READING

Madiun Diincar Investor Besar, Ini Alasannya

Madiun Diincar Investor Besar, Ini Alasannya

MADIUN- Paska dibangunnya jalan bebas hambatan (jalan tol), Kabupaten Madiun menjadi incaran sejumlah investor besar. Salah satunya industri minuman beralkohol berorientasi ekspor dan pabrik kulit.

Setelah beroperasi di Surabaya, owner usaha minuman beralkohol dengan pasar negara Korea itu berencana memindahkan pabrik ke Madiun. Ketertarikan itu disinyalir pengaruh rendahnya upah minimum kabupaten (UMK) Madiun.

Namun dengan berbagai pertimbangan, Pemkab Madiun melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) dengan tegas menyatakan penolakan.

Seperti dilansir dari tribunnews.com, produksi minuman beralkohol dinilai tidak sesuai dengan visi misi Kabupaten Madiun. Alasan yang paling mendasar penolakan adalah mayoritas penduduk Madiun yang muslim.

“Karena pertimbangan itu, kami menyarankan untuk tidak dilakukan di Madiun, “ujar Kepala DPMPTSP Kabupaten Madiun Arik Krisdianto. Pemkab tidak ingin kehadiran pabrik minuman beralkohol di Madiun hanya akan menimbulkan pro kontra di masyarakat.

Selama ini pemkab Madiun memang membuka pintu lebar lebar untuk investor. Sebab hal itu terkait lapangan kerja dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Namun semuanya tetap melalui seleksi yang ketat. Artinya Pemkab tidak akan menerima investasi yang menimbulkan dampak sosial dan lingkungan.

Selain pabrik minuman beralkohol, Pemkab Madiun juga menolak tawaran investasi pabrik kulit yang sebelumnya beroperasi di wilayah Kabupaten Ngawi. Pabrik kulit itu rencanannya akan dibangun di wilayah Pilangkenceng.

Dengan pertimbangan produksi kulit membawa dampak kimia yang merusak lingkungan, Pemkab Madiun menyatakan menolak. “Pabrik kulit itu akan menggunakan bahan kimia. Karena alasan itu kita menolaknya, “kata Aris.

Sementara seiring dengan beroperasinya jalan tol trans Jawa dan double track yang melintasi Madiun, Bank Indonesia Kantor Wilayah Kediri pernah mengingatkan rendahnya UMK Madiun.

Di depan seluruh pimpinan kepala daerah di eks karsidenan Madiun, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Wilayah Kediri Djoko Raharto mencontohkan perbandingan UMK Madiun dengan Surabaya.

Jika semisal UMK Madiun Rp 2 juta dan Surabaya Rp 4 juta, maka investor akan memilih berbondong bondong ke Madiun.

Artinya, selain infrastruktur jalan (tol), faktor rendahnya upah buruh juga mendorong investor lebih memilih menanamkan modal ke Madiun. Diperkirakan Madiun akan kebanjiran investor. Karena itu Djoko berharap Madiun lebih selektif memilih investor, yakni terutama menyangkut dampak lingkungan.

Pemkab Madiun disarankan menerima investor yang menggunakan bahan baku dari Madiun sendiri. Selain menciptakan lapangan kerja juga sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat penyedia bahan. (*)


Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.