READING

Manten Kopi di Blitar, Ketika Biji Kopi Menuju Pel...

Manten Kopi di Blitar, Ketika Biji Kopi Menuju Pelaminan

Asap dupa, aroma buah kopi yang menua. Alunan syair macapat membaur dengan alunan gamelan. Sepasang pengantin akan dipertemukan pagi itu. Bukan pengantin bergaun putih, namun sepasang biji kopi yang akan mengawali panen raya kopi tahun ini.

Kirab pengantin kopi diiringi tembang macapat mulai upacara hingga akhir.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

BLITAR-Upacara adat yang usianya lebih tua dari kebun kopi ini kembali digelar pada abad ke-21, tepatnya 22/06/2019 di Keboen Kopi Karanganjar, Kabupaten Blitar. Matahari pukul 10.000 WIB mulai menghangatkan tubuh para lelaki bersurjan dan perempuan berkebaya yang menggendong bakul. Mereka adalah pada karyawan PT. Harta Mulia yang akan memulai upacara Manten Kopi, pagi itu.

“Upacara Manten Kopi ini sudah ada sejak zaman ketika kakek saya di sini,” kata Wima Bramantya, Direktur Utama PT. Harta Mulia. Wima adalah generasi ke-3 pengelola kebun kopi seluas 246 hektar dengan nama De Karanganjar Koffieplantage. Sebelumnya, kebun ini dibangun dan dikelola Hindia Belanda sejak tahun 1874.

Wima ingin menghidupkan kembali tradisi yang sempat eksis di seluruh kebun kopi di Blitar masa silam. Seiring zaman, kebun kopi tak lagi mengadakan upacara Manten Kopi .

Menurut Wima, pada dasarnya upacara ini merupakan sarana untuk mengucapkan syukur atas panen tahun ini. Selain itu juga permohonan pada Tuhan agar kebun kopi menghasilkan biji-biji terbaiknya sehingga bisa menyejahterakan karyawan.

Pelaminan sang pengantin kopi. Berada di pohon kopi yang paling lebat di kebun. Doa-doa dipanjatkan sebagai tanda syukur.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

Bersatunya Energi Kesuburan

Ini tentang kesetiaan pada kerendahan hati untuk berterima kasih kepada Semesta yang telah memberi segala kebaikan. Kerendahan hati yang mengiringi langkah kaki seirama gamelan yang mengalun, dipanggul para niyaga (penaguh gamelan). Barisan paling depan adalah pembawa sesaji berupa pisang ayu, ingkung ayam (bekakak ayam), nasi, dan segenap sesajian yang lain. Layaknya mengiring pengantin, wajah suka cita itu melintasi koffie boomstraad (jalur pohon kopi) dan berakhir di “pelaminan”.

“Tempat upacara itu dipilih pohon kopi yang paling bagus buahnya,” terang Wima. Pohon itu tampak sudah tua dan berpengalaman membuahkan red cherry (buah kopi merah) terbaik di kebun itu. Tandannya rapat dan sudah merah. Layaknya pelaminan, sekeliling kebun kopi dilingkupi janur sebagai penanda.

Manten Kopi, penghormatan terhadap kesuburan dan Semesta.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

Doa-doa dipanjatkan dengan kekhusukan seiring dengan asap dupa yang memberi aroma kebun itu. Iringan gamelan dan tembang Dhandhanggula yang mengisahkan tentang kehidupan pun mengalun lembut. Sampai akhirnya, sang pendoa yang memimpin upacara memetik satu tangkai pohon kopi jantan dan betina yang berbuah ranum. Keduanya kemudian diletakkan di atas kain putih untuk diarak menuju pabrik. Menurut Wima, itu simbolisasi bahwa pengantin sudah dipertemukan dan menyatu.

Setelah panen simbolis ini, selanjutnya diikuti panen para pemetik kopi. Inilah moment ditandainya panen raya di Keboen Kopi Karanganjar. Panen akan berlangsung lebih dari sebulan. Dari kebun ini menyumbang hingga 100.000 ton/tahun. Tak semua ditanami kopi. Luas lahan kopi sekitar 60 hektar, sebanyak 90% kopi Robusta dan 10% kopi Excelsa.

Usai kopi jantan dan betina disatukan dalam pelaminan, petik kopi perdana untuk panen raya tahun ini dimulai.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

Keahlian dukun memilih kopi lanang (jantan) dan kopi wadon (betina) ini menarik. “Untuk tahu mana biji kopi jantan dan biji kopi betina, memang dukunnya tahu. Kalau dibuka, pasti akan ada biji kopi jantan dan betina,” terang Wima. Menebak biji kopi ketika masih terbalut kulit memang bukan perkara mudah. Selain keahlian khusus dukun, juga ilmu titen alias teknik menandai. Biasanya dalam satu pohon akan terdapat biji kopi lanang beberapa butir. Memang lebih banyak kopi betina.

Perlu diketahui, sebutan biji kopi lanang dan wadon ini tidak terkait dengan jenis kelamin bunga kopi dalam hal penyerbukan. Namun pada interpretasi bentuk dari biji kopi. Biji kopi dianggap sebagai biji kopi betina jika punya belahan seperti bentuk vagina. Bentuk ini sangat umum pada biji kopi sebab tumbuhan kopi termasuk dikotil (berkeping dua/berkeping belah). Sedangkan kopi lanang (peaberry) berupa biji bulat solid tanpa belahan.

Menurut penelitian Balittri (Badan Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar), Litbang Kementerian Pertanian, penyebab terjadinya kopi lanang yaitu penyerbukan yang tidak optimal, malnutrisi dan ketidakseimbangan distribusi makanan saat pembentukan biji, umur pohon kopi sudah di atas 10 tahun sehingga kemampuan penyerbukan menurun, dan kelainan genetika. Di kebun kopi ini rata-rata memang pohon tua yang masih dirawat sehingga masih berproduksi.

Simbolisasi giling kopi menandai awal produksi di pabrik kopi.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

Tradisi Lama Menghormati Semesta

Prosesi selanjutnya, sepasang pengantin kopi ini kemudian diserahkan dari Dirut ke kepala pabrik. Sebagai simbolisasi bahwa tugas selanjutnya ada di tangan kepala pabrik. Doa-doa dilanjutkan di pabrik, di antara mesin-mesin pengolah kopi zaman Belanda.

Kemudian, beberapa pemetik kopi perempuan  yang sudah menampung red cherry di dalam bakulnya, menuangkan ke mesin penggiling kopi. Mesin menderu, keluarlah kopi yang sudah terkelupas untuk kemudian menjadi green bean. Sebagai tanda bangunnya pabrik kopi tahun ini. Hari-hari berikutnya, pabrik ini akan dibangunkan oleh deru mesin penggiling kopi dan aktivitas lainnya.

Prosesi Manten Kopi terakhir berlangsung di pabrik kopi.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

Upacara Manten Kopi selesai, ditutup dengan ondrowinan (makan bersama). Tumpeng, ayam, dan lauk pauk lainnya dimakan bersama-sama.

“Tradisi upacara seperti ini dari era neolitikum revolusi. Masa itu selalu meyakini bahwa perkembangbiakan hanya bisa dari perkawinan. Itu juga cara pernyataan survive,” kata Cokorda Sawitri, budayawan Bali. Cok, demikian sapaan akrabnya, banyak mempelajari tradisi dan membaca kitab-kitab Bali kuno.

Ia menemukan bahwa tradisi manten kopi ini serupa dengan tradisi manten tembakau (pengantin tembakau) di sentra-sentra tembakau Jawa dan Bali pada masa lalu. Sama dengan kopi, manten kopi bukan berarti dikawinkan (penyerbukan) sebagaimana tumbuhan panili. Namun simbolisasi penyatuan jantan dan betina dalam perkawinan yang sakral. Merupakan penghormatan terhadap kesuburan, baik kesuburan dalam arti pembiakan maupun kesuburan tanah yang melahirkan hasil panen.

Upacara yang hadir sejak zaman awal manusia tinggal dan bercocok tanam.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

Era neolitikum revolusi (sekitar 1500 tahun silam) merupakan era ketika manusia mulai menetap dan bercocok tanam. Namun mereka masih “membaca” alam dan isinya sebagai sesuatu yang setara dengan manusia. Memperlakukan sama sebagaimana memperlakukan manusia. Termasuk dengan upacara-upacara dalam sistem pertanian. Sebagaimana upacara wiwit (panen padi di Jawa) untuk menghormati memboyong Dewi Sri atau upacara-upacara padi yang masih dilakukan suku Baduy.

“Konteksnya adalah memperlakukan tanaman bukan hanya sebagai komoditi,” kata Cok. Namun menghormati sebagai sesama makhluk sebagaimana yang tertuang dalam kitab suci.

Sarwa prani hitangkarah, dari Weda. Juga dimuat dalam Siwa Gama. Kalau soal mahluk hidup, Gama Bali itu akan menguatkan keyakinannya pada ayat ayat Weda yang relevan,” terang Cok.

Sarwa prani hitangkarah diterjemakan bebas bahwa semua makhluk di semesta ini termasuk flora dan fauna berbahagia. Sebuah ajaran kuno untuk menghormati martabat semua makhluk.

Bahkan kalau didengarkan dari pupuh macapat yang ditembangkan sepanjang upacara, penghormatan ini tak hanya pada makhluk yang kasat mata namun pada yang tak kasat mata. Pada pupuh terakhir (ke-4) Maskumbang yang ditembangkan mengakhiri kirab, disebutkan nama Nyai Gadhung Mlati dan Kyai Tunggul Wulung. Meski mereka tak terlihat, namun manusia tetap menghormati keberadaannya.

Nyai Gadhung Mlati merupakan sosok mitologi yang ada di Gunung Merapi. Sedangkan nama Kyai Tunggul Wulung disebut dalam Babad Kadhiri oleh Mas Ngabehi Purbawijaya dan Mas Ngabehi Mangunwijaya pada tahun 1832. Dalam babad tersebut tertulis bahwa Raja Jayabaya yang memerintah pada awal abad ke-12M. Sang Raja punya dua abdi setia yaitu Kyai Dhaha dan Kyai Daka, yang turut babat alas, alias membuka kerajaan Kediri hingga disinggahi kemakmuran. Sebagai tanda terima kasih atas jasa dua abdi ini, Sang Raja mengangkat Kyai Dhaha sebagai patih dengan nama Buta Locaya. Sedangkan Kyai Daka sebagai panglima perang dengan nama Tunggul Wulung.

Ketika Jayabaya moksa keduanya turut moksa. Dalam alam yang tak terlihat, Buta Locaya diberi tugas oleh Sanga Raja menjaga Selabale (yang kini disebut Gua Selomangleng di Kediri) dan Tunggul Wulung bertugas menjaga Gunung Kelud agar letusannya tak mencelakai masyarakat di sekitarnya.

Dalam kepercayaan akan kemuliaan tugas yang diemban Kyai Tunggul Wulung, maka dalam upacara sukuran manten kopi ini pun disebut. Ia yang tak terlihat tak pernah dilupakan.

Sejatine alam becik manunggal nyawiji/Hormat sesamining titah/Apa maneh cinangkung Nyai Gadhung Mlathei/Danyang perkebunan kopi/ Kyai Tunggul Wulung ugi/ Najan ora kawistara (tembang macapat Maskumambang yang mengiringi kirab Penganten Kopi).

Sesungguhnya kebaikan Semesta ada dalam satu kesatuan/Hormat pada sesama makhluk/Terlebih pada Nyai Gadhung Mlathi/Juga penguasa perkebunan/Juga Kyai Tunggul Wulung/ Meskipun tidak terlihat

(Titik Kartitiani)

Tradisi Manten Kopi yang menghormati semua makhluk, yang kasat mata dan yang tak terlihat.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo
Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.