Malang, Surga Buku Bajakan?

Kenapa sebuah buku dibajak?. Pertama, karena harganya tidak ramah di kantong alias terlalu mahal. Kedua, tidak dicetak ulang dan menjadikannya langka. Dan ketiga karena memiliki pangsa pasar.      

MALANG- Ratih Kemala merasa bahagia. Di pasar buku Malang, yakni di Jalan Wilis Indah, Kecamatan Klojen Kota Malang, dirinya menjumpai banyak novel Bumi Manusia karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer dijual. Tidak hanya didapati di satu lapak pedagang. Hampir semua lapak memiliki stok melimpah.

Dia sempat berfikir mungkin pengaruh film Bumi Manusia yang akan dirilis 15 Agustus 2019 mendatang. Dampaknya karya Pak Pram kembali dicetak ulang. “Bisa jadi karena trailer filmnya lagi viral, kemudian berpengaruh pada buku bukunya,“ katanya.

Dalam perburuannya, Ratih tidak hanya menjumpai Bumi Manusia. Alumni Universitas Negeri Malang itu juga melihat novel Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca, yakni seri lengkap tetralogi Pulau Buru. Buku-buku yang pernah dicap terlarang di era rezim orde baru.

Yang membuat dirinya lebih tercengang lagi, harga buku-buku itu sangat merakyat. Setiap buku hanya dipatok Rp 20 ribu. Kondisinya juga tersegel baru. Bagi Ratih tawaran bandrol harga yang sangat murah. Harga yang sangat membantu mereka yang haus pengetahuan namun berkantong minimal. “Harga Rp 20 ribu itu murah sekali,“ tuturnya.  

Sebagai pembaca yang tekun, dia cukup tahu harga novel Bumi Manusia di toko buku Gramedia. Enam kali lipat dari harga yang dijual pedagang buku Wilis Malang. Sebuah bandrol yang bisa membuat mahasiswa terpaksa berpuasa dalam sepekan. “Kalau di toko lain Rp 100 ribu per buku. Disini (Toko Buku Wilis) bisa dapat lima buku,“ sambungnya.

Namun kebahagiaan Ratih seketika meleleh begitu segel buku dibuka. Dia mendapati cetakan kertas Bumi Manusia yang  buruk. Huruf-hurufnya tidak jelas, cenderung kabur dan menyakitkan mata. Tulang bukunya juga rapuh dimana kalau dibolak balik berulangkali beresiko jilidannya lepas.

Ratih sadar, buku murah yang ada ditangannya adalah barang bajakan. “Tentu saja kecewa,“ keluhnya. Tentu saja yang bernasib seperti Ratih tidak sedikit. Banyak kutu buku yang mengalami nasib serupa. Mereka biasanya baru sadar setelah membuka segel buku. Sebab tidak semua pedagang buku berani jujur mengatakan dagangan yang dijualnya bukan barang original.  

Fenomena maraknya buku bajakan sudah berlangsung lama. Ketika para pedagang buku Wilis Malang masih mangkal di kawasan Jalan Majapahit atau dikenal dengan sebutan Blok M (Blok Majapahit), buku bajakan sudah ada. Begitu juga saat pedagang buku masih berada di Jalan Sriwijaya, depan stasiun baru, dan belum dipaksa pindah ke kawasan Velodrom, Sawojajar. Buku bajakan sudah dijumpai.   

Namun tingkat kemarakannya tidak separah sekarang. Faktanya peredaran buku bajakan tidak bisa dibendung. Tidak hanya melimpahi toko buku offline. Tapi juga beredar luas di toko online. Bahkan tidak sedikit akun media sosial yang menjajakan secara terang-terangan

Selain buku karya Pramoedya Ananta Toer, buku Laskar Pelangi Andre Hirata dan karya lainnya, tergolong paling diminati pembajak. Kemudian juga novel-novel terjemahan penulis terkenal yang best seller, termasuk buku pelajaran sekolah. Penjualannya lumayan laris.

Kenyataanya, tidak semua pembaca sanggup berbelanja buku ori yang harganya selangit. Terutama buku-buku langka yang tidak dicetak ulang. Seperti novel Arus Balik karya Pramoedya. Cetakan awal kisah Wiranggaleng dan Idayu itu bisa mencapai Rp 1,5 juta. Kendati demikian barangnya tidak mesti ada. Di sisi lain, toko buku besar jarang memberlakukan potongan harga (diskon).  

Selain ketidakmampuan finansial, ada juga karakter pembaca yang memang tidak memperdulikan kualitas cetakan buku. Mereka hanya berburu isi buku. Menyerap pengetahuan yang ada. Karenanya tidak pernah memusingkan apakah buku yang dibaca adalah produk bajakan atau ori. Kelompok pembaca ini biasanya juga berkantong cekak.   

“Karena memang harganya murah jadi jangan minta kualitas,” terang Andini Risa owner toko buku online muarabooks menanggapi peredaran buku bajakan.

Andini Risa mengakui harga buku ori memang tidak murah. Bahkan setiap hari harganya terus melangit. Dan itu memang memberatkan bagi para pembaca yang berkantong jauh dari tebal. Tidak heran, kemunculan buku bajakan dengan harga yang miring, menjadi alternatif pilihan. Apalagi isi buku juga sama.

“Original maupun bajakan memang secara isi sama. Mungkin hanya kualitas cetakannya yang beda. Jadi memang banyak masyarakat yang memilih buku bajakan karena lebih murah,” ujar perempuan yang sudah 7 tahun malang melintang  sebagai pedagang buku online ini.

Meski murah dan mudah laku, sebagai pedagang, Andini mengaku tidak pernah tergoda menjual buku bajakan. Dia berusaha istiqomah berdagang buku original. Setahu dia pangsa pasar buku original tidak kalah besar. Bahkan lebih besar dari peminat buku bajakan. Masih banyak pembaca yang mengutamakan kualitas cetakan.

“Pembeli buku original biasanya lebih menghargai jerih payah penulis. Sehingga tidak memilih yang bajakan,” ungkapnya. Bagi Risa, satu satunya cara menghargai penulis adalah dengan membeli karya originalnya. Sebab menuangkan ide menjadi tulisan dan lalu dibukukan bukanlah pekerjaan yang gampang.

Di sisi lain dari hasil kerjasama dengan penerbit, penulis juga berkesempatan mendapat royalti penjualan. Hal ini berbeda dengan yang dilakukan para pembajak buku. Mereka hanya memburu keuntungan pribadi tanpa berbagi untung dengan penulis. Karenanya dalam kasus buku bajakan yang paling dirugikan adalah penulis.

Menurut Andini Risa, sebenarnya sudah ada regulasi undang-undang (UU) Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, para pelanggar hak cipta, yakni termasuk di dalamnya pembajak buku. Mereka dapat dikenai hukuman pidana maksimal 2 tahun penjara dan denda maksimal Rp 500 juta.

Hanya saja, aturan hukum itu selama ini tidak diberlakukan dengan tegas. “Sayangnya, kesan yang  mengemuka selama ini negara cenderung abai dengan fenomena pembajakan buku. Walhasil, para pembajak semakin leluasa,” keluh Andini Risa. 

Reporter : Moh. Fikri Zulfikar
Editor : Mas Garendi

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.