READING

Liga Santri Nusantara, Olahraga Favorit Ponpes Bah...

Liga Santri Nusantara, Olahraga Favorit Ponpes Bahrul Ulum Jombang

Selain mendaras kitab, olahraga juga menjadi hal penting di lingkungan pondok pesantren.  

JOMBANG- Setidaknya ada tujuh klub bola yang berdiri di lingkungan Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Yang menjadi pemain tidak lain para santri yang berasal dari berbagai daerah di nusantara. Kelompok santri dari Kabupaten Jombang dan Mojokerto misalnya. Mereka membentuk kesebelasan Joker FC.

Tidak mau kalah. Setiap merumput para santri asal Surabaya, Gresik dan Sidoarjo memakai nama Mustang FC. Begitu juga dengan santri asal zona Mataraman, yakni Kediri, Tulungagung, Blitar, Ponorogo, Madiun, Nganjuk, dan Trenggalek. Mereka bersatu dibawah kibaran bendera Primavera FC.

Santri  Bekasi dan Jakarta berkoalisi dengan santri asal Cilacap, Brebes, Purwokerto, dan Purbalingga. Bareta FC menjadi nama kesebelasan mereka.

Sedikit berbeda santri asal Bojonegoro, Tuban dan Lamongan. Para bocah dari Jawa Timur di kawasan laut utara itu  bersekutu dengan santri asal Solo dan Pati, Jawa Tengah. Klub bola yang mereka dirikan bareng bareng itu bernama Artebest FC.     

Sebagai partisipasi santri Malang, Pasuruan, Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso dan Jember mendirikan tim bola bernama Girazh FC.  Santri asal Madura dan semua santri luar pulau Jawa juga tidak mau ketinggalan. Mereka menggabungkan diri ke dalam klub Javapera FC.

Menurut manajer Djoker FC Muhammad Choirurojikin, hampir seluruh klub bola yang ada di lingkungan ponpes itu sudah ada sejak tahun 1980-an. “Kecuali Girazh FC, berdiri pada tahun 1995, “terangnya.

Meniru Piala Dunia

Meski hanya di lingkungan ponpes, pertandingan yang digelar liga santri ini  menerapkan prinsip profesional. Aturan yang berlaku meniru aturan main piala dunia.

Menurut Choirurojikin, tujuh kesebelasan terbagi atas dua grup. Klub yang lolos di peringkat pertama dan runner-up, berkesempatan melaju ke babak selanjutnya.

Pertandingan digelar setiap Selasa dan Jumat,  pukul 15.00 WIB, di lapangan Untung Suropati (utara pesantren).“Pertandingan digelar saat mendekati hari ulang tahun Pesantren Bahrul Ulum. Kalau saat ini masih tahap seleksi pemain, ”terangnya.

Oji, begitu biasa disapa menjelaskan. untuk mendirikan klub bola, santri harus mengantongi izin pengurus Yayasan Bahrul Ulum. Begitu juga saat mendaftar menjadi pemain, santri diwajibkan menyetor kartu tanda santri Bahrul Ulum.

Selain ujicoba, ada seleksi ketat yang harus dilalui. “Sebagai operator pertandingan adalah panitia yang dibentuk oleh pengurus Yayasan Bahrul Ulum, “katanya. Layaknya kesebelasan profesional. Klub bola santri di Ponpes Bahrul Ulum juga memiliki pelatih dan manajer tim.

Manajer bertugas mengurusi segala persyaratan administrasi tim, termasuk melakukan pembelian pemain atau penjualan pemain ke klub lain. Hanya saja dalam proses transfer ini, pihak pondok membatasi harga beli pemain.

“Rata-rata pemain di sini setia-setia, kalah menang tetap dalam satu tim. Karena ada kebanggaan tersendiri membela daerahnya masing-masing,” ungkap pria asal Mojokerto ini.

Dana klub bersumber dari iuran masing masing anggota. Mulai kebutuhan belanja kaos tim hingga membayar denda kartu kuning maupun kartu merah, berasal dari dana klub. Agar pertandingan berjalan lancar, panitia pelaksana (panpel) menggandeng dewan wasit Kabupaten Jombang. Wasit akan dikirim dari Jombang setiap pertandingan digelar.

“Komisi dipsilnya yaitu keamanan pondok dan dewan pengasuh pesantren. Jika terjadi kekerasan yang berakibat fatal selama pertandingan berlangsung, tim  akan langsung dicoret, “kata pengidola Lionel Messi ini.

Sepakbola sebagai Ajang Pembuktian

Sebelum ada klub, pertandingan sepak bola di lingkungan santri berdasarkan kamar atau masing masing asrama. Keterbatasan memenuhi kebutuhan kostum, sepatu dan iuran, membuat para santri kesulitan bergabung ke dalam klub bola profesional.

Mereka akhirnya memutuskan kelompok sepakbola sendiri dengan aturan yang lebih luwes. “Dulu timnya sederhana dalam bertanding, ala kadarnya. Yang penting olahraga. Di sini setiap Selasa ngaji libur dan khusus untuk olahraga, ”ungkap Oji yang juga santri asrama Al-Ghozali Bahrul Ulum.

Pesantren Bahrul Ulum sendiri berdiri sebelum Indonesia merdeka, yakni tepatnya tahun 1825. Ponpes didirikan oleh seorang pendekar bernama Abdus Salam dan dalam perjalanannya berkembang pesat. Para santri (putra dan putri) yang menempati 42 asrama itu, pada tahun 2019 ini mencapai  kurang lebih 14 ribu.

Hidupnya semangat kekeluargaan membuat pertandingan liga santri Bahrul Ulum selalu disambut meriah oleh para suporter yang sebagain besar bersarung. Selain olahraga. Bagi para santri, sepak bola lebih sebagai hiburan di tengah hafalan nazdoman dan sulitnya memahami kitab kuning.

“Kita bisa membuktikan santri juga bisa buat pertandingan sepakbola yang meriah dan menghibur, ”tambahnya.

Reporter : Syarif Abdurrahman
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.