READING

Mahasiswa Universitas Brawijaya Ciptakan Alat Dete...

Mahasiswa Universitas Brawijaya Ciptakan Alat Deteksi Korban Gempa

Gempa yang kerap terjadi di berbagai wilayah Indonesia, kerap menimbulkan jatuhnya korban luka maupun korban jiwa. Korban yang meninggal biasanya karena tertimpa reruntuhan. Namun bisa juga karena terlambat mendapatkan pertolongan. Keterlambatan korban mendapatkan pertolongan bisa disebabkan korban terkubur oleh reruntuhan sehingga tim pencari kesulitan menemukan posisinya. Maka, penemuan alat deteksi posisi korban gempa oleh tiga mahasiswa Univesitas Brawijaya Malang ini tentu saja kabar yang menggembirakan.

MALANG – Saat gempa mengguncang Padang dan sekitarnya pada tahun 2009 lalu, Satrio Wiradinata Riady Boer atau akrab dipanggil Rio, masih berusia 13 tahun dan duduk dibangku SMP. Dia berpikir kiamat sudah datang. Dengan mata kepala sendiri dia melihat sejumlah bangunan rumah bergetar sebelumnya akhirnya rata dengan tanah. Hingga kini, suara gemeretak tembok yang retak masih diingatnya dengan jelas. “Seperti deru pesawat tempur terbang rendah,” katanya pada Jatimmplus.ID saat ditemui di kampus Universitas Brawijaya Malang. Untungnya dia berhasil keluar dengan selamat dari gedung dua tingkat saat gempa dahsyat itu terjadi.

Namun ketidakberuntungan korban lain yang terluka bahkan sampai meninggal masih mengendap dalam ingatannya meski kejadian itu sudah berlangsung sekitar 10 tahuh lalu. Dalam peristiwa itu terdapat korban yang meninggal karena tertimpa reruntuhan atau meninggal karena posisinya yang sulit ditemukan sehingga terlambat mendapatkan pertolongan. Rio juga menceritakan, ada korban tertimpa reruntuhan yang kakinya harus diamputasi sampai lutut karena posisinya dalam reruntuhan tak segera bisa ditemukan. “Jika segera ditemukan, mungkin bagian kaki yang diamputasi tak separah itu,” ujarnya.

Dari kejadian gempa Padang tahun 2009 itu, mahasiswa semester 6 jurusan Fisika pada  Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Brawijaya ini lantas bertukar pikiran dengan dua karibnya satu jurusan untuk membuat alat yang bisa mendeteksi keberadaan sesorang.  Gayung pun bersambut. Bersama dengan M. Rikza Maulana dan Adin Okta Triqadafi yang satu angkatan, Rio lantas bergerak mewujudkan ide membuat alat deteksi di bawah bimbingan dosen Zubaidah Ningsih.

Tiga mahasiswa UB (ki-ka : Satrio Wiradinata Riady Boer, M. Rikza Maulana dan Adin Okta Triqadafi) saat melakukan simulasi pencarian korban yang terjebak dalam reruntuhan. FOTO: JATIMPLUS.ID/Prasto Wardoyo.

Prinsip kerja dari alat deteksi yang dibuat oleh ketiga mahasiswa ini mensyaratkan adanya alat yang bisa memancarkan sinyal dan alat penerima pancaran. Kepada Jatimlus.ID Rizka menjelaskan bahwa sinyal akan diterima oleh tim pencari jika penyintas menggoyangkan alat yang diberi nama Deoterions (Detector of interconnected Position Points) itu. “Korban yang siuman dari pingsan dan terjebak dalam reruntuhan akibat gempa tak perlu menghidupkan peralatan apapun. Cuma dengan digoyang saja, alat ini bisa mengirimkan sinyal dari posisinya. Pada alat berupa smartphone yang sudah terprogram, sinyal dari Deotorions akan ditangkap,” jelas Rizka.

Keberadaan dan jumlah Detorions ditandai dengan sejumlah kotak berwarna merah pada monitor. Jika tak ada geakan atau getaran, warna kotak tetap merah. Namun jika ada getaran warna kotak akan berubah menjadi hijau. Alat deteksi posisi dengan cara getar ini menggunakan gelombang radio dengan jarak jangkau terjauh mencapai 112 meter. 

Rizka menambahkan dengan melihat dari layar  monitor bisa diperkiraaan jarak penyintas dengan tim pendeteksi. Semakin tinggi besaran angka sinyal, semakin jauh posisi korban. Demikian sebaliknya. Semakin dekat tim pencari dengan posisi korban, besaran angka sinyal semakin mengecil. Alat monitor juga bisa merekam kapan terakhir korban menggetarkan alat yang dibawanya. Ketiganya berharap, alat temuan mereka ini bisa dikembangkan lebih lanjut untuk kemanfaatan dengan daya jangkau dan daya guna yang lebih luas. Apalagi mengingat Indonesia adalah negara dengan potensi bencana yang tinggi karena memiliki patahan dan letaknya dalam bentangan panjang sabuk gunung berapi. (Prasto Wardoyo)

print

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.