READING

Lodho, Masakan Paling Enak di Jawa Selatan

Lodho, Masakan Paling Enak di Jawa Selatan

“Memasak lodho bukan hanya soal bisnis, tetapi menghidupkan tradisi,” kata Suparti.

TULUNGAGUNG – Jika ada yang menganggap lodho sebagai makanan tradisional biasa, salah besar. Karena lodho adalah salah satu kuliner asal mataraman yang ditetapkan menjadi warisan budaya bukan benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dengan penetapan ini, tak boleh ada pihak lain yang mengklaim lodho ayam sebagai makanan asal daerah tertentu selain Jawa Timur.

Seberapa hebatnya makanan ini?

Seperti makam Bung Karno di Blitar, lodho ayam sudah menjadi ikon bagi masyarakat Jawa Timur, khususnya Kabupaten Trenggalek dan Tulungagung. Di tempat ini lodho menempati posisi puncak daftar makanan yang paling diburu. Tak heran jika keberadaan warung lodho bertebaran di sepanjang jalan dengan cita rasa beragam.

Sesuai pakem pembuatan lodho yang diwariskan turun temurun, masakan ini diolah dari daging ayam kampung yang dimasak menggunakan santan dan bumbu-bumbu rempah. Penyajiannya disandingkan dengan lalapan mentah dan nasi gurih yang juga berbahan dasar santan.

Dari sekian penjaja kuliner lodho di Tulungagung, warung Lestari Jaya milik Suparti di Desa Sukoanyar, Kecamatan Pakel paling terkenal. Tak sedikit blogger kuliner yang menyebut lodho di tempat ini paling enak di Tulungagung dan Trenggalek. Ulasan tentang lodho Lestari juga bertebaran di lini masa media sosial hingga media arus utama.

Untuk membuktikan kelezatan makanan ini, Jatimplus.ID mencoba mencicipi lodho ayam Lestari. Di luar dugaan, perjalanan menuju warung Suparti di Desa Sukoanyar lumayan jauh. Hamparan bukit kapur dan sentra kerajinan marmer mewarnai perjalanan menuju Kecamatan Pakel. Jarak tempuhnya kurang lebih 20 kilometer dari pusat kota Tulungagung.

Warung Lestari berada di kanan jalan. Meski kerap menjadi langganan pejabat, tak serta merta penampilan warung ini menyerupai restoran. Layout ruang makan juga dibuat sederhana dengan deretan meja marmer yang dikelilingi 4-5 kursi.

Penasaran dengan kisah lodho yang populer ini, Jatimplus.ID langsung bergerak menuju dapur, tempat makanan ini dimasak. Aroma rempah langsung tercium meski perjalanan menuju dapur baru setengah jalan. Lokasi dapur memang diletakkan paling belakang rumah Suparti agar tak mengganggu kenyamanan pengunjung.

Dapur masak lodho Lestari yang menggunakan perapian tempurung kelapa. Foto Jatimplus/Hari Tri Wasono

Benar saja, kepulan asap ini berasal dari wajan besar di atas perapian. Bahan bakarnya tempurung kelapa yang telah dipisahkan dari daging buah. Tak ada peralatan elektronik di sini. Bahkan dinding dapur pun terbuat dari anyaman bambu atau sesek. “Tungku ini tak pernah mati mulai jam 06.00 pagi,” kata Suparmi, juru masak yang sibuk mengaduk lodho di atas perapian.

Perempuan paruh baya ini menjelaskan memasak lodho diawali dengan membakar ayam yang telah dibersihkan bagian dalamnya. Pekerjaan ini dimulai sejak pukul 06.00 WIB oleh beberapa orang sekaligus karena jumlahnya cukup banyak. Setiap hari warung lodho ini membakar tak kurang dari 100 ekor ayam. Jumlah ini meningkat dua kali lipat di hari libur.

Setelah cukup matang dan kering, daging ayam dimasukkan ke dalam wajan yang telah berisi kuah pedas dalam keadaan utuh atau tak dipotong. Sayang Suparmi tak menyebut detil racikan bumbu dan bahan untuk membuat kuahnya.

Dia hanya menyebut bawang merah, bawang putih, merica, dan garam sebagai bumbu dasarnya. Lainnya disimpan rapat-rapat sebagai rahasia perusahaan.

Pemandangan yang nampak dari kuah itu adalah cabe. Suparmi mengaku memasukkan 10 kilogram cabe untuk memasak 100 ekor ayam. Tak heran jika rasa kuahnya sangat pedas meski cabe yang direbus dalam keadaan utuh.

Suparti, pemilik warung lodho Lestari. Foto Jatimplus/Hari Tri Wasono

Selain racikam bumbu, rahasia dapur pembuatan lodho yang lezat adalah pemilihan ayam. Suparti, pemilik yang telah merintis usaha ini sejak tahun 1970 mengklaim hanya menggunakan ayam kampung untuk masakannya. “Hanya ayam kampung yang dagingnya kesat dan gurih,” pesannya.

Penyajian lodho di tempat ini juga berbeda. Suparti tak pernah menyajikan daging ayam dalam bentuk potongan, melainkan satu ekor utuh. Ayam ini disajikan dengan kuah terpisah, lalapan daun bayam ketela, irisan timun, parutan kelapa pedas, dan nasi gurih. Di atas daging ayam diguyur sedikit kuah pedas dengan taburan cabe. Rasanya benar-benar mantab. Sebagai masakan leluhur, Suparti berharap anak-anaknya kelak bisa melanjutkan usaha kuliner ini. Dia tak ingin warungnya menyajikan makanan cepat saji yang mulai melanda industri kuliner di Tulungagung.

Penulis : Hari Tri Wasono
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.