Liburan di Taman Mangrove Labuhan

Sepotong senja berwarna jingga lengkap dengan burung, karang patah, dan siluet bibit tumbuhan yang mengawali kehidupannya adalah scene yang bisa diambil dari kawasan mangrove Labuhan. Bukan hanya pada senja kisah ini tertambat, namun pada gelap siluet tumbuhan itu desa ini selamat.

BANGKALAN– Meski sebagian pemudik sudah kembali ke tempat masing-masing, hiruk pikuk Lebaran masih terasa di ujung utara pulau Madura, tepatnya di kawasan Taman Pendidikan Mangrove (TPM) Labuhan, desa Labuhan, kecamatan Sepulu, kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Setidaknya 50-100 orang/ hari mengunjungi kawasan mangrove seluas lebih dari 12 hektare.

“Biasanya puncak pengunjung sampai H+7 setelah Lebaran,” kata Moh. Sahril, sekretaris Petani  Mangrove Cemara Sejahtera sekaligus salah satu pengelola TPM. Pada hari biasa, hanya ada satu penjual yang berjualan. Saat liburan khususnya liburan Lebaran, ada 4 orang yang berjualan makanan sebab pengunjungnya pun bertambah.

Wisatawan menyusuri trek melintasi hutan mangrove.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

TPM bermula tahun 2013 ketika Pertamina Hulu Energy West Madura Offshore (PHE WMO) masuk ke Labuhan untuk menanam mangrove. Sebanyak 10.000 batang tanaman mangrove dan cemara laut ditanam serentak oleh masyarakat bersama Bupati Bangkalan, PHE WMO, dan Universitas Trunojoyo pada tahun itu.

Pengelolaan selanjutnya dilakukan oleh kelompok tani Mangrove Cemara Sejahtera. Mereka melakukan pembibitan mangrove. Kegiatan intensif dilakukan mulai tahun 2014 berupa pembibitan Rhizophora stylosa dan cemara laut. Jenis mangrove ini dipilih karena paling mudah ditanam.

Cemara laut yang ditanam petani mangrove Cemara Sejahtera tahun 2013 kini sudah menjadi pelindung dan tempat wisata yang teduh.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Keindahan yang Melindungi Desa

Semangat masyarakat menanam hingga merawat hutan mangrove karena kesadaran akan bencana yang menimpa. Mereka menanam kembali apa yang telah ditanam oleh alam yang sempat dirusak. Ekonomi Bangkalan pernah menggeliat oleh tambak udang. Area tambak yang mengubah pesisir pantai, dari hutan mangrove menjadi denyut ekonomi. Namun bencana itu datang. Akhir tahun 1990, udang-udang ini terkena penyakit yang merobohkan ekonomi masyarakat. Kisah sukses bisnis udang berakhir. Masyarakat Bangkalan berkelana ke negeri jiran menjadi TKI.

Namun, dampaknya tak berhenti sampai di sini. Hutan mangrove yang menjaga garis pantai tak ada lagi. Abrasi menelan inci demi inci tanah Labuhan. Menurut pengakuan Supriyadi, kepala desa Labuhan, abrasi menelan daratan sejauh 7m dan bisa terus bertambah. Desa itu pun berhadapan langsung dengan laut lepas, tanpa pelindung. Dari sanalah kesadaran melindungi desa berbiak. Mereka kembali menumbuhkan hutan mangrove yang kini menjadi destinasi wisata di Bangkalan.

