READING

(LIPSUS SAJADAH CINTA KEDIRI): Pengalaman Casting ...

(LIPSUS SAJADAH CINTA KEDIRI): Pengalaman Casting Ayu Laksmi, dari Pengabdi Setan hingga Bumi Manusia 2019

SURABAYA – Belajar dari kasus penipuan casting film Sajadah Cinta di Kediri, Jatimplus.ID mewawancarai Ayu Laksmi, seorang penyanyi dan pemain film ketika mengikuti casting. Apakah harus membayar?

Di antara kesibukan acara penayangan gala premiere film Bumi Manusia karya sutradara Hanung Bramantya di Surabaya (09/08/2019) yang dilanjutkan dengan peresmian museum Bumi Manusia di Dusun Gamplong, Moyudan, Sleman, Yogyakarta, (14/08/2019) Ayu Laksmi menyempatkan untuk menjawab pertanyaan Jatimplus.ID terkait casting yang pernah diikutinya.

“Saya ditelepon oleh sutradara atau produsernya. Saya tidak tahu artis yang harus membayar. Mungkin ada, tapi saya tidak tahu,” kata Ayu Laksmi.

Perempuan kelahiran Bali, 25 November 1967 ini main film sejak tahun 2008. Film pertamanya garapan sutradara Garin Nugroho, Under the Tree (2008) kebetulan mengambil latar tempat di Bali. Diikuti film Ngurah Rai (2013), Soekarno (2014), dan Sekala Niskala (2017) juga mengambil latar tempat di Bali. Selain itu, Ayu juga main di Bumi Manusia yang akan diputar serentak besok pagi (15/08/2019) sebagai Ibunda Minke. Ia juga sedang berperan di film Buya Hamka (2019).

baca juga: Lipsus Sajadah Cinta Kediri: Tertipu Film Abal-abal

Kesemua film yang dibintangi Ayu, alurnya hampir sama yaitu ditelepon oleh sutradara maupun produsernya. Dalam film Bumi Manusia yang digarap oleh rumah produksi Falcon Pictures, Ayu dihubungi oleh pihak Falcon Pictures. Ayu mengira produksi film sudah selesai sehingga saat Falcon Pictures menelepon untuk mengundangnya menghadiri premiere. Rupanya, Ayu justru diundang untuk ikut casting menjadi salah satu pemain. Awalnya menjadi Nyai Ontosoroh, kemudian lebih cocok memerankan sebagai Ibunda Minke.

Berkat perannya di film “Pengabdi Setan”, dimanapun Ayu berada, masyarakat kerap memanggilnya dengan panggilan “ibu”. Foto : JATIMPLUS.ID / Adhi Kusumo.

Sama halnya ketika memerankan tokoh Ibu dalam Pengabdi Setan (2017). Joko Anwar, sutradara film tersebut menelepon Ayu untuk bergabung. Hanya ini kisahnya agak berbeda. Lagu yang dinyanyikan Ayu duluan yang dipilih oleh sutradara.

baca juga: Lipsus Sajadah Cinta Kediri: Bekas LO Tipu Ratusan Juta

“Awalnya dari Happy Salma. Ada temennya, namanya Joko Anwar butuh sosok Ibu. Saya dihubungi ketika saya lagi di India. Saya tidak punya basic seni peran,” kenangnya. Ayu hanya menyerahkan semuanya pada Semesta. Kalau berjodoh pasti akan bertemu.

Sebulan kemudian setelah dari India, Ayu memenuhi panggilan casting Pengabdi Setan. Sebelum casting, ia menyerahkan album Swara Semesta. Di album tersebut, track 1 berjudul Mantra, sebuah lagu yang dinyanyikan berulang-ulang.

baca juga: Lipsus Sajadah Cinta Kediri: Mengapa Jadi Selebritas Itu Memikat

“Abang Joko tercengang, Mantra kemudian dipakai dalam pembuka film. Mantra-nya sudah lulus, kalau orangnya ndak lulus ya sudah,” kata Ayu. Selanjutnya, casting dinyatakan lulus untuk memainkan tokoh Ibu yang menjadi pemuja setan.

Melihat kronologi demikian, Ayu tak pernah mengalami ikut mendaftar untuk sebuah peran apalagi harus membayar untuk sebuah peran tertentu. Meskipun tetap mengikuti prosedur yaitu setelah ditelepon sutradara atau produser kemudian sutradara menceritakan tentang skenario fim yang dimainkan. Calon artis diminta ikut casting, baru ditentukan lulus atau tidak.

Ayu Laksmi menari dan menyanyi bersama anak-anak Kediri Youth Voice. Foto : JATIMPLUS.ID / Adhi Kusumo.

Ada Banyak Cara Menjadi Bintang, Termasuk dari Medsos

Menilik perjalanan Ayu Laksmi menjadi pemain film justru bukan berasal dari sekolah akting maupun seni peran. Namanya melambung dari musik dan nyanyian. Dari sanalah sutradara maupun produser meliriknya untuk memerankan karakter tertentu dalam sebuah film.

“Saya berproses tidak dalam dunia film,” tambahnya. Ia sangat mencintai dunia tarik suara dan musik. Musik Ayu pun khas, musik etnik, bukan musik populer yang meledak lalu senyap. Syair yang dibikin dan dinyanyikan Ayu kebanyakan bernapaskan alam dan kedekatan pada Sang Pencipta. Lebih pada syair-syair perenungan.

Menurut Ayu, dunia seni berkaitan satu dengan yang lainnya. Jadi ada orang yang tertarik pada dunia seni peran juga tertarik oleh dunia musik. Begitu pun sebaliknya tertarik di dunia musik, lalu dilirik oleh dunia seni peran. “Tempatkan atau bergaulah di lingkungan yang kira-kira bisa menumbuhkan dirimu, dengan ketertarikanmu,” pesan Ayu pada generasi muda yang ingin menekuni seni peran.

Selain itu, Ayu menaruh perhatian pada media sosial. Banyak para pencari bakat mengetahui dan mencari seseorang melalui sosial media.Oleh karena itu, kabarkanlah hal-hal yang baik, dengan komunikasi yang baik, dengan tulisan yang baik. Kabarkan kegiatan dari rumah masing-masing, dari wilayah masing-masing.

“Seperti saya, saya tidak pernah tinggak di Jakarta. Saya tetap tinggal di Bali. Jika memang berjodoh, jika memang sudah waktunya, itu pasti akan ditemukan. Mohon berhati-hati dan tetap semangat,” tambahnya.

Oleh sebab itu, siapapun dan yang tinggal di manapun, bisa menjadi apapun, termasuk menjadi pemain bintang dalam sebuah dunia akting. Pun bagi yang kali ini belum berhasil merah peran untuk bermain film karena kasus penipuan ini. Semoga tak putus asa.

Tim liputan: Hari Tri Wasono, Titik Kartitiani, Adhi Kusumo (fotografer)

print

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.