READING

Mak Plengeh, Bolu Kering Asal Kediri Yang Bikin Me...

Mak Plengeh, Bolu Kering Asal Kediri Yang Bikin Mesem Pembeli

KEDIRI- Namanya bolu kering Mak Plengeh. Oleh-oleh asal Kediri dengan karakter senyum tersebut memang bisa membuat penikmatnya “mesem” usai mengunyah. Plengeh dalam bahasa Jawa berarti tersenyum lebar. Dari situlah Anik Wahyuningsih memakai kata “plengeh” sebagai merek dagangnya.

“Dulu awalnya terinspirasi dari kripik pedas Maicih. Tapi karena saya ingin konsumen saya senang dengan produk saya, ya saya kasih nama Mak Plengeh saja,” terang Anik kepada Jatimplus.ID.

Usaha bolu kering Mak Plengeh sendiri sudah berjalan delapan tahun. Usaha itu berawal dari adanya  permintaan cukup besar dari pasar. Sementara saat itu tidak banyak produsen yang sanggup memenuhinya, terutama dari jumlah produksi.

“Saat itu saya punya kenalan empat produsen bolu kering skala kecil di rumah asal saya di Selosari, Kandat. Mereka tidak sanggup kalau produksi banyak,” katanya. Walau awalnya kurang menyukai kegiatan memasak, perempuan 52 tahun itu memaksakan diri membuat sendiri untuk kemudian dijual.

Ada perasaan eman menyia-nyiakan kesempatan yang ada. “Sayang saja kalau pasarnya ada tapi nggak ada yang suplay. Jadinya saya ikut produksi untuk memenuhi permintaan konsumen,” tambah perempuan berjilbab tersebut ketika ditemui di tokonya di Jalan Kapten Tendean, Kelurahan Blabak, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.

Berbekal dari semangat berjualan, Anik berusaha meracik bolu yang maknyus dan awet. Proses trial and error berlangsung hampir setahun. Hingga akhirnya dirinya bisa menemukan adonan bahan yang pas, serta cara yang tepat bagaimana produk berumur panjang.

“Selain rasa yang pastinya enak, bolu saya bisa tahan sampai berbulan-bulan bahkan setahun tanpa menggunakan pengawet sama sekali,” kata lulusan Teknologi Pangan Universitas Brawijaya tersebut.

Anik memakai bahan bahan umumnya standar kue bolu. Yang sedikit berbeda, bolu buatannya dibikin kering dengan tujuh varian rasa. Packagingnya unik dan kekinian. Selain menarik perhatian juga melindungi bolu agar tidak mudah rusak atau terkontaminasi.

 “Kalau penjualan ke luar kota saya pakai sistem grosiran. Bisa sampai ke luar pulau seperti Bontang, Lombok, dan pulau-pulau lainnya,” bebernya.

Tidak sedikit yang mendorong Anik untuk merambah pasar ekspor. Namun hingga kini dirinya belum berminat. Selain proses administrasi yang rumit, baginya pasar domestik masih cukup menjanjikan.

“Dari segi kesiapan jumlah produksi bisa-bisa saja. Hanya saja saya lebih tertarik memenuhi permintaan dalam negeri dulu saja,” urai perempuan berkacamata tersebut.

Saat ini Anik memiliki empat mesin produksi dengan kapasitas produksi mencapai setengah ton per hari. Namun untuk sehari hari dirinya hanya memproduksi 1,5 kuintal produk jadi. Ini dikarenakan, dirinya mulai melakukan diversifikasi produk.

“Sekarang tidak hanya bolu kering saja. Mak Plengeh juga menjual produk keripik pisang, kacang sangrai, keripik usus hingga bawang goreng, ”katanya.

Meski permintaan pasar terhadap bolu kering cukup besar, Anik tetap merasakan pasang surut bisnis. Pasalnya bahan baku yang dipake untuk bolu kering adalah tepung terigu yang terbuat dari gandum. Sementara gandum tidak diproduksi di dalam negeri, melainkan mendatangkan (impor).

Karena ketika nilai rupiah terhadap dolar melemah, bisnis Anik juga merasakan imbasnya. “Otomatis biaya  bahan bakunya terus meningkat padahal untuk harga produk tidak bisa asal naik agar konsumen tidak lari, ”curhatnya.

Meski demikian Anik tetap optimis kue bolunya tetap digemari pasar. Selain dari sisi rasa yang memang menjual, ibu tiga anak tersebut berani menjamin kualitas produknya aman dari persoalan pangan.

“Bahan-bahan yang digunakan bagus dan sehat. Harga bersaing, ”pungkasnya.

Reporter : Dina Rosyidha
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.