READING

Leonardo DiCaprio dan Komentar-Komentar Halu di IG...

Leonardo DiCaprio dan Komentar-Komentar Halu di IG Nicholas Saputra

Hutan Amazon di Brazil terbakar, demikian berita akhir-akhir ini di media massa. Memang, letak Amazon jauh dengan Indonesia, namun dalam melihat peristiwa lingkungan sebetulnya sudah tak ada batas geografis. Sebab kita hanya punya satu bumi. Apalagi Amazon merupakan paru-paru dunia. Sejumlah 20% oksigen di dunia diproduksi oleh hutan terlebat di muka bumi ini.

Oleh sebab itu, melalui akun Instagram-nya, Leonardi Dicaprio, aktor yang juga aktivis lingkungan sempat protes (21/8/2019). Ia menulis, mengerikan memikirkan bahwa hutan Amazon, hutan tropis terbesar di planet ini, yang memproduksi 20% oksigen di bumi, yang pada dasarnya sebagai paru-paru dunia, terbakar selama 16 hari terakhir. Nyatanya, tak ada media yang melaporkan! Kenapa?

Sebetulnya, beberapa media luar pun sudah memberitakan. Salah satunya livescience yang menuliskan bawah langit di Sao Paulo, Brazil pada tanggal 19 Agustus 2019 seperti di Mondor dalam film The Lord of the Rings. Artikel ini mengatakan bahwa kebakaran hutan Amazon karena faktor manusia.

Memang, berita dari banyak media ternama muncul setelah unggahan Leonardo Di Caprio. Mulai dari The Guardian, BBC, CNN, Aljazeera dan banyak media lainnya sampai pada berita bahwa Leo menyumbang US 5 juta dolar untuk melindungi hutan Amazon dengan meluncurkan program mendadak The Amazon Forest Fund melalui LSM Earth Alliance. Di Instagram-nya pun terus muncul foto-foto kebakaran hutan Amazon tanpa jeda, menunjukkan fokus Leo pada hutan ini.

Leo memang aktivis lingkungan yang tak hanya mejeng, jadi duta ini itu, dan keras berkoar. Ia betul-betul mendukung program lingkungan melalui berbagai cara. Mulai dari donasi dari sebagian kekayaannya, mendirikan Leonardo DiCaprio Fondation, pembuatan film dokumenter yang sangat serius dan sarat data namun enak ditonton. Film tersebut yaitu The Eleventh Hour (2007) dan Before The Flood (2016). Keduanya merupakan film yang bercerita tentang kerusakan lingkungan hingga perubahan iklim.

Nah, dalam Before The Flood ini, Indonesia tampil di sana. Sayangnya dalam versi yang tak asyik yaitu habisnya hutan Indonesia. Fokus Leo terhadap Indonesia bukan hanya sekali saja. Ia sampai sungguh-sungguh datang ke Aceh (ekosistem hutan Leuser) untuk bertemu dengan hutan dan orangutan di sana dan tentu saja dengan para penggerak lingkungan di lokasi.

Meski kemudian kedatangan Leo ini sempat bikin gerah beberapa pemegang kebijakan. Tentu saja yang bermasalah bisa lingkungan yang rusak dipermasalahkan di tingkat dunia. Leo sempat diisukan akan dideportasi jika menyalahi izin visa sebagai pelancong tapi tak memberi komentar bagus soal negeri yang didatangi. Tentu saja hal ini tak beralasan, sebab kenyataannya, Leo di sana hanya dua hari lalu pergi lagi, jadi kalaupun bermasalah, belum sempat dideportasi sudah pulang sendiri. Pun tak ada soal ketika seorang pelancong memberi kesan pada tempat yang dituju. Bila kesan buruk, mestinya menjadi koreksi bagi para pemegang kebijakan. Apalagi penulisnya adalah seorang Leonardo DiCaprio yang juga memberi komentar pada bidang yang ia tekuni, lingkungan.

Selain itu, Leo juga pernah mengomentari soal pengelolaan sampah di Bantar Gebang. Hal ini juga sempat menjadikan heboh pemberitaan nasional. Kok kesannya Indonesia jelek melulu di mata indahnya ini.

Sebenarnya tidak. Indonesia pun dipuji oleh Leo, khususnya Bu Susi Pujiastuti yang berhasil mengamankan perairan Indonesia dari illegal fishing. Berkat kerja Bu Susi, perairan Indonesia aman sehingga kini Indonesia menjadi eksportir tuna terbesar di dunia. Jadi, Leo cukup obyektif. Jika ada prestasi yang bagus, ia pun tak segan memuji.

Mengapa Leo begitu penting? Karena dia terkenal dan menyuarakan kasus lingkungan. Isu lingkungan pada awalnya hanyalah isu yang sambil lalu. Bahkan dalam pemberitaan pun (ketika masih cetak) berada di pojok nyempil seperti iklan baris. Maka butuh selebritas untuk menyuarakan. Dulu organisasi dunia semacam WWF, CI, dan NGO lain yang tak sempat masuk ke Indonesia selalu punya selebritas untuk mengampanyekan isunya. Agar lebih banyak didengar dan lebih banyak masyarakat peduli. Leo pun pernah jadi duta WWF untuk urusan harimau.

Kini, perkembangan sungguh menggembirakan. Hidup ramah lingkungan sudah menjadi gaya hidup. Sekira awal tahun 2000-an, go green menjadi keren. Meski permasalahan masih belum terurai sampai akar, minimal masyarakat sudah peduli dan merasa sedikit bersalah bila ikut menyumbang kerusakan lingkungan. Besar harapan tentu saja, selebritas di Indonesia akan banyak yang seperti Leo. Tak hanya sekadar menjadi duta, tapi dia sendiri juga sebagai aktivis yang mandiri, berkarya untuk lingkungan.

Kadang-kadang penulis ini iseng membandingkan IG Leo dan IG Nicholas Saputra. Meski perbandingan macam ini bisa tak apple to apple jika dibanding wilayah, tapi bisa sama toh sama-sama idola para fans-nya. Nico adalah satu selebritas Indonesia yang kerap kali menyerukan hidup ramah lingkungan. Ia pun konsen dengan suaka gajah di Tangkahan dan bikin film dokumenter di sana. Nico tentu saja keren. Hanya, komentar-komentarnya jarang sekali yang mendiskusikan soal lingkungan sebagaimana di IG Leo.

Meski membacanya senyum-senyum sendiri sebab halu tingkat lanjut,  penulis tetap saja ber-positive thinking bahwa di balik komentar-komentar halu tersebut, pesan Nico tersampaikan. Para perempuan (yang mengaku) kekasih dan istri Nico menerapkan hidup ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari seperti imbauan “suami”atau “kekasih” mereka itu. Toh kenyataannya, media internasional sangat sedikit yang memberitakan keseharian Leo. Jangan-jangan ia masih pakai sedotan plastik dan tas plastik garis-garis!
(Titik Kartitiani)

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.