READING

Lirboyo, Menyusuri Jejak Bangkiak Para Kiai (1)

Lirboyo, Menyusuri Jejak Bangkiak Para Kiai (1)

Lirboyo

Masihkah Mbah Manab, Mbah Marzuqi dan Mbah Mahrus memercikkan berkah tsawab dalam suksesi ilmu dan amaliyah?

Ataukah dimana mana mereka tidak punya arti apa apa kecuali buat dikenang sesekali dalam upacara haul yang gegap gempita.?

(Dinukil dari puisi Lirboyo karya KH Ahmad Mustofa Bisri) .

KEDIRI- Daerah dengan rimbun tumbuhan Pule, Beringin, pohon Lo, Bendo dan berbagai semak belukar itu bernama Lirboyo. Sebelum Perang Dunia I meletus di Eropa (1914-1918), pinggiran kota yang hanya dihuni 41 kepala keluarga itu masih dikenal sebagai kawasan sangar. Sarang begal, pencuri, pencoleng, dan perampok. Tidak terkecuali pemabuk, penjudi, dan pengadu ayam,  tumplek blek  disana.

Sedikit orang berani lewat tanpa hati minggring, was was. Apalagi pada malam hari dimana jaringan listrik belum terpasang. Masih sepi orang berjualan dan tidak ada lalu lalang kendaraan sepadat sekarang. Gelap sekaligus suram.

“Jangan sekali kali menginjakkan kaki di Lirboyo jika tidak memiliki nyawa rangkap”. Peringatan itu lazim terdengar. Wanti wanti orang tua kepada anak anaknya yang hendak melewati Lirboyo. Pesan si sulung kepada adik adiknya.

Cap gelap memang kadung melekat. Lirboyo menjadi contoh kejahatan sekaligus kebengalan. Setiap terjadi peristiwa kebatilan di Kediri, pelakunya selalu dikaitkan dengan bandit sosial Lirboyo. Padahal faktanya tidak semuanya demikian.

Lirboyo juga dikenal sebagai markas hantu, momok, dan segala lelembut yang menakutkan. Mitosnya makhluk astral muncul pada malam malam tertentu. Sosoknya nggegirisi. Mengganggu psikologi. Mulai wanita cantik dengan punggung berlobang, gondoruwo berambut gimbal bertubuh tinggi besar hingga pocong yang meloncat loncat.

Meski tidak melakukan salah apapun, tidak jarang orang tiba tiba merasa “diganggu”. Mendadak kerasukan, bertingkah laku diluar kontrol kesadaran. Bayi dalam gendongan tiba tiba oyeng, menangis tanpa alasan, dan hanya bisa pulih setelah suwuk jampi ditiupkan.

Intinya, sebagian besar berusaha menjauhi Lirboyo. Kalau ada jalan memutar, lebih baik memilih menapaki jalan itu. Tak mau ambil resiko.

Namun tidak bagi Kiai Sholeh Banjar Mlati. Setiap melintasi Lirboyo, pikiran dan hati Kiai Sholeh justru seperti terpanggil.“Kapan bisa berdakwah disana (Lirboyo)?. Kapan bisa syiar kesana?. Dari hari ke hari dorongan berdakwah itu semakin kuat.

Kiai Sholeh keturunan Syaikh Abdullah Mursyad,  seorang wali yang berpesarean di Setonolandean, berjarak kurang lebih 10 kilometer arah utara Lirboyo. Syaikh Abdullah Mursyad dzuriyat Sunan Giri, Gresik, salah satu dari Wali Songo.

Kiai Sholeh adalah mertua Mbah Manab atau Kiai Abdul Karim yang kelak menjadi founding father Pondok Pesantren Lirboyo.

Meski bertempat tinggal di Banjar Mlati, Mojoroto, Kediri (Sekarang Kota Kediri), Kiai Sholeh memiliki rutinitas beragraris di daerah Semen Kabupaten Kediri. Setiap nginguk sawah,  Lirboyo menjadi jalur perlintasanya.

Kepada lurah (kades) Lirboyo, Kiai Sholeh menyampaikan uneg unegnya.  Kebetulan  lurah (kades) Lirboyo dikenalnya baik . Lurah yang pernah  menyatakan tidak mampu lagi mengurus akhlak warganya. Karenanya ketika mendengar Kiai Sholeh mencari tanah kosong untuk tempat tinggal, dia sontak menyambut gembira.

“Dengan senang hati akan dicarikan kiai”. Kebetulan, saat itu ada seorang penduduk yang tidak betah lagi tinggal di Lirboyo. Yang bersangkutan ingin pindah dan berniat menjual lahan. Tanpa pikir panjang, lahan seluas 1.785 meter persegi langsung dibeli Kiai Sholeh.  

Berdiri tegak menghadap kiblat,  Kiai Sholeh langsung melantunkan adzan. Konon, kumandang ayat ilahi di depan tanah itu telah mengusik ketenangan para lelembut penghuni  Lirboyo. Alam metafisika Lirboyo terguncang. Sepanjang malam warga luar desa mendengar suara gemuruh tak habis habis.

