READING

Lodeh Mbok Semah Jombang, Idola Jelata Hingga Peja...

Lodeh Mbok Semah Jombang, Idola Jelata Hingga Pejabat Negara

Warung lodeh tewel Mbok Semah, Jombang, sudah menemani masa enam Presiden Republik Indonesia. Mulai Presiden Soeharto sampai Presiden Joko Widodo.

JOMBANG- Warung itu bertempat di Dusun Kapas, Desa Dukuhklopo, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Tidak dipinggir jalan utama yang mudah dijujuk.

Namun di tengah kampung, nyempil di sebuah gang dimana kendaraan roda empat cukup sesak bersimpangan. Tapi tidak perlu khawatir. Di era digital tidak ada alamat yang tidak mudah ditemukan.  

Secara manual pengunjung bisa melalui Dusun Weru, Desa Mojongapit, terus bablas ke utara. Bagi yang datang dari arah Satlantas Polres Jombang, bisa melewati Jalan Brigjen Kretarto. Juga langsung menuju arah utara.  

Teruslah berjalan sampai bertemu sebuah rumah dengan pemandangan roda empat dan roda dua disekelilingnya. Berhentilah. Karena disitulah Warung Lodeh Mbok Semah berada.

Karena ruas jalan paling dekat dengan warung tidak muat lagi, tidak sedikit kendaraan para pengunjung diparkir di dekat rumah warga sekitar.    

Berjualan Sejak Tahun 1980an

Warung lodeh Mbok Semah buka pukul 16.30 Wib. Saking ramainya pembeli, seringkali selepas salat Isya pukul 19.30 Wib sudah ludes. Meskipun terletak di pinggiran dan harus masuk gang, warung ini sudah terkenal dimana-mana. Baik dari Jombang sendiri maupun luar Jombang.

Mbok Semah adalah nama pemilik warung. Dirintis sejak tahun 1980 bersama almarhum Askan, suaminya, usaha kuliner itu  awalnya hanya berdagang gorengan, kopi, kolak dan kacang hijau.

Selang lima tahun kemudian, ibu enam anak itu mulai menjajal sayur lodeh tewel. ”Lodeh itu kan khasnya orang Jawa. Jadi lodeh itu menu sehari-hari, ’’tutur Mbok Semah (84).

Lazimnya para pemula. Awal jualan, lodeh Mbok Semah tidak langsung dikenal. Mereka yang mula mula mencoba masih sebatas warga sekitar. Namun seiring bergulirnya waktu, jumlah yang datang terus bertambah.

”Ramainya karena getok tular itu, jadi setelah makan di sini orang orang cerita, dan seterusnya,’’kenangnya.

Sejak awal, Mbok Semah tidak pernah mematok harga mahal. Pada tahun 80-an, untuk seporsi nasi lodeh dia jual Rp 15 rupiah. Mengikuti harga pokok di pasaran, satu porsi nasi lodeh naik menjadi Rp 100 hingga Rp 3.000.

Lodeh tewel Mbok Semah Jombang. FOTO : JATIMPLUS.ID/syarif abdurrahman

”Dan sampai sekarang ya tetap tergolong murah. Rp 10 ribu sudah dapat lauk juga, “paparnya. Selain cita rasa yang tidak pernah berubah, Mbok Semah juga mempertahankan penyajian nasi lodeh dengan pincuk daun pisang.

Begitu juga dengan proses memasak tewelnya. Dari awal tidak pernah menggunakan api elpiji, melainkan kayu bakar dengan tungku. Hal itu yang membuat para pengunjung warung Mbok Semah selalu kembali.    

Para pelanggan berasal dari berbagai lapisan sosial. Mulai dari rakyat kecil hingga pejabat negara. Tak hanya dari Jombang, luar Jombang seperti Kediri, Mojokerto, Malang, Surabaya, Sidoarjo rutin mampir setiap minggu. “Ramainya akhir pekan, seperti Sabtu dan Minggu kayak gini,’’ jelasnya.

Semakin malam, pengunjung semakin padat dan tidak sedikit yang rela mengantri. Untuk melayani pembeli, Mbok Semah dibantu para kerabatnya. Warung yang melegenda di Jombang itu sering menjadi jujugan pejabat.

Mulai mantan Bupati Jombang Suyanto, Nyono Suharli, juga Bupati Jombang saat ini Mundjidah Wahab, juga sering mampir ke warung tersebut. ”Dulu Pak Yanto dan Pak Nyono itu sering, begitupula Bu Mundjidah dan keluarga, beliau juga sering, “kata Mbok Semah.

Andri (35) salah satu pelanggan asal Kabupaten Mojokerto menuturkan, meski banyak kuliner asal kota Onde-Onde, namun nasi lodeh Mbok Semah tetap istimewa.

”Rasanya enak, paduan lodeh tewelnya dan tahu yang disuwir-suwir ini terasa, apalagi disajikan dalam pincuk daun pisang, ’’ungkapnya.

Dia  mengaku lumayan sering mengunjungi warung Mbok Semah yang terletak di Dusun Kapas itu. ”Kadang-kadang kesini, kadang-kadang juga ke warung anaknya Kasman di sebelah timur sana. Sama-sama enak juga,’’katanya.

Reporter : Syarif Abdurrahman
Editor : Mas Garendi

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.