READING

Manisnya Lelehan Cokelat Brownies Njibrat

Manisnya Lelehan Cokelat Brownies Njibrat

KEDIRI – Pecinta makanan manis pasti mengenal browneis. Pamornya yang tidak ada matinya membuat makanan ini terus bermetamorfosis sesuai dengan selera pasar. Para pengusaha pun terus berinovasi demi mendapatkan produk yang otentik sekaligus disukai masyarakat.

Beberapa waktu belakangan mulai muncul brownies varian baru. Jika biasanya brownies hanya berupa kue basah rasa cokelat, kini brownies diberi lumeran cokelat di dalamnya. Membuat para pecinta brownies semakin dimanja oleh sensasi lembut nan manis di lidah ketika menikmati brownies.

Varian tidak umum inilah yang disuguhkan Agung Dewata, pemilik brownies Njibrat kepada konsumennya. Tidak hanya sensasi “njibrat”-nya saja yang diandalkan, Agung juga memproses browniesnya di atas pembakar arang sehingga ada aroma yang khas dan berbeda dari brownies pada umumnya.

“Alhamdulillah disukai masyarakat. Bisa bertahan sampai sekarang,” kata Agung.

Brownies “Njibrat” sendiri menggunakan cokelat premium dari Belanda. Sedangkan nama “Njibrat” diambil dari Bahasa Jawa yang artinya kemana-mana. “Sama seperti harapan kami, brownies Njibrat juga bisa punya cabang dimana-mana,” tambahnya.

Bagi kaum milenial, brownies merupakan makanan kekinian yang kerap menemani para pemesannya kongkow-kongkow sambil ngopi. Agung yang sering nongkrong ini pun berpikir untuk merintis bisnis kue brownies. “Coba-cobanya buka usaha ini sejak 2019,” bebernya.

Agung paham, sudah ada banyak jenis brownies yang ada di pasaran. Makanya ia dengan tekun memikirkan spesifikasi produknya agar “Njibrat” bisa segera mendapatkan pasar tersendiri. Agung juga rajin melakukan riset dan mencicipi brownies dari berbagai produsen. Akhirnya pria 27 tahun ini pun menemukan inspirasi baru untuk produknya tersebut.

“Karena ingin bebas finansial, makanya memulai usaha sendiri. Selain itu ingin menunjukkan bahwa milenial juga bisa menciptakan lapangan kerja,” katanya.

Ternyata usahanya cukup berhasil. Dalam sehari, omzetnya bisa mencapai Rp 4,5 juta per hari. Kapasitas produksinya 500 kue dengan harga jual Rp 9 ribu per kue. Dibandingkan kue sejenis, harga brownies milik Agung tidaklah terlalu mahal. “Motto usaha saya, jajanan sultan harga recehan,” tambahnya.

Pada saat pandemi, Agung ikut merasakan dampaknya. Omzet turun hingga 60 persen. Kini kapasitas produksi tinggal 200 kue/hari. Karyawannya juga berkurang dari 12 orang kini tinggal 4 orang saja. Pada masa pandemi, Njibrat lebih banyak melayani pembelian melalui GrabFood dan GoFood.

“Produksi turun, tapi Alhamdulillah masih bisa produksi,” ujarnya bersyukur.

Meski sedang masa sulit, Agung tetap optimis. Dia yakin bisnisnya akan pulih ketika anak-anak muda kembali beraktivitas. Apalagi Kota Kediri dipenuhi generasi milenial yang produktif dan kreatif.

Sejauh ini Brownies Njibrat berhasil mengantarkan Agung menjadi pemenang dalam ShopFest’19 dan KK Awards’19 kategori UMKM. Pemkot Kediri juga pernah mengundang Agung pada Meet Up Milenial Kreatif dengan Walikota pada medio Februari sebelum Corona menyerang. Pada kesempatan itu, Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar berkesempatan mencoba brownies ini dan ternyata sangat menyukainya.

Saat ini Brownies Njibrat bisa diakses secara online melalui akun @njibrat_browniesbakar. Sedangkan kedai resminya ada di Jalan Urip Sumoharjo (depan hotel Insumo Palace), Kota Kediri. Sebelumnya orderan brownies masih sekitaran Kediri saja. Kini pemasarannya telah menyentuh wilayah Tulungagung, dan Nganjuk.

“Harapannya bisa merambah ke provinsi lain dan level nasional,” harapnya. (pro/Dina Rosyidha)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.