READING

KunyAh in, Keripik Tempe Milenial Asal Kota Kediri

KunyAh in, Keripik Tempe Milenial Asal Kota Kediri

KEDIRI- Kemasan ternyata menjadi magnet para pembeli. Ketika melihat pertama kali, pembeli akan tertarik dengan kemasannya. Biasanya kripik tempe hanya dibungkus plastik tebal transparan, produk Sri justru menggunakan plastik putih tebal dan berbentuk kekinian. Sama seperti bungkus chips dan cemilan modern lainnya.

Nama mereknya pun unik dan mudah diingat. “KunyAh in, Tempe Chips” begitu yang tertera di bungkusnya. Bentuk hurufnya lucu meski tanpa memerhatikan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Sangat milenial.

Konsumen tidak hanya dimanjakan dengan tampilan luarnya saja. Ketika penulis artikel ini mencoba testernya pertama kali, rasanya sangat enak, gurih dan renyah. Tidak terlalu keras hingga sampai melukai dinding mulut dan tidak ada rasa pahit yang terkadang tersisa di akhir kunyahan.

Bentuknya pun cukup sempurna. Bulat pipih dengan diameter sekitar 4 cm. Ukuran ini sangat pas dengan rongga mulut orang dewasa sehingga tidak menimbulkan remahan ketika memakannya karena tidak perlu menggigit produk.

“Ini ide anak saya mbungkusnya seperti ini,” terang Sri Wahyuningsih, pemilik kripik tempe KunyAh in.

Sri Wahyuningsih, pemilik kripik tempe KunyAh in.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Dina Rosyida

Awalnya, Sri tidak terlalu berniat untuk membuka usaha keripik tempe meski dirinya tahu bagaimana membuat tempe. Maklum, perempuan asal Ngawi ini sering melihat orang tuanya memproduksi tempe secara mandiri. Ngawi merupakan salah satu sentra tempe kripik di Jawa Timur. Hingga akhirnya Sri pun tertarik untuk mencobanya ketika pindah ke Kota Kediri.

“Saya baru memulai usaha di tahun 2014 lalu setelah ikut pelatihan dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Kediri,” terangnya.

Perempuan yang kini tinggal di Kelurahan Manisrenggo, Kota Kediri tersebut kemudian mencoba membuka usaha pembuatan tempe. Ternyata hasilnya cukup baik bahkan lebih enak dari pada tempe yang dibuat orang tuanya.

“Pernah dikomentari orang tua saya katanya lebih enak tempe sini. Mungkin karena efek kualitas airnya berbeda,” tambahnya.

Agar tempe yang dibuatnya tidak mudah rusak dan basi, Sri pun lebih memilih menjual produk olahan tempe yakni berupa keripik. Pada tahun 2015, ibu tiga anak tersebut mulai mengurus perizinan, PIRT hingga label halal.

Saat itu produknya masih cukup sederhana. Sama seperti keripik tempe pada umumnya yakni menggunakan bungkus plastik tebal khas oleh-oleh. Namun akhirnya anak keduanya membantu dalam penjualan. Dia pula yang membuat desain, bahan dan bentuk bungkusnya. Sehingga kini konsumennya tidak hanya dari orang-orang tua saja.

“Banyak rekan-rekan kuliahnya yang kerapkali memesan keripik tempe. Saya juga dibantu berjualan via online,” terangnya.

Setiap harinya, Sri bisa menghabiskan 50kg tempe mentah. Selain dijual melalui daring dan pesanan langsung, produk juga di-drop ke beberapa pusat oleh-oleh dan rumah makan yang sudah diajak bekerjasama. Sehingga proses produksi bisa rutin dilakukan karena sudah memiliki pasar yang jelas.

Karena biaya bungkus kekinian cukup mahal, Sri tetap memproduksi keripik dengan bungkus yang konvensional dengan merek lamanya yakni A-Syifa. Segmentasi pasarnya dibedakan. Untuk bungkus kekinian, harganya dipatok Rp 10 ribu per bungkus dengan berat bersih 80 gram. Produk ini untuk dijual daring dan oleh-oleh anak-anak muda.

Sedangkan untuk bungkus  yang konvensional, untuk produk dengan berat 150 gram dijual Rp 10 ribu per bungkus. Sedangkan untuk produk dengan berat 250 gram dijual Rp 15 ribu per bungkus. Pilihan rasanya ada barbeque, pedas, balado dan original.

“Yang paling disenangi yang rasa original,” pungkasnya.

Reporter: Dina Rosyidha

Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.