READING

Limbah Popok Sekali Pakai Mencemari Sungai Brantas

Limbah Popok Sekali Pakai Mencemari Sungai Brantas

MALANG- Popok sekali pakai lebih praktis dibanding popok kain. Hanya popok sekali pakai ini menyumbang sampah yang tak sedikit. Termasuk menyumbang mikroplastik di air sungai.

“Ketika kita lakukan pemantauan dan penelitian di lapangan, popok sekali pakai memenuhi sungai di Jawa Timur. Terlebih di Sungai Brantas seperti tempat pembuangan massalnya,” kata Prigi Arisandi, Direktur Eksekutif Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation). Ecoton merupakan LSM di Gresik, Jawa Timur.

Prigi menjelaskan, popok sekali pakai yang mencemari Sungai Brantas antara lain dari merek Unicharm, Softek, P&G, dan Mamypoko. Merek Mamypoko paling banyak, mencapai 95% dari seluruh popok sekali pakai.

“Ini berimbas juga pada produksi air minum atau PDAM di Surabaya. Karena Surabaya merupakan daerah terakhir yang dialiri Sungai Brantas. PDAM sampai sulit mengolah air sungainya karena sangat tercemar,” terang Prigi pada saat memberikan materi jurnalistik di Malang, Agustus 2019.

Sungai Brantas sepanjang 11.800km melewati beberapa kota di Jawa Timur mulai dari Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto, hingga Surabaya menampung sampah popok. Menurut data Ecoton, 750 bayi tinggal di kota dan kabupaten yang dilewati Sungai Brantas.

“Jika per bayi dua sampai empat popok per hari diperkirakan ada 3 juta limbah popok per harinya yang dibuang di Sungai Brantas,” terang Prigi.

Selain mengotori sungai, biota sungai seperti ikan pun terdampak sampah popok. Produktivitas ikan menurun, ikan sungai tidak sehat, dan berdampak pada kesehatan manusia yang memakannya.

Agar warga sadar bahwa membuang popok di sungai bisa mencemari lingkungan, Prigi melakukan kampanye ke desa-desa. Prigi mengimbau masyarakat mulai meninggalkan popok sekali pakai.

“Ini untuk kebaikan alam dan manusianya sendiri. Mari kita ganti popok anak dengan tidak menggunakan yang sekali pakai itu,” tegas Prigi.

Popok Kain Lebih Sehat

Walaupun sedikit ribet, ada beberapa manfaat menggunakan popok tidak sekali pakai (popok kain). Selain ekonomis juga lebih sehat dan tak mencemari lingkungan.

Andini Risa, ibu muda asal Kediri memilih menggunakan popok kain karena pertimbangan kesehatan bayinya. Pada bulan pertama kelahiran anak pertamanya, sang bayi mengalami ruam di sekitar pantat.

“Dari situlah awal mula kami lebih memilih menggunakan celana kain dan popok yang bisa dicuci,” ujarnya. Kini bayinya berusia 9 bulan.

Memang lebih ribet. Ketika bayinya buang air kecil, tak hanya mengganti popok yang dikenakan tetapi juga harus membersihkan tempat sekitarnya, karena air kencingnya ke mana-mana. Popok kain tak punya daya serap tinggi. Sementara popok sekali pakai bisa sampai 8 jam.

Ya memang harus sabar, sehari bisa cuci celana dan popok bayi 8 sampai 15 buah. Itu belum baju atasannya,” terang Andini.

Walaupun selalu memperioritaskan penggunaan popok kain, sesekali dia tetap menyetok popok sekali pakai di rumahnya. Popok ini digunakan setiap kali mengajak bayi bepergian. Meminimalkan penggunaan popok sekali pakai ini lebih hemat. Satu bungkus popok sekali pakai berisi 20 piece untuk 2 bulan.

Andini merasa susah saat membuat sampah popok sekali pakai. Ada kepercayaan tradisional jika popok dibakar akan suleten (luka di sekitar pantat dan kelamin, Red). Dibuang di sungai pun tak boleh.

“Yang bisa kami lakukan sementara menguburnya. Kami pun masih ragu, apa bisa terurai. Tapi mau bagaimana lagi,” katanya.

Reporter: Moh. Fikri Zulfikar
Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.