Lirboyo, Pondoknya Pendekar Silat (5)

KEDIRI – Suara teriakan terdengar dari halaman rumah Gus Bidin. Di lahan yang tak begitu luas, sejumlah pemuda tampak melatih ilmu kanuragan. Gerakan mereka cukup cepat saat menendang atau memukul angin.

Dari kejauhan Badrul Huda Zainal Abidin atau yang akrab disapa Gus Bidin mengawasi para santri yang berlatih. Sesekali dia memberi instruksi jika ada gerakan muridnya yang salah. Gus Bidin adalah penanggung jawab pendidikan silat di Lirboyo dan menyandang jabatan Ketua Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia (GASMI).

Sudah sejak turun temurun ilmu bela diri pencak diajarkan kepada santri di Pondok Pesantren Lirboyo. Kegiatan ini menjadi ekstrakurikuler di luar jam belajar. Bahkan di waktu tertentu diselenggarakan ajang tarung bebas yang mempertandingkan para pendekar silat dari santri atau luar pondok. “Silat menjadi kegiatan ekstrakurikuler santri,” kata Gus Bidin.

Gus Bidin berkisah, Pondok Pesantren Lirboyo memang dikenal sebagai gudangnya pendekar silat. Banyak santri yang datang dari berbagai daerah ingin belajar silat di samping ilmu agama yang diajarkan para pengasuh.

Pencak silat memang tak bisa dipisahkan dari sejarah Pondok Lirboyo. Bahkan sejak berdirinya pondok pesantren ini di tahun 1910 yang dipimpin Kiai Abdul Karim, para santri sudah dibekali ilmu kanuragan. Hal ini tak lepas dari kondisi keamanan pondok yang kerap diteror warga Desa Lirboyo yang mayoritas berprofesi sebagai pencuri, perampok, dan penjudi.

Untuk menjaga keselamatan santri, Kiai Abdul Karim meminta bantuan kakak iparnya Kiai Ya’kub yang memiliki ilmu kanuragan tinggi. Selain menjaga keamanan pondok, Kiai Ya’kub juga mengajarkan ilmu silat kepada para santri Lirboyo di sela kegiatan mengaji. Sejak itu materi bela diri pencak terus diajarkan kepada santri Lirboyo hingga sekarang.

Seiring munculnya pendekar pencak pesantren, keamanan di kawasan Desa Lirboyo mulai kondusif. Selain melalui kegiatan keagamaan, syiar juga dilakukan lewat ilmu pencak. Tak sedikit remaja desa yang akhirnya mondok karena tertarik belajar pencak. Kabar ini pun tersiar hingga ke berbagai kota hingga menjuluki Lirboyo sebagai pesantren silat.

Tradisi belajar silat ini semakin berkembang ketika seorang santri yang kelak dikenal dengan Kiai Mahrus Aly mondok ke Lirboyo pada tahun 1936. Selain menimba ilmu agama, Mahrus Aly juga tertarik mempelajari silat ala Lirboyo yang sudah dikenal luas. Sebelumnya Mahrus Aly yang putra seorang kiai ini juga sempat mengenyam ilmu silat di Jawa Barat. Hingga pada akhirnya pendekar Cirebon ini memegang estafet kepemimpinan Lirboyo setelah menjadi menantu Kiai Abdul Karim.

Baca Juga :

Bentengi Aqidah dengan Filterisasi Kitab

Menyusuri Jejak Bangkiak 

Kekerabatan Alumni Sangat Kuat

Di bawah kepemimpinan Kiai Mahrus Aly peran pendekar silat Lirboyo muncul. Beberapa kali dia mengirim rombongan santri untuk bergabung dengan pejuang kemerdekaan melawan penjajah. Salah satu peristiwa bersejarah yang mengantarkannya berada di jajaran utama tokoh nasional adalah ketika mengirimkan pasukan santri dalam pertempuran 10 November di Surabaya. Peristiwa itu sendiri merupakan cikal bakal berdirinya Kodam V Brawijaya yang menempatkan nama Kiai Mahrus Aly sebagai salah satu pendiri meski bukan dari kalangan TNI.

“Beliau (Kiai Mahrus Aly) memiliki ilmu kanuragan tinggi dan berjasa menumpas penjajah. Kedekatan beliau dengan TNI terutama Kodam V Brawijaya seperti saudara,” kata Gus Reza Ahmad Zahid, pengasuh Pondok Pesantren Al Mahrusiyah Lirboyo.