Diatas tanah itu Kiai Sholeh mendirikan rumah sederhana. Sebuah tempat tinggal yang tersusun atas anyaman bambu dengan dinding blarak atau daun kelapa. Begitu rumah yang layak disebut gubuk itu selesai, Kiai Sholeh langsung menemui menantunya.

“Kiai (Abdul Karim), saya sudah membuatkan rumah di Lirboyo”. Dengan bahasa jawa kromo halus, Kiai Sholeh menyampaikan kabar gembira itu kepada menantunya.

Dari Kawasan Gelap Menjadi Bersinar

Kiai Sholeh begitu menghormati Mbah Manab atau Kiai Abdul Karim. Setiap bertutur kata dengan Abdul Karim, dia selalu menggunak bahasa jawa halus. Suami Khadijah atau Dlomroh, putri keenamnya itu, juga  dikenal sebagai ulama.

Baca juga :

Mbah Manab Founding Father

Santri Alim dan Zuhud

Sejak menjadi menantu dan memiliki momongan anak pertama, Mbah Manab bertempat tinggal bersama dirinya di Banjar Mlati, Mojoroto, Kediri. Pada tahun 1910, dengan diantar Kiai Asy’ari Sumbercangkring, Gurah Kediri (versi lain menyebut Kiai Muhammad Ma’roef Kedung Lo Bandar Lor Mojoroto, Kediri), yakni adik iparnya, Mbah Manab hijrah ke Lirboyo.

Kiai asal Magelang, Jawa Tengah itu tidak membawa banyak bekal. Sebagai syarat pindah rumah, dia hanya membawa nasi sebakul, sayuran, tikar dan dimar (lampu). Mbah Manab menempati rumah baru itu sendirian dan baru disusul istrinya dua hari kemudian. Dalam boyongan itu Khadijah  juga hanya membawa sedikit beras, kayu bakar dan seekor ayam.

Tentu saja, kehadiran Mbah Manab sebagai penduduk baru dianggap ancaman.  Warga Lirboyo yang biasa hidup bebas tanpa aturan, tidak menyukainya. Gangguan pun berdatangan. Tidak hanya pencuri dan pencoleng. Perampok juga menyatroni rumah Mbah Manab. Sebagai zuhud yang rajin beriyadhoh (tirakat), segala gangguan yang datang diterimanya dengan lapang dada.

Tidak hanya para bandit sosial yang terganggu. Kehadiran Abdul Karim juga mengusik golongan lelembut. Para makhluk halus itu konon juga bergeser, angkat kaki dari Lirboyo. Di tahun yang sama (1910) Mbah Manab juga mendirikan musala.

Impian Kiai Sholeh mengubah kehidupan warga Lirboyo melalui tangan menantunya,  perlahan menemukan bentuknya. Di langgar angkring itu –demikian terkenal disebut— Mbah Manab memusatkan kegiatan dakwahnya. Pengajian, siraman rohani rutin digelar. Syiar yang dilakukan dengan lemah lembut itu mulai diminati warga setempat.

Satu persatu mulai berdatangan. Tidak hanya mendengarkan. Warga  juga  ikut mengangsu pengetahuan agama. Berjalan tiga tahun kemudian (1913), langgar kecil dan sederhana itu diperluas menjadi masjid. Jumlah warga yang datang untuk ngangsu ilmu agama semakin banyak. Tidak hanya sebagai tempat ibadah dan mengaji, di masjid itu Mbah Manab juga mengembangkan pendidikan agama. Dari hubungan antara murid (santri) dengan kiai itu, munculah istilah pesantren. Ya, pondok pesantren Lirboyo.

Berdirinya Ponpes Lirboyo sendiri mengacu pada pendirian langgar angkring tahun 1910. Banyaknya orang dari luar daerah yang ingin belajar dengan menginap, membuat Mbah Manab menerapkan sistem pawiyatan atau asrama. Sebagian tanah yang dimili  diubah menjadi bangunan bilik atau kamar para santri. Tercatat nama Umar asal Madiun sebagai santri pertama Ponpes Lirboyo.

Konon, terus bertambahnya jumlah santri Lirboyo tidak lepas dari peran Kiai Syaikhona Kholil Kademangan, Bangkalan, Madura. Setiap ada santri baru yang ingin belajar ke tempatnya iai Kholil selalu mengarahkan untuk datang ke Lirboyo Kediri. Belajar kepada Mbah Manab.

Almarhum Kiai Idris Marzuqi, pengasuh Ponpes Lirboyo generasi ketiga pernah menyampaikan, jumlah santri Lirboyo saat ini mencapai lebih dari 10.000 orang. Para santri tidak hanya berasal dari wilayah eks karsidenan Kediri. Kawasan yang sebelumnya gelap, suram dan menakutkan itu perlahan menjelma sebagai pusat ilmu pengetahuan. Menjadi daerah yang terang bersinar, didatangi banyak orang.

Cara berdakwah Mbah Manab yang lemah lembut, penuh kasih dan selalu menjunjung semangat Islam rahmatan lil alamin telah mengubahnya. (*)

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.