READING

Malam “Pembantaian” Syahwat Batu, Antologi Puisi J...

Malam “Pembantaian” Syahwat Batu, Antologi Puisi Jember Pemenang HPI 2019

Sebanyak 87 puisi itu lahir setelah melalui kontemplasi selama 11 tahun.

JEMBER- Ali Ibnu Anwar, sang penyair adalah seorang pemuda asli Jenggawah Jember. Antologi (kumpulan) puisi berjudul Syahwat Batu ia susun saat masih nyantri di Pondok Pesantren Al- Amien, Madura.

Pada 18 Oktober 2019 lalu, Syahwat Batu terpilih sebagai Lima Buku Puisi Pilihan dalam Anugerah Hari Puisi Indonesia (HPI) 2019 di Jakarta. Malam itu di kedai kopi Nong, yakni sebuah warkop yang bersebelahan dengan bukit Gumuk Kerang, Kota Jember, para pemerhati sastra berkumpul secara khusus untuk “menghabisinya”.

“Salah satu kekuatan Ibnu, ia memiliki kemampuan membuat deskripsi dengan menggabungkan beberapa hal untuk membentuk efek yang tidak biasa hingga membentuk citraan visual yang sangat kuat, “ujar Cak Isnadi pemerhati sastra Jember yang di kalangan sastrawan akrab dipanggil Cak Is.

Syahwat Batu disebut memiliki segi bentuk yang tertib. Ibnu Anwar dianggap  sangat memperhitungkan pembagian bait, pola rima dan pemilihan diksi. “Dan itu arahannya kembali lagi ke atmosfer penghayatan keilahian. Meskipun itu dalam tataran yang sangat manusiawi, “sambung Cak Is.

Sebagian puisi Ibnu Anwar ia tulis di Jakarta. Ada beberapa juga yang ditulis saat umroh di tanah suci. Kondisi geografis Madura yang kering dan Jakarta yang keras turut menyumbang karakter dalam setiap puisi yang dilahirkannya. Mahbub Junaidi selaku pemantik acara juga menyampaikan ketertarikannya.

Puisi puisi Ibnu Anwar yang pernah memenangi Lomba Cipta Puisi se-JawaTimur gelaran Balai Bahasa Surabaya 2005 memiliki keterangan waktu dan tempat yang mampu merangsang pendarasnya.

Dalam puisi SyahwatBatu, Ibnu menyajikan perjalanan lintas kota seperti Madura dan Jakarta. Ia juga menyuguhkan lintas bangsa ketika posisinya berada di Jeddah dan Makkah.

Perjalanan mampu melahirkan sajak-sajak yang menyiratkan perenungan sang penulis. Dalam diskusi yang dimeriahkan dengan kopi dan cemilan singkong goreng itu Ibnu mengatakan jika setiap perjalanan yang ia lalui selalu ia kembalikan dalam dirinya sendiri.

Pengembalian itu memunculkan memori-memori yang pernah ia dapatkan selama proses belajar. Perspektif dan kecurigaan dalam menelisik karya lebih dalam juga berhamburan.  Ucok salah satu peserta diskusi secara lugas melontarkan kritiknya.

“Ya maklum. Karena njenengan santri, pelajaran-pelajaran di pondok sepertinya mempengaruhi Anda. Anda tidak keluar dari identitas santri itu. Kalau kita mau bicara ilahiah, ya sudah jadi dai! Penyair ini harus liar berekspresi! Terus terang, saya tunggu bukunya yang di luar ini. Atau Anda menentukan identitas ini? Atau mungkin bahasa sekarangya, jadi next Gus Mus atau next Zawawi Imron?”, tanya lelaki berkopyah itu diringi senyum tengilnya.

Kegelisahan serupa menyinggahi Barlean Bagus dari Forum Sastra Jember. Ia mempertanyakan akankah ada perbedaan corak dalampuisi-puisi Ibnu setelah puisi terakhir yang dibuat pada tahun 2015 itu. Menurutnya, apakah di tahun setelahnya puisi Ibnu masih dengan “dunia keilahian” atau justru menjadi kafir.

Meski begitu,Cak Bagus merasa salut karena penyair sangat telaten dalam menemukan diksi-diksi seperti “tawadhun” atau “sawala”. Di tengah perbincangan yang menghangat itu, pemerhatisastra yang juga dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember Hat Pujiati turut menimpali obrolan.

Mbak Hat mengatakan jika selama ini ia pun sering bersinggungan dengan beberapa penulis puisi yang bercorak sama dengan Ibnu. Menurutnya, Syahwat Batu dikategorikan sebagai Sastra Pesantren. Dalam forum-forum ilmiah, definisi Sastra Pesantren itu bisa puisi maupun karya sastra yang bercerita tentang pesantren, karya yang berkembang di pesantren, atau yang ditulis oleh alumni pesantren.

“Ketika mereka di luar juga menulishal hal yang berbau ketuhanan, kayak begitu, dengan berbagai macam caraya. Itu masih dikategorikan sebagai Sastra Pesantren, ”terang Mbak Hat saat turut melebur dalam gaduh diskusi.

Ditemui saat akhir acara, Ibnu sangat mengapresiasi atensi dari seluruh peserta diskusi. Ia berharap ruang-ruang independen seperti malam itu tetap hidup dan berlangsung rutin.

“Meskipun nggak melulu membedah buku. Intinya sebagai ruang saling mengenal aja, biar bisa komunikasi. Kalau di Jember, upaya-upaya serupa itu ada tapi progresnya masih belum ketahuanya. Artinya, arahnya kemana, apakah mau mengangkat Pandhalungan menjadi sesuatu yang besar atau itu sebagai arah politis saja, “ujarnya kepada Jatimplus.id.

Reporter : Suci Rachmaningtyas
Editor : Mas Garendi 

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.