Sejumlah 76 jenis burung menghuni hutan magrove yang bisa kita saksikan berjemur saat pagi dan sore hari.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Tahun 2014, sejumlah 20.000 bibit dihasilkan kemudian ditanam di Pantai Labuhan sepanjang 2km dan lahan bekas tambak seluas 12 hektare. Mangrove yang ditanam di pesisir Labuhan ini sukses. Selain masyarakat sendiri yang menanam sehingga punya kesadaran untuk merawat, di bagian pesisir ini ada gusung, berupa gundukan pasir yang bisa menghalangi empasan ombak sehingga melindungi bibit mangrove yang ditanam. Gusung ini kemudian dinamakan Pulau Ajaib, menjadi rute wisata berperahu menyusuri mangrove. Fasilitas pun dibangun mulai dari toilet, balai pertemuan, trek yang membelah hutan mangrove untuk pengunjung, hingga menara pandang setinggi 15m.

TPM menjadi magnet, baik peneliti maupun wisatawan. Jumlah tertinggi mencapai 1.000 pengunjung/hari. Paket wisata yang disediakan antara lain melewati trek mangrove dan bird watching. Trek mangrove berupa trek kayu selebar 1m melewati tengah-tengah hutan mangrove. Pengunjung bisa mengenal jenis-jenis mangrove dari papan nama yang dipasang. Terdapat 17 jenis mangrove yang ditanam di sini, beberapa jenis merupakan jenis langka yaitu otok-otokan (Ceriops decandra) yang propagul (buah) menghadap ke atas ketika kebanyakan Ceriops buahnya menghadap ke bawah.

Otok-otokan (Ceriops decandra) yang propagul (buah) menghadap ke atas, salah satu jenis langka yang ditanam di Labuhan.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Dari Pemandangan hingga Kuliner

Selain Rhizophora, kelompok tani juga menghasilkan 5.000 bibit cemara laut yang ditanam di Dusun Masaran, pesisir sebelah barat dari TPM. Dusun ini kemudian menjadi kawasan pengembangan wisata ekologi setelah TPM di bawah naungan Kelompok Petani Payung Kuning, mulai tahun 2018. Kini, fokus pengunjung ke sisi timur dari TPM yaitu area penanaman terumbu karang.

Pengelola tak memungut tiket masuk kekawasan ini alias gratis. Menurut Sahril, tahun ini pengunjung tidak dipungut biaya tiket masuk sebab fasilitas yang tersedia belum selesai dibangun. Kecuali yang berkemah, pengunjung membayar Rp 5.000/orang/hari.

Aktivitas di sisi timur ini sama dengan sisi barat. Pengunjung yang ingin belajar, bisa mengenal mangrove dan bird watching. Terdapat 76 jenis burung di area TPM. Yang menarik, sekitar bulan September, pengunjung bisa bertemu dengan burung-burung migran yang singgah. Kawasan TPM merupakan rute burung-burung pejalan jauh antarbenua yang mencari kehidupan ketika musim di tempat asalnya sedang tak bersahabat.

Atau sekadar menikmati pemandangan. Duduk di bangku-bangku menghadap horizon, mendengar angin yang menyisip di daun cemara, dan merasakan ombak menjilat kaki.

Mengolah kopi dengan campuran biji api-api, salah satu jenis mangrove. Kopi mangrove ini menjadi salah satu oleh-oleh khas.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Bila ingin menginap, masyarakat sudah membuka rumahnya untuk homestay. Terdapat sekitar 10 homestay dengan tarif rata-rata Rp 100.000/kamar/malam. Tak hanya menginap, pengunjung bisa memesan hidangan khusus berbahan mangrove. Selain urap dari pucuk mangrove, juga kopi yang dicampur biji mangrove. Rasanya menjadi lebih kuat dan pekat.

“Tidak afdol kalau ke Bangkalan tidak mampir ke sini,” kata Sahril. Ia, sejak TPM dibangun yang mengurus mangrove ini. Tak hanya sekadar pengelola, namun tampak belajar sungguh-sungguh. Ia hapal ragam spesies mangrove dan menjelaskan pada pengunjung.

Untuk wisata minat khusus, misalnya peneliti dan mahasiswa bisa dipandu oleh pemandu yang memahami hutan mangrove. Pengunjung tak hanya dari dalam tapi juga luar negeri.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani
print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.