READING

Maksud Hati Beri Pelajaran, Namun Malah Terjerat U...

Maksud Hati Beri Pelajaran, Namun Malah Terjerat UU ITE

MOJOKERTO- Fuad Nur Afifudin (20) maunya hanya memberi pelajaran. Baginya tidak benar sebuah warung makan menjadi ajang memadu hasrat.

Rekaman video sepasang remaja yang berasyik masyuk di lapak makan kawasan Trawas, Kabupaten Mojokerto itu diunggahnya menjadi status WhatsApp (WA).

“Warung kok digunakan untuk tempat bercinta. Dengan merekamnya saya ingin memberinya pelajaran, “tutur Fuad.

Tidak menunggu waktu lama, video hot hasil “kerja” silencenya sontak menjadi konsumsi publik. Semua teman WA Fuad turut menikmati. Melalui via chat, video asusila berdurasi 30 detik itu juga tersebar berantai antar grup WA.

Entah siapa yang melakukan, video itu juga tersebar di media sosial facebook. Target Fuad tercapai.

Dua sejoli yang memadu hasrat di depan umum itu, setidaknya akan malu dan kapok. Fuad tidak sadar perbuatannya melanggar hukum. Dia baru sadar, saat aparat kepolisian mencokoknya.

Ahad malam (16/12), pemuda asal Desa Belahantengah, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto itu ditangkap di rumahnya. Dia ditetapkan tersangka atas pelanggaran dua undang undang.

Pertama, UU RI No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Kemudian UU RI No 19 Tahun 2016 tentang ITE. Fuad terancam hukuman minimal 6 tahun penjara atau maksimal 12 tahun penjara.

Di depan petugas, Fuad berupaya membela diri. Dia mengaku tidak pernah berencana merekam dan menyebarkannya. Ide itu muncul tiba tiba setelah tak sengaja memergoki dua sejoli yang tengah diamuk asmara.

“Saya tidak paham konsekuensinya. Saya hanya memberikan pelajaran, “ungkapnya.

Seperti dilansir dari Surya.co.id, Kapolres Mojokerto AKBP Setyo Koes Heriyatno mengatakan tersangka (Fuad) mengakui hanya dirinya yang melakukan perbuatan perekaman. Fuad juga mengatakan dirinya menyebarkan video dengan mengunakan dua unit telepon selular.

Karenannya, sejauh ini polisi hanya menetapkan Fuad sebagai tersangka tunggal. “Tersangka sengaja merekam perbuatan yang dilakukan dua remaja dan sengaja menyebarluaskannya, “terang Setyo.

Terkait sejoli pemeran video mesum, Kapolres Setyo Koes Heriyatno mengatakan masih melakukan penelusuran. Belum diketahui pasti apakah yang bersangkutan bisa menjadi tersangka atau tidak.

“Kami masih mendalami terkait pasalnya, apakah dapat dijadikan tersangka atau tidak, “jelasnya.

Mereka Yang Tergigit UU ITE 

Kasus pelanggaran UU ITE akibat perekaman dan penyebarluasan yang menimpa Fuad Nur Afifudin bukan pertama kalinya. Belum lama ini staff honorer SMAN 7 Mataram, Baiq Nuril juga dinyatakan bersalah atas penyebar luasan rekaman perbincangan mesum kepala sekolahnya.

Putusan Mahkamah Agung (MA) menyatakan Baiq Nuril terbukti melanggar UU ITE. Baiq divonis bersalah dan harus menjalani hukuman 6 bulan penjara. Jeratan UU ITE juga menimpa GN mahasiswa Fakultas Kedokteran di salah satu kampus di Jakarta.

Perbuatan GN menyebar foto bugil kekasihnya di media sosial lantaran sakit hati karena putus pacaran dinyatakan bersalah. Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur menjatuhkan vonis 1 tahun penjara, ditambah denda Rp 1 miliar dan subsidair 1 bulan kurungan.

Upaya hukum peninjauan kembali (PK) yang ditempuh GN juga kandas setelah Mahkamah Agung (MA) menolaknya. MA melansir putusan itu pada Desember 2018.

Kasus terkait UU ITE juga menjerat Ita Suaria Diberty. Warga Jakarta itu menjadi tersangka UU ITE setelah merekam ulang CCTV yang memperlihatkan aksi pencurian.

Jaksa menyebut pengambilan gambar dari CCTV dilakukan secara tanpa hak, dan itu dianggap melanggar UU ITE. Ironisnya Ita merupakan korban dari aksi pencurian HP tersebut.

Masih ingat kasus Prita Mulysari, pasien rumah sakit Tangerang 2008-2012?. Prita merupakan orang pertama yang dijerat UU ITE satu tahun setelah aturan hukum itu diberlakukan.

Keluhan Prita terkait pelayanan rumah sakit yang disampaikannya via email kepada sejumlah rekannya dianggap melanggar UU ITE. Prita dinyatakan bersalah dan harus menjalani hukuman enam bulan penjara dan denda Rp 204 juta.

Pada tahun 2010, Nazirel Irham alias Ariel Peterpan (Sekarang Noah), penyanyi sekaligus artis juga pernah terjerat UU ITE. Rekaman video porno dirinya dengan dua perempuan mirip Luna Maya dan Cut Tari dianggap melanggar UU ITE. Ariel yang divonis 3,5 tahun penjara dan denda Rp 250 juta,  juga dijerat UU Pornografi.

Muhammad Arsyad, aktivis Makassar pada 2013-2014 dijatuhi hukuman penjara 100 hari di Rutan Makassar. Status atau pernyataan Arsyad di Blackberry Messenger (BBM) yang menyebut salah seorang politisi sebagai koruptor dianggap melanggar UU ITE.

UU ITE juga menjerat aktivis Front Mahasiswa Nasional Universitas Narotama, Surabaya Anindya Joediono. Anindya harus berurusan dengan hukum gara gara mengunggah kronologi penggerebekan di asrama mahasiswa Papua di Surabaya Juli 2018 dan pelecehan seksual yang dialaminya di facebook.

Yang terbaru di Kabupaten Blitar.  Seorang aktivis anti korupsi Moh Triyanto juga ditetapkan tersangka atas pelanggaran UU ITE.

Perbuatan Triyanto yang menyebarkan informasi surat panggilan KPK untuk Bupati Blitar (Yang kemudian diketahui palsu) di facebook  dianggap melanggar UU ITE. Padahal dirinya hanya menerima informasi dari orang lain.

Dikutip dari Merdeka.com, Direktur Eksekutif Yayasan Satu Dunia Firdaus Cahyadi mengatakan ada ratusan warga negara yang menjadi korban pasal karet UU ITE. Karenanya pasal karet pencemaran nama baik harus dihapus dari UU ITE. Ditegaskan juga kasus pencemaran nama baik sudah diatur dalam KUHP.  Sehingga UU ITE tidak perlu ikut mengaturnya. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.