Kutukan Raja Kadiri Untuk Presiden

KEDIRI – Kisah kutukan Prabu Jayabaya kepada para pemimpin nasional yang menginjak tanah Kediri masih menjadi misteri. Dipercaya atau tidak, hingga kini tak ada satupun presiden yang berani melanggar pantangan itu.

“Satu-satunya presiden yang berani ke sini untuk membuktikan hanyalah Gus Dur (Abdurrahman Wahid). Beliau akhirnya lengser juga sebelum masa jabatannya habis,” kata Suratin, juru kunci Sendang Tirta Kamandanu yang menjadi bagian kompleks makam Sri Aji Jayabaya.

Sejak bertahun-tahun lalu kompleks yang menjadi petilasan atau jejak Raja Kadiri ini dikultuskan oleh masyarakat luas. Tak hanya warga Kediri, peziarah dari berbagai daerah di Indonesia hilir mudik di tempat ini untuk berdoa. Mereka meyakini jika kebesaran dan kemegahan Kerajaan Kadiri di masa lalu bersumber dari tempat ini.

Berada di Desa Pamenang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, kompleks petilasan ini menjadi ikon wisata sejarah terkenal. Para peneliti dan pelajar kerap menjadikan tempat tersebut sebagai obyek penelitian sejarah. Ini lantaran kejayaan Kerajaan Kadiri di masa lampau sangat terkenal.

Kedahsyatan sosok Prabu Jayabaya ini pula yang memunculkan keyakinan masyarakat tentang pemimpin nasional. Mereka meyakini jika presiden siapapun yang datang ke tempat itu dipastikan runtuh. “Kalau sedang menjabat pasti runtuh. Karena Sri Aji Jayabaya tak mau disaingi,” kata Suratin.

Entah dipercaya atau tidak, faktanya sejak dulu hingga sekarang tak pernah ada satu pun Presiden Republik Indonesia yang menginjakkan kaki di Kediri. Mereka lebih menyukai singgah di daerah sekitar seperti Tulungagung dan Nganjuk. Padahal dinamika Kota Kediri jauh di atas daerah lain.

Juru kunci berusia 74 tahun ini menambahkan jika lokasi yang dia rawat telah menjadi tumpuan spiritual masyarakat selama bertahun-tahun. Mereka datang untuk berdoa dan mencari ketenangan jiwa di kala menghadapi persoalan berat.

Di luar kepercayaan itu, suasana di Sendang Tirta Kamandanu dan petilasan Sri Aji Jayabaya memang terasa mistis. Sendang Tirta Kamandanu bahkan memiliki tempat khusus untuk berdoa bagi para peziarah.

Menurut Suratin, ada sejumlah tata cara untuk berdoa di tempat itu. Pertama adalah membersihkan diri dengan air sendang yang berada di balik tempat berdoa. Air sendang yang ditanggul itu juga mengalir ke beberapa bilik mandi. Para peziarah bisa membasuh tubuh di dalam bilik sebelum melakukan doa di petilasan Srigati. “Dia adalah abdi kinasih Prabu Jayabaya,” terang Suratin.

Tak dibutuhkan syarat khusus untuk berdoa di petilasan Srigati. Pengunjung bebas melakukan doa tanpa harus membawa syarat apapun. Bagi pengunjung yang ingin didampingi saat berdoa bisa meminta jasa Suratin. Tak jarang aroma dupa menyelimuti tempat itu saat para peziarah melakukan doa.

Suratin menegaskan para peziarah yang datang ke tempat itu tak memiliki sifat musyrik. Mereka tetap berdoa kepada Tuhan sesuai keyakinan masing-masing. Hanya saja perasaan tenang dan fokus untuk berdoa berada di tempat itu.

Seorang perempuan paruh baya yang ditemui Jatimplus di lokasi sendang tak mau menceritakan maksud kedatangannya. Usai membasuh badan dengan air sendang, dia meminta Suratin menemaninya berdoa. Cukup lama prosesi berdoa yang mereka lakukan di petilasan Srigati. Meski berbeda lokasi, namun doa yang dilakukan di petilasan Srigati sama takarannya dengan berdoa di makam Sri Aji Jayabaya.

Perempuan berambut panjang itu langsung pergi meninggalkan tempat usai berdoa. Suratin enggan menjelaskan maksud kedatangan tamunya ke tempat itu. Menurut dia hal itu menjadi privasi para tamu yang tak bisa diumbar ke orang lain.

Di tahun politik ini, banyak politisi yang mulai mendatangi tempat itu. Biasanya hal ini dilakukan para calon legislator dari partai manapun. Dengan mendatangi petilasan Siri Aji Jayabaya, mereka berharap peruntungan dalam pencalonan mendatang.

Demikian pula para pejabat pemegang wilayah yang bertugas di Kediri dipastikan singgah di tempat ini. Kalaupun tak meyakini kisahnya, mereka penasaran dengan nilai sejarah tentang kejayaan Kerajaan Kadiri. (*)

 

 

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.