Nama Kiai Mahrus Aly makin terkenal setelah berhasil membantu melakukan penumpasan Partai Komunis Indonesia (PKI) di wilayah Kediri dan sekitarnya. Pada masa itu Pondok Pesantren Lirboyo memiliki satu orang pendekar yang menjadi jawara, yakni Gus Maksum, cucu Kiai Abdul Karim sekaligus keponakan Kiai Mahrus Aly.

Selain ditugaskan pamannya, Gus Maksum memiliki alasan sendiri untuk menghabisi PKI. Ini lantaran massa PKI sempat menyerang pondok pesantren milik ayahnya Kiai Jauhari di Kanigoro. Tak hanya menganiaya Kiai Jauhari, massa PKI juga menyerang masjid dan menginjak-injak Al Quran. Peristiwa ini dikenal sebagai peristiwa Kanigoro, sebuah peristiwa yang turut memicu perang terbuka antara Gerakan Pemuda Ansor dengan PKI di Kediri.

Untuk mewadahi para pendekar ini, Gus Maksum mendirikan organisasi silat GASMI. Organisasi ini masih eksis hingga sekarang di bawah kepemimpinan Gus Bidin, yang tak lain adalalah keponakan Gus Maksum. Gus Bidin pula yang disebut sebagai pewaris ilmu kanuragan pamannya.

Salah satu metode latihan atau penggemblengan yang dilakukan Gus Maksum adalah menggelar latih tanding. Para santri saling diadu untuk mengukur tingkat kemampuan mereka menguasai jurus-jurus silat, sekaligus latihan mental saat menghadapi lawan sesungguhnya. “Latih tanding inilah yang kemudian dikenal dengan pencak dor sampai sekarang,” kata Gus Bidin.

Tak hanya diadu dengan sesama santri Lirboyo, GASMI juga menggelar laga latih tanding hingga keluar pondok. Semua orang bebas mengikuti pertandingan ini untuk beradu jurus dengan santri Lirboyo.

Untuk menyemarakkan suasana, sejumlah pemain musik tradisional dihadirkan. Membawa saron, kendang, dan gong, pemusik ini melantunkan sholawat dengan iringan jidor. Jidor adalah beduk kecil menyerupai kendang yang dipukul kanan kiri, dan menjadi salah satu alat musik yang mengiringi Sholawat Jidor. “Ini yang kemudian dikenal dengan istilah pencak dor, karena suara jidornya,” terang Gus Bidin.

Belakangan laga ini juga diikuti sejumlah atlit bela diri profesional dan melibatkan banyak klub dari berbagai kota. Hal ini memicu lahirnya gaya bertanding yang lebih luas di luar pencak silat. Mulai dari taekwondo, karate, tinju, gulat, hingga Mua Tay beraksi di sini.“Tidak ada kelompok khusus, semua petarung bebas menggunakan jurus dan memilih lawannya sendiri.

Meski terkesan brutal dan tak dilengkapi peraturan serta perlengkapan pertandingan memadai, namun hingga kini tak pernah ada korban jiwa dalam pagelaran pencak dor. Cidera paling parah yang menimpa para petarung adalah luka terbuka akibat pukulan lawan pada wajah atau terkilir saat terbanting. Luka-luka itupun cukup diplester atau diurut oleh pelatih mereka di bawah panggung.

Karena tak dipungut biaya, jangan berharap hadiah dalam kompetisi duel ini. Petarung dengan luka berdarah ataupun luka lecet akan mendapat imbalan sama, yakni sepiring nasi gulai kambing. Usai turun dari gelanggang, masing-masing pendekar akan mendapat satu kupon makan dari panitia. Kupon itu bisa ditukarkan dengan sepiring nasi gulai kambing untuk disantap bersama.

Tidak ada satupun perkelahian atau tawuran yang terjadi sebelum ataupun sesudah pertunjukan pencak dor selesai. Seluruh peserta telah menjiwai jika ajang ini bukan untuk beradu kuat. Bahkan tingkat persaudaraan pun makin tebal usai melakukan jual beli pukulan di atas panggung. “Di atas lawan, di bawah kawan,” tegas Gus Bidin.  (*)

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.