READING

Manusuk Sima Hari Jadi Kota Kediri Era Covid-19, R...

Manusuk Sima Hari Jadi Kota Kediri Era Covid-19, Ritual Budaya Berpelengkap Faceshield

Untuk memperingati hari jadi Kota Kediri, Pemkot Kediri setiap tahunnya selalu menggelar Manusuk Sima, sebuah ritual jamasan (pemandian pusaka) dan pembacaan Prasasti Kuwak. Sebagaimana hari ini, 27 Juli 2020, Pemkot Kediri menggelar Manusuk Sima di Taman Tirtayasa, Kota Kediri bertepatan dengan hari jadi Kota Kediri yang ke 1141. Ada yang berbeda tahun ini, pagelaran dilakukan secara virtual dan semua peraga mengenakan face shield.

Para peraga sedang melakukan jamasan (memandikan pusaka) di panggung.

Acara diikuti 40 orang saja, khusus para peraga jamasan dan pembacaan Prasasti Kuwak. Semua mengenakan faceshield dan para penabuh gamelan mengenakan masker. Acara inti digelar sekitar pukul 09.30 WIB yaitu pembacaan Prasasti Kuwak. Prasasti yang menjelaskan tentang dijadikannya wilayah Kadiri (yang pada saat itu hanya seluas 4 tampah) sebagai tanah perdikan. Tanah yang dibebaskan dari pajak. Tanah yang dialiri oleh sumber mata air Tirtayasa menjadi tanah yang subur dan menjadi cikal bakal wilayah Kota Kediri saat ini.

Para penari beraksi dengan memakai faceshield.

“Kalau acaranya sudah lama, ya sejak Prasasti Sima. Tapi mulai dimeriahkan sejak peringatan ke-1127 (tahun 2006),” kata Nur Muhyar, Kepala Disbudparpora Kota Kediri. Acara ini sebetulnya termasuk agenda wisata. Selama dua tahun terakhir, Manusuk Sima mengundang banyak orang.

Biasanya, setelah Manusuk Sima, prasasti akan diarak bersama dengan karnaval yaitu Kediri Night Carnival, yang selalu terselenggara dengan meriah setiap tahunnya. Tapi tahun ini, hanya Manusuk Sima saja yang dilakukan, itu pun virtual.

Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar yang tak pernah absen dalam acara ini pun tidak hadir secara langsung dalam prosesi, namun menyampaikan pidatonya dari Kediri Command Centre, di Balai Kota Kediri.

Beberapa pelaku ritual berdiri di belakang sambil membawa dupa.

“Sejak dituliskan prasasti hingga kini, Kediri sudah berkembang. Mulai dari kejayaan Kerajaan Panjalu hingga kini menjadi kota yang dihuni oleh para milenial. 60% warga Kota Kediri ada milenial sehingga saya optimis Kota Kediri akan lebih jaya lagi, Jayati Kediri,” kata Abdullah Abu Bakar.

Seluruh rangkaian ini disiarkan live Youtube sehingga masyarakat yang tidak diperkenankan hadir, tetap bisa mengikuti tanpa mengurangi kekhidmad-an acara. Doa dipanjatkan, selain untuk kemakmuran Kota Kediri dan masyarakatnya juga agar Covid-19 segera berlalu.

Arak-arakan pelaku ritual meninggalkan panggung seiring dengan berakhirnya acara.

Teks : Titik Kartitiani, Foto : Adhi Kusumo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.