READING

Latief Suwignya: Tenun Kita Masih Bergantung Impor

Latief Suwignya: Tenun Kita Masih Bergantung Impor

Sesosok pria renta menarik perhatian pengunjung Dhoho Street Fashion 2018 di Taman Sekartaji Kediri Kamis 13 Desember 2018. Mengenakan kemeja batik biru, kakek berkulit putih itu duduk tepat di samping Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar. Keduanya tampak berbicara serius saat para peragawan dan peragawati berjalan di depan mereka mengenakan busana rancangan Didiet Maulana dan Lenny Agustin.

Dia adalah Latief Suwignya. Seorang maestro tenun yang telah menggeluti industri kerajinan tenun sejak jaman pra kemerdekaan. Meski tak pernah muncul sebagai selebritas di industri tekstil kekinian, nama Latief Suwignya tak bisa dihapus dari linimasa tenun Indonesia. Dia adalah kamus hidup kerajinan tenun yang pernah mencecap pendidikan formal di sekolah tekstil Belanda.

Jatuh bangun merawat industri tenun sudah dilewati Latief Suwignyo dan keluarganya sejak tahun 1939 di Kediri. Kini, setelah puluhan tahun menepi dari hiruk pikuk industri tekstil, Latief Suwignya memiliki harapan besar pada bangkitnya tenun ikat Kota Kediri.

Kepada Jatimplus, kakek yang sudah tak mampu berdiri lama ini mengisahkan kedekatannya dengan tenun ikat Kediri. Dia berharap kelak akan lahir penenun muda yang memiliki bakat dan dedikasi besar kepada budaya leluhur.

Sejak kapan Anda menggeluti tenun ikat?

Tenun ikat ini adalah warisan orang tua saya. Sejak tahun 1939, saat masih berusia tiga tahun, orang tua saya sudah merintis usaha ini di Kediri. Saat itu sentra tenun hanya ada di Bandar Kidul.

Anda belajar tenun secara otodidak?

Selain belajar dari orang tua, saya mendapat kesempatan dikirim ke Belanda untuk belajar tekstil. Saat itu ilmu tekstil di sana sudah sangat maju, sudah besar-besar.

Apa yang Anda pelajari di Belanda?

Di Belanda ada banyak beberapa jurusan ilmu pengetahuan soal tekstil. Seperti teknik spinning (pemintalan), weaving (menenun), dan dyeing (pencelupan). Saya mengambil ilmu dyeing. Di sana saya juga belajar bagaimana mengubah kapas menjadi benang. Selain katun ada juga ilmu lain berbahan wool. Sebab di Eropa ada empat musim. Namun saya tidak ambil itu.

Bagaimana industri tenun di Indonesia?

Di sini industri tenun sangat tidak stabil. Tenun itu adalah industri yang sangat bergantung pada bahan impor. Benang dan wenternya (pewarna) impor. Kalau sewaktu-waktu harga naik bisa buntung. Saya pernah mengalami masa ketika tidak ada hujan tidak ada angin tiba-tiba bangkrut akibat harga benang naik.

Apa solusinya?

Saya bilang ke Pak Wali Kota (Abdullah Abu Bakar), harus ada yang nalangi untuk kebutuhan bahan baku benang. Setiap perajin harus didata satu per satu, berapa kebutuhan benang mereka selama setengah tahun. Nanti bank atau koperasi yang akan memenuhi stok itu sebelum produk mereka terjual.

Bagaimana nilai jual tenun Kediri?

Secara umum kualitas tenun ikat Kediri, terutama Kelurahan Bandar Kidul sudah bagus. Banyak perkembangan baik teknik maupun kualitas. Namun sebenarnya masih bisa dinaikkan lagi untuk brightness (kecerahan) warnanya.

Selain itu soal cuaca masih jadi kendala para perajin tenun. Kalau sudah mendung seperti sekarang ini, benang tidak akan kering, terutama benang pakan. Kalau tidak kering betul dan buru-buru dipakai, hasilnya akan njebret.

Bagaimana industri tenun nasional?

Tentu sudah jauh lebih maju di bandingkan era saya. Kini tenun kita sudah bisa dipakai oleh desainer kelas berat seperti yang kita lihat (Lenny Agustin dan Didiet Maulana). Desainer muda bermunculan, seperti pelajar SMK. Nanti kalau bandara (Tarokan) sudah jadi, saya gak bisa bayangkan bagaimana majunya industri ini.

Kita juga punya pabrik tekstil terbesar di Asia Tenggara yaitu Sritex. Kita harus bangga dengan pabrik ini karena produknya sudah dipakai oleh 43 negara. Jerman barat yang memiliki kecanggihan teknologi sampai saat ini juga masih mengimpor seragam militer dari Sritex. Satu-satunya lawan kita adalah Belgia. (*)

 

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.