READING

Lihat Bilik Karaoke, Pimpinan Ormas Teringat Pelac...

Lihat Bilik Karaoke, Pimpinan Ormas Teringat Pelacuran

BLITAR- Penutupan delapan tempat hiburan karaoke di Kota Blitar mendapat pengawalan ketat aktivis Forum Ormas Islam (FOI) Blitar Raya. Tidak hanya memantau jalannya penyegelan.

Para aktivis FOI juga mengikuti petugas Satpol PP (Pemkot Blitar) yang menyisir ruangan karaoke. Begitu berada di dalam bilik beryanyi, yakni tempat pemandu lagu menemani tamu, Ketua FOI Blitar Raya Akbar Charir  mengaku kaget.

Situasi ruangan kata Akbar Charir mengingatkannya pada praktek pelacuran. “Masya Allah. Kondisi didalam berpotensi dijadikan prostitusi terselubung. Masyarakat Blitar harus tahu itu, “kata Akbar Charir Rabu (9/1/2019).

Akbar Charir terdiam. Lelaki yang berlatar belakang Ansor Banser NU itu beberapa kali menggelengkan kepala. Syok. Namun disisi lain FOI Blitar Raya semakin yakin, bahwa desakannya menutup karaoke yang diduga berpraktek maksiat, sudah tepat.   

Desakan menutup seluruh karaoke di Kota Blitar itu menyusul digerebeknya karaoke Maxi Brilian Live musik oleh Polda Jatim. Penggerebekan terkait adanya praktik striptis dan layanan seks bebas.

Sementara selain menyegel, petugas Satpol PP juga menempelkan pengumuman bahwa karaoke ditutup dan dievaluasi. Sampai kapan?. Kepala Satpol PP Pemkot Blitar Juari mengatakan tujuh hari.

Evaluasi meliputi pengechekan ijin, bangunan fisik karaoke, kegiatan dan operasional. Untuk karaoke yang terbukti melanggar, pemkot Blitar telah menyiapkan sanksi, yakni mulai yang ringan hingga penutupan disertai pencabutan izin usaha.

“Sanksi akan diberikan kepada karaoke yang terbukti melanggar. Lalu bagaimana dengan para pemilik karaoke?.Semuanya hanya bisa menyaksikan proses penutupan dengan lapang dada.

Seperti Franki Candra, salah seorang pengelola karaoke, hanya bisa mengatakan siap patuh. Sebanyak 30 orang karyawan diliburkan. Apakah kelangsungan usahanya akan berlanjut atau tidak,  tergantung hasil evaluasi.

“Kami mengikuti apa yang menjadi kebijakan Pemkot Blitar, “ujarnya. Pendapat seragam juga disampaikan pemilik usaha karaoke lainnya. Secara bisnis jelas tidak menguntungkan. Namun yang bisa dilakukan hanya mengikuti kemauan pemerintah.

“Toh evaluasi hanya berlangsung selama tujuh hari, “kata pemilik usaha karaoke lainnya. (*)  

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.