Mantulnya Soto Basket Splindit Malang

MALANG – Suatu hari pada tahun 1950, di samping lapangan basket Jalan Agus Salim, Kota Malang, terlihat beberapa pemain basket bergerombol bermandi peluh. Bukan akibat berebut bola basket, melainkan karena sedang asyik menyantap semangkuk soto daging berkuah panas dan pedas.

Kemudian terjadi percakapan di antara para pemain basket itu dengan Abah Sukron, sang penjual soto pikulan.

“Pak, kasih nama dong sotonya, biar viral, eh ngetop maksudnya,” kata salah seorang pemain. Ia baru saja menghabiskan mangkok keduanya.
“Apa ya, Nak, nama yang cocok?” ujar Abah Sukron sambil termangu.
“Aha! Gimana kalo Soto Basket saja?” seru pemain lainnya.
“Gimana gaess?”
Setujuuuuu!” teriak mereka serempak. Sang penjual soto pun mengangguk senang tanda setuju.   

Soto Basket cabang Splindit, tepatnya di ujung gang seberang kantor Balai Lingkungan Hidup (BLH) di Jalan Majapahit, Kota Malang.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

Hahaha…. Tentu saja percakapan di atas hanyalah imajiner belaka. Itu yang terbayang di benak saya saat mendengarkan cerita asal muasal nama Soto Basket dari Rahmat Ardiansyah, atau Mas Dian (40), generasi ketiga sekaligus pemilik Soto Basket cabang Splindit, tepatnya di ujung gang seberang kantor Balai Lingkungan Hidup (BLH) di Jalan Majapahit Kota Malang.

Lokasi awal tempat Abah Sukron biasa mangkal yaitu di sekitar lapangan basket Jalan Agus Salim, kini sudah tidak ada lagi. Tempat itu telah digusur dan berubah menjadi pusat perbelanjaan. Abah Sukron kemudian berjualan soto dengan berpindah-pindah tempat.

Saat ini Soto Basket mempunyai 3 cabang yang dikelola oleh anak keturunan Abah Sukron, yaitu di Stasiun Kotabaru, Pecinan (Pasar Besar), dan di Splindit ini. Kenapa dinamai Splindit? Karena kawasan ini tak jauh dari Splendid Inn, salah satu penginapan legendaris di Kota Malang.  

Suasana warung Soto Basket di pagi hari.

“Sebelum dilepas Abah Sukron untuk buka warung sendiri, Bapak saya diuji dulu berjualan soto di lompongan toko di Pecinan,” kenang Mas Dian. Lompongan adalah istilah untuk lorong di antara dua toko yang biasa digunakan untuk membuka warung.

Abdul Rochman, bapak dari Mas Dian adalah generasi kedua dari penjual Soto Basket. Waktu itu ada 5 orang yang diberi kesempatan untuk membuka cabang, namun kini hanya tersisa 3 warung yang masih bertahan.
“Berjualan soto itu juga tergantung tangannya, Mas. Walaupun sama-sama keturunan Abah, tapi tidak semua mewarisi keahlian meracik bumbu soto,” jelas Mas Dian.
“Berarti ini Soto asli Malang ya, Mas,” selidik saya.
Ndak juga, Mas. Soto ini termasuk turunan dari Soto Lamongan kok, karena Abah asalnya dari Lamongan.” Ow, ternyata ga jauh-jauh dari Lamongan, salah satu kota di pesisir Jawa yang mempunyai akar sejarah “persotoan”.

Kuah bening kekuningan dengan irisan daging cukup banyak dan aroma rempah penuh kelezatan.
FOTO:JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

Bicara soal soto, kita para penggemar soto patut berbangga karena kuliner berkuah ini telah dinobatkan sebagai makanan nasional oleh Menteri Pariwisata, Arief Yahya, menemani empat kuliner lainnya yaitu rendang, nasi goreng, sate, dan gado-gado. Kurang satu sebenarnya, yaitu mie instan. Hehehe, becanda. Menyandang atribut sebagai makanan nasional tentulah tak main-main. Berarti soto dianggap sebagai salah satu makanan populer dan lazim dikonsumsi orang Indonesia. Sejarahnya tentu panjang soal makanan sejuta umat ini, namun tahukah Anda kalau soto dulunya adalah makanan hina?

Jaman dulu, jerohan yang menjadi bahan utama soto, adalah makanan kaum jelata yang tak layak dikonsumsi orang Belanda.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

Soto mulai dikenal sejak abad ke-19. Masakan ini dibawa oleh orang Kanton yang bermigrasi ke nusantara, tepatnya berlabuh pertama kali di Semarang. Soto lantas menjadi populer di wilayah peranakan Tionghoa di Semarang. Istilah soto sendiri berasal dari dialek Hokkian “Cau Do” yang berarti jeroan berempah.

Zaman penjajahan Belanda dulu, daging merupakan bahan makanan mewah. Karena itulah, jerohan dipakai orang Tionghoa dan pribumi untuk dijadikan bahan soto. Melihat bahan yang digunakan, soto di zaman itu dianggap tidak layak masuk ke dapur orang Belanda, karena dianggap hina dan hanya cocok menjadi makanan rakyat jelata saja. Namun seiring perkembangan zaman, soto naik kelas dan kini tak hanya berisi jeroan, tapi lebih beragam. Ada yang berisi daging ayam, kerbau, dan ada juga beberapa daerah yang menambahkan telur, tauge, kol, dan kondimen lainnya. Semua menyesuaikan selera dan kebudayaan daerah tempat soto itu berasal.

Menikmati Soto Basket yang hangat dan pedas dipadu dengan segelas es teh adalah “guilty pleasure” yang hakiki.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

Cukup cerita sejarah sotonya ya gaes, sekarang saatnya mencicipi Soto Basket yang legend itu. Hmm.. Kuahnya bening kekuningan. Kecambahnya tidak pelit, beradu dengan irisan daging yang juga cukup banyak. Saya menyendok kuahnya terlebih dulu. Rasanya unik. Seperti ada aroma rempah-rempah menyeruak hadir di antara kaldu daging dan bumbu sotonya. Dagingnya lembut, mudah untuk dikunyah. Taburan seledri dan bawang goreng turut menambah kelezatan Soto Basket.

Bagi yang tak puas dengan isian mangkuk soto yang sebenarnya sudah juara itu, bisa menambahi sotonya dengan lauk yang turut terhidang di meja. Ada banyak pilihannya. Ada telur asin, perkedel, tempe goreng, sate komoh, babat rawis, paru, dan usus. Berbagai macam kerupuk juga tersedia bagi yang tidak bisa makan tanpa kerupuk.

Harga makanan dan minuman di warung Soto Basket yang bersahabat dengan kantong.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

Sambil membayar harga makanan yang ternyata cukup bersahabat dengan kantong, saya masih mengajak ngobrol Mas Dian, mumpung hari masih pagi dan pelanggan belum begitu banyak datang.
“Apa sih, Mas, keistimewaan Soto Basket?” tanya saya. Mas Dian berpikir sejenak.
“Apa ya? Mungkin salah satunya karena di sini masih memasak pakai arang, jadi rasanya beda dengan yang pakai gas,” katanya dengan bangga “Itu sesuai dengan anjuran Abah untuk selalu pakai arang, biar terjaga orisinalitasnya.” Mantul, mantap betul.

Kasir warung Soto Basket bersebelahan dengan daput tempat Mas dian meracik dan menghidangkan soto ke pelanggan.

O iya Mas, biasa dalam sehari bisa menjual berapa mangkuk soto?” tanya saya penasaran.
Ndak tentu, Mas. Ya rata-rata 150 mangkuk,” jawab Bapak beranak dua itu.
“Wah pasti ramai dong kemarin pas libur lebaran. Bisa jual berapa mangkuk kalau pas libur hari besar?” sambung saya.
Ndak ada, Mas,” katanya santai. Saya kaget.
“Hah, ndak ada gimana mas?” sambil terkekeh Mas Dian.
Lalu berkata,”Kalau yang lain libur, warung saya ya ikut libur, Mas…hehehe.
Saya jadi curiga, jangan-jangan Mas Dian ini cuma hobi saja jualan soto.

Teks:Adhi Kusumo
Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.