Listrik dari Ganggang Mikro

Pernahkah terpikir membuat listrik dari ganggang? Pulau Semujur, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung melakukannya.

Pulau seluas 57,11 hektar dengan penduduk 74KK ini sudah menjadi tujuan wisata namun masih minim listrik. Satu pondok (rumah) penduduk hanya memiliki satu lampu yang hanya menyala pada malam hari. Tak mengherankan jika aktivitas warga setempat sangat terbatas dengan minimnya pasokan listrik di pulau itu.

Sebenarnya, para peneliti dari Universitas Bangka Belitung (UBB) telah berupaya mengembangkan panel surya untuk mencukupi kebutuhan listrik. Dalam perkembangannya, muncul gagasan baru dengan micro algae (ganggang mikro) jenis Spirulina sp.

“Kami ingin ikut memberdayakan masyarakat setempat dengan melibatkan secara langsung pada penelitian-penelitian yang kami lakukan,” kata Dekan Fakultas Teknik UBB Wahri Sunanda.

Menurut Wahri, pengembangan taman ganggang mikro ini mengadopsi keberhasilan pengembangan yang dilakukan para peneliti di Nogotirto, Yogyakarta. Kemudian coba dikembangkan di Pulau Semujur.

“Dua warga dari Pulau Semujur juga sempat kami ajak langsung ke Jogja untuk melihat taman ganggang di Nogotirto. Sehingga nantinya masyarakat akan semakin paham tentang mengapa ganggang mikro ini penting,” lanjut Wahri.

Konsep Listrik dari Ganggang Mikro

 “Spirulina sp. adalah jenis ganggang mikro yang hanya bisa dilihat dengan menggunakan mikroskop,” kata Eko Agus Suyono, peneliti CDSR (Center of Development for Sustainable Region (CDSR) ) Universitas Gajah Mada yang sekaligus seorang doktor tentang ganggang mikro.

Spirulina sp. memiliki kelebihan antara lain bisa dipanen sepanjang musim, budidayanya tidak membutuhkan lahan luas. Berbeda dengan tanaman jarak dan sawit yang pernah diunggulkan sebagai biodisel membutuhkan lahan perkebunan yang sangat luas. Selain itu, memiliki daya tahan yang lebih kuat dalam segala kondisi.

Keunggulan lain meski tak terkait dengan listrik yaitu kandungan antioksidan tinggi, kandungan lipid (asam lemak) tinggi sehingga Sprirulina sp. menjadi bahan baku suplemen untuk tubuh manusia.

Proses mendapatkan listrik dari tumbuhan ini dengan melakukan ekstraksi tumbuhan Spirulina sp. Hasil ekstraksi inilah yang nantinya akan menjadi sumber biodiesel.  

“Tentu saja energi dari ganggang mikro ini memiliki emisi karbon yang lebih rendah jika dibandingkan dengan dari energi yang bersumber dari fosil,” sambung Eko yang menuntaskan studi doktoralnya di Swedia.

Saat ini harga bahan bakar bersumber ganggang mikro masih mahal jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil sebab produksinya masih sangat terbatas.

Untuk proyek taman ganggang mikro di Pulau Semujur, lanjut Eko, saat ini pihaknya sudah melakukan training kepada para peneliti UBB dalam hal cara pembudidayaannya. Februari 2020, Eko sudah melakukan pelatihan kepada tiga peneliti dari UBB.

“Untuk tahap awal pembudidayaan kami lakukan terlebih dulu di laboratorium. Nantinya diharapkan bisa diaplikasikan langsung di Pulau Semujur,” tambah Eko.

Pilot project rencana pengembangan taman ganggang mikro ini juga sudah dipresentasikan ke Pemerintah Provinsi Bangka Belitung dan mendapat respons yang positif. Jika nantinya proyek pengembangan taman ganggang mikro ini berhasil dilaksanakan, maka warga Pulau Semujur bisa mendapatkan pasokan listrik yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan ramah lingkungan.

Selain untuk bisa memasok kebutuhan energi, taman ganggang mikro ini juga bisa menjadi salah satu obyek wisata di kawasan Bangka. Konsep pengembangan taman ganggang mikro ini ternyata juga menarik pemerintah Amerika Serikat, sehingga pengembangan sumber energi terbarukan ini mendapat dukungan dana dari program USAID Sustainable Higher Education Research Alliances (USAID SHERA).

Penulis: Moh. Syifa
Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.