READING

Marak Lowongan Kerja Fiktif, Lakukan Hal Ini Untuk...

Marak Lowongan Kerja Fiktif, Lakukan Hal Ini Untuk Menghindarinya

Selama pandemi corona, banyak perusahaan melakukan efisiensi dengan memangkas jumlah pekerja. Sontak jumlah pengangguran membludak. Setelah pemerintah menyatakan masuk era new normal, kegiatan perekonomian pun mulai berjalan lagi. Beberapa perusahaan akhirnya melempar kembali lowongan-lowongan pekerjaan ke masyarakat.

Namun jangan lengah. Banyak penipu yang memanfaatkan mimpi buruk pengangguran di tengah wabah seperti ini. Modusnya yakni dengan menyebar informasi lowongan pekerjaan (loker) fiktif untuk menjaring korban. Jika tidak berhati-hati, para pencari kerja ini bisa menjadi sasaran empuk untuk meraup keuntungan.

Maraknya loker fiktif ini menjadi perbincangan warga net. Baik korban PHK maupun fresh graduate mengaku mendapatkan banyak sekali panggilan interview yang berujung pada penipuan. Ada sebagian yang menyadarinya sejak awal, namun tidak sedikit pula yang terbuai sampai merugi jutaan rupiah.

Berikut beberapa tips cara mengenali loker fiktif sebelum menghadiri wawancara kerja.

Cari informasi perusahaan pemberi kerja

Ada ratusan perusahaan yang setiap harinya melempar informasi loker ke masyarakat. Ada yang lewat instagram, facebook, whatsapp, hingga platform khusus info kerja seperti Jobstreet, Linkedin, dan lain-lain. Sebagian besar perusahaan-perusahaan tersebut memiliki nama yang masih asing bagi kita.

Hal pertama yang harus dilakukan ketika menemukan info loker adalah mencari tahu tentang perusahaan yang tertera dalam pengumuman. Cari di internet apakah perusahaan tersebut benar ada atau tidak. Bahkan akan lebih baik lagi jika mengecek langsung informasi loker tersebut di website perusahaan. Biasanya perusahaan besar meminta pencari kerja mendaftar langsung di kolom karir website resmi mereka.

Perhatikan format informasi lowongan

Poin ini khusus untuk informasi yang beredar melalui pesan whatsapp maupun surat elektronik (email). Isi dari pesan tersebut biasanya berupa undangan wawancara kerja. Pesan ini bisa jadi tiba-tiba muncul di inbox kita. Atau bisa pula muncul pasca kita mendaftar secara online di media sosial atau platform info kerja.

Jika kita sebelumnya tidak pernah mendaftar kerja di manapun, maka abaikan pesan tersebut karena jelas pesan spam. Tapi jika kita sebelumnya mendaftar secara online, sebaiknya perhatikan dulu isi dari pesan undangan tersebut.

Perusahaan resmi biasanya memberikan pesan dengan bahasa yang formal, to the point, dan mudah dipahami. Jika menggunakan kalimat non-formal, berbelit-belit, dan pengetikan yang disingkat-singkat, maka sebaiknya lupakan untuk melamar di perusahaan tersebut.

Cek lokasi wawancara

Pengecekan ini bukan berarti kita mendatangi lokasi secara langsung sebelum wawancara kerja. Cukup perhatikan alamat lokasi wawancara yang tertera di iklan lowongan kerja. Jika pemberi kerja adalah perusahaan besar namun wawancaranya menggunakan alamat ruko, maka sebaiknya tinggalkan.

Begitu pula dengan undangan wawancara via pesan whatsapp yang menjelaskan dengan detail rute menuju tempat wawancara. Maka dipastikan hal tersebut adalah penipuan. Informasi rute ini sekilas untuk memudahkan calon pelamar untuk bisa sampai di lokasi wawancara. Padahal informasi tersebut justru menunjukkan bahwa lokasi wawancara tidak berada di pusat perkantoran resmi, yang mudah dijangkau masyarakat umum.

Tolak permintaan mengirim sejumlah uang

Poin ini merupakan tanda paling nyata dari aksi penipuan berkedok lowongan kerja. Biasanya sejak proses wawancara atau bahkan sebelum itu, para pencari kerja diminta untuk membayar sejumlah uang dengan dalih untuk pembayaran travel, hotel, uang cek kesehatan, uang pendidikan atau training, dan lain-lainnya.

Jika diminta mengeluarkan sejumlah uang sejak proses rekrutmen, sebaiknya segera tinggalkan loker tersebut. Jika terlanjut datang ke lokasi wawancara, jangan pernah mau menandatangani dokumen apapun apalagi yang terbubuh materai. Usahakan untuk selalu waspada selama di tempat wawancara untuk menghindari modus kejahatan lainnya seperti hipnotis, penculikan, perampokan dan sebagainya.

Penulis : Dina Rosyidha

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.