Makin Sedekah Makin Makmur (5)

Salah satu yang dikenal masyarakat dari PT Gudang Garam Tbk adalah pembagian sedekah lebaran. Tjoa Ing Wie percaya bahwa makin banyak uang yang disedekahkan, usahanya akan makin makmur.

Meski baru seumur jagung, perusahaan rokok Gudang Garam yang dirintis Ing Wie di Semampir Kediri cukup diikenal. Bukan hanya tentang produknya yang banyak digemari, namun sikap kedermawanan Tjoa Ing Wie untuk membagi keuntungan perusahaan dengan masyarakat.

Sejak merintis usaha kecilnya di sebuah gang kecil di utara Rumah Sakit Angkatan Darat DKT, Tjoa Ing Wie sudah berujar. “Sopo sing melu kelara-lara iki mbesuk tak wehi ulang tahun karo tak ajak nglencer (siapa yang ikut bersusah payah hari ini, kelak akan saya berikan hadiah ulang tahun dan tamasya),” kata Tjoa Ing Wie kepada 11 karyawannya pertama.

Janji itu bukan isapan jempol. Sebelas karyawannya yang merintis usaha pembuatan rokok Gudang Garam mendapat fasilitas berbeda dari Tjoa Ing Wie. Tak hanya diajak berlibur ke Singapura selama 10 hari, mereka juga dibuatkan rumah untuk ditempati bersama keluarga meski tak boleh dijual. Dan meski sudah pensiun, mereka tetap mendapatkan upah pensiun sebesar Rp 300 ribu per bulan seumur hidup.

Tak hanya itu, pekerja angkatan pertama yang terdiri dari 2 tukang press, 5 tukang linting, dan 4 tukang giling juga berhak memasukkan anak turunnya bekerja di perusahaan itu. Mujiati adalah salah satunya. Karena tercatat sebagai karyawan pertama dalam angkatan pekerja Gudang Garam, dia memiliki hak memasukkan anak dan menantunya di pabrik. Dia juga mendapatkan uang pensiun hingga kelak meninggal dunia. “Tapi saya tidak mendapat rumah dan tidak diajak wisata ke Singapura,” katanya.

Meski telah bekerja di perusahaan itu sejak tahun 1959, Mujiati terdepak dari daftar 11 pekerja rintisan. Ini lantaran dirinya sempat mengundurkan diri dari pabrik itu setelah menikah dan hamil setahun kemudian. Namun dia kembali bekerja di tahun 1963 hingga 35 tahun kemudian.

Menurut kesaksian Mujiati, sosok Tjoa Ing Wie adalah pengusaha Tionghoa yang sangat dermawan. Dia tak pernah memarahi anak buahnya dan menjaga jarak dengan mereka. Tak hanya sebagai bos, Tjoa Ing Wie sudah seperti saudara bagi para karyawannya.

Jauh sebelum kesadaran tentang hak perempuan disuarakan, Tjoa Ing Wie sudah melakukan hal luar biasa. Tak hanya mengijinkan karyawan perempuan membawa anak, dia juga menyediakan rumah khusus kepada mereka untuk memberi ASI.

Selama kurun waktu bekerja di tempat itu, para karyawan mendapat waktu menyusui setiap tiga jam sekali. Tempatnya juga dipisahkan agak jauh dari pabrik agar tak mengganggu kesehatan si anak.

Untuk urusan duit dia juga tak pelit. Meski tak merayakan lebaran Idul Fitri, Tjoa Ing Wie selalu memberikan bonus khusus kepada karyawannya yang sebagian besar Muslim. Pada awalnya mereka mendapatkan satu potong kain jarik dan pakaian untuk setiap karyawan perempuan. Namun belakangan hadiah lebaran itu diganti dengan uang senilai Rp 24 ribu. Sedangkan anak-anak mereka mendapat jatah Rp 5 ribu.

Tak hanya kepada karyawan, kedermawanan Tjoa Ing Wie ini juga berlaku kepada masyarakat di sekitar pabrik dan orang lain. Bahkan kepada 20 keluarga yang berdiam di sekitar pabrik, Ing Wie memberikan jatah lebaran sama persis dengan yang diterima karyawan. “Merekalah yang pertama kali menolong kalau terjadi apa-apa,” kata Tjoa Ing Wie.

Hal ini terbukti ketika suatu saat pabrik tersebut mengalami kebakaran hebat, masyarakat sekitar lah yang berjuang keras membantu memadamkan. Sehingga bagi Ing Wie, mereka adalah bagian dari keluarga Gudang Garam.

Kedermawanan Tjoa Ing Wie memang tak diragukan. Bahkan kepada gelandangan yang setiap hari mondar-mandir di sekitar pabrik dia tak pelit. Setiap lebaran mereka juga mendapatkan sedekah lebaran dari pemilik pabrik sebesar Rp 8.000. “Pedagang yang berjualan di sekitar pabrik juga dibuatkan tempat dan mendapat uang lebaran,” kata Mujiati.

Gedung baru PT Gudang Garam Tbk di Semampir Kediri. Foto istimewa

Kedermawanan ini pula yang melatarbelakangi pemberian sedekah lebaran yang hingga kini masih diteruskan oleh pengelola pabrik. Menurut Mujiati, suatu saat Ing Wie berkata kepada para karyawannya agar membawa anaknya ke pabrik untuk mendapat angpau lebaran. Pesan itu ditanggapi berbeda oleh Lilik, salah satu karyawati pabrik, yang menyebar kabar kepada seluruh masyarakat untuk membawa anak mereka ke pabrik.

Kedatangan rombongan ibu-ibu yang membawa anak ini membuat Ing Wie terkejut. Namun bukannya marah kepada Lilik, dia justru tertawa dan membagikan angpau kepada mereka. “Yo wis gak po-po, pabrike ben tambah sugih (Tidak apa-apa, pabriknya biar tambah makmur),” kata Ing Wie.

Baca juga: Tjoa Ing Hwie, Perantau Ulung Dari Daratan Cina

Baca juga: Kesaksian Mujiati, Buruh Pertama Gudang Garam

Baca juga: Sedikit Surut Banyak Pasang

Baca juga: Hoki dan Rezeki Logo Gudang Garam

Mustofa, anak sulung Mujiati yang pernah bekerja sebagai mandor di pabrik Gudang Garam memiliki kenangan lain tentang Ing Wie. Suatu saat ada teman kerjanya yang berjalan ke klinik karena sakit gigi. Di tengah perjalanan dia bertemu Ing Wie dan menanyakan sakitnya.

Mengetahui karyawannya sakit gigi, Ing Wie meminta karyawan itu mencabut satu helai rambutnya sendiri. Sambil membuka telapak tangannya, Ing Wie meminta karyawan itu meletakkan rambutnya dan meludahi tangannya. “Teman saya tadi sempat ragu, masak mau meludah di tangan bosnya,” kata Mustofa.

Namun karena dipaksa, dia akhirnya melakukan itu. Dan ajaib, sakit giginya langsung sembuh. Karyawan itu tak jadi ke klinik dan kembali ke tempat kerjanya seperti biasa.

Selain kepada karyawan, Ing Wie juga pandai menjaga hubungan dengan masyarakat dan tokoh agama di Kediri. Diantaranya adalah Kiai Anwar Iskandar, pengasuh Ponpes Al Amin Ngasinan dan Kiai Mahrus Aly, pengasuh Ponpes Lirboyo. “Setiap hari Ing Wie mengirimkan 200 batang rokok kepada Kiai Mahrus,” kata Mustofa.

Kepada Kiai Anwar Iskandar, Ing Wie juga meminta dilakukan pengajian rutin di dalam pabrik untuk memberi ilmu agama kepada karyawan. Bahkan di setiap kegiatan keagamaan Islam, Ing Wie juga mengenakan sarung, kopyah, dan baju koko.

Sikap-sikap inilah yang membuat PT Gudang Garam tak hanya menjadi menjadi milik keluarga Ing Wie, tetapi telah menjadi bagian dari masyarakat Kediri.

Kenangan tentang Tjoa Ing Wie juga hidup di benak para karyawannya meski tak lagi bekerja di sana. Mujiati bahkan bermimpi Ing Wie terbang ke langit diapit dua perempuan cantik yang memiliki sayap, di hari ketika pemilik pabrik itu menghembuskan nafas terakhir tahun 1985. Setahun berikutnya, suaminya Paeran, yang merupakan sopir pertama PT Gudang Garam juga meninggal dunia. “Semasa hidup Ing Wie pernah mengajak suami saya foto bersama. Dia bilang begini, ayo Ran foto bareng. Nek mati yo ben bareng,” kenang Mujiati.  (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.