola konsumsi makanan jadi ini membuat inflasi Kota Kediri tahun ini tidak berbeda jauh dengan dua tahun sebelumnya. Dari data yang disajikan BPS, Kota Kediri mengalami inflasi sebesar 0,14 di tahun 2018, dan 0,36 di tahun 2019. Padahal saat itu situasi sedang normal tanpa ada wabah penyakit. Dengan kondisi di tahun 2020, gap atau perbedaan inflasi yang terjadi dengan tahun-tahun sebelumnya tidak terlalu besar.

Adi mengingatkan bahwa kondisi inflasi saat ini bukan hal yang positif jika terus-terusan terjadi di tengah wabah. Pasalnya daya beli masyakarat semakin menurun akibat pemotongan gaji dan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Para pelaku usaha juga mengalami penurunan penjualan sehingga daya beli mereka pun menurun.

Jika inflasi masih terus terjadi di Kota Kediri, dikhawatirkan masyarakat justru tidak bisa mengakses kebutuhan bahan makanan yang menjadi kebutuhan pokok selama masa pandemi. “Inflasi Bulan April masih dalam tahap wajar. Tapi jika terus terjadi, bisa memberikan efek negatif bagi daya beli masyarakat,” tandasnya.

Hingga saat ini, belum diketahui kapan wabah covid-19 ini berakhir. Makanya ketersediaan barang pabrikan yang dibutuhkan masyarakat selama wabah ini menjadi hal yang harus diwaspadai. Ditambah lagi Umat Muslim hendak merayakan Idul Fitri di Bulan Mei nanti. Membuat harga bahan pokok juga harus tetap diperhatikan stoknya.

“Peluang inflasi masih sangat mungkin terjadi, tapi harapannya tidak terlalu tinggi mengingat daya beli masyarakat menurun,” pungkasnya. (pro/Dina Rosyidha)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.