READING

Marak Penculikan Anak, Orang Tua Datang Lebih Awal...

Marak Penculikan Anak, Orang Tua Datang Lebih Awal Jemput Anak Pulang Sekolah

SURABAYA– Akhir November 2019 cuaca kota Surabaya cerah. Matahari berteriak. Melotot. Suhu kota tercatat 34° Celsius. Awan putih bertengger di langit pucat. Agaknya jauh dari tanda-tanda awan akan runtuh.

Jam menunjukkan 11.00 WIB. Namun tak seperti biasanya Ani sudah memacu kuda besinya ke sekolah anaknya. Padahal pada hari-hari sebelumnya, dia baru berangkat menjemput anaknya sekitar pukul 11.20 WIB. Kini dia mengaku harus tiba di sekolah anaknya lebih awal.

Ibarat balapan. Ani harus tiba di sekolah anaknya di SDN Pacarkeling lebih awal berharap mendahului orang yang berniat jahat.

“Ya lebih awal jemputnya anak-anak ini. Tapi kalau ngantar enggak. Cuma jemput saja yang lebih awal.” Kata Ani pada Jatimplus.ID.

Tindakan Ani didasari maraknya peristiwa percobaan penculikan anak. Terbaru, kasus penculikan anak terjadi di Sidoarjo seminggu lalu. Seorang siswi  sebuah Madrasah Ibtidaiyah hendak diculik saat menuju sekolah. Untungnya, aksi tersebut berhasil digagalkan warga. Terduga pelaku kabur. Sampai sekarang kasus ini masih diusut polisi.

Tindakan Ani juga berdasarkan adanya surat edaran walikota Surabaya melalui seluruh kecamatan sesurabaya. Dalam surat camat Wonocolo misalnya, orang tua diminta mengawasi anak-anaknya lebih intensif. Warga kampung juga diminta meningkatkan pengamanan.

Sedangkan petugas jaga kampung, diminta lebih memperbanyak patroli. Sementara untuk warga diminta mewaspadai gerak-gerik orang asing yang masuk ke wilayah mereka. Jika masyarakat mendapati dugaan tindak pidana apapun, diminta segera menghubungi polisi atau Command Center 112 (Panggilan Darurat).

Camat Tambaksari Ridwan Mubarun mengaku mengedarkan surat hardcopy ke warga dan sekolah. Pihaknya juga tak lupa menyebarkan surat dengan format softcopy ke berbagai grup obrolan daring.

Surat edaran Kelurahan Tambaksari dalam upaya mengantisipasi maraknya penculikan anak. Foto: viral di grup perpesanan

Menjelang bubaran kegiatan belajar mengajar, di luar pagar sekolah terlihat belasan sepeda motor diparkir malang melintang. Surabaya yang terik memaksa para pemiliknya kendaraan itu berteduh di bawah pohon. Mereka adalah para orang tua siswa yang menjemput anaknya.

Sama dengan Ani, Devina sudah tiba di SDN Pacarkeling lebih awal. Dia juga menjemput anaknya pulang sekolah. Sambil mengobrol dengan orang tua murid lain, Devina sesekali mencermati anak-anak yang keluar dari gerbang sekolah.

Pembicaraan mereka tak lepas dari kabar percobaan penculikan di Sidoarjo. Mereka juga membahas beredarnya surat dari kecamatan yang isinya meminta agar warga lebih waspada dalam mengawasi anak-anak mereka.

Selain tiba di lingkungan sekolah lebih awal, Devina juga menasihati anaknya agar tidak berbicara dengan orang asing. Apalagi dengan bujuk rayu bahwa mereka adalah utusan dari orang tua untuk menjemput. Devina tak bosan-bosannya mengulan perintah ini kepada anaknya.

“Sudah. Sudah. Dari dulu dikasih tau. Kalau ditawari orang jangan mau. Sasa suruh nunggu di dalem aja,” kata Devina mengulang kalimat yang disampaikan ke anaknya.

Tapi agaknya pihak sekolah, orang tua, masyarakat, dan pemerintah kota perlu mewaspadai titik-titik rawan lain. Misalnya di samping sekolah SDN Pacarkeling yang dijadikan tempat mangkal pedagang makanan. Di tempat ini sejumlah penjual makanan dan minuman ramai dengan kerumunan siswa yang hendak membeli. Nyaris tak ada satupun pedagang yang tidak diantre para siswa. Jika tak diawasi, penculik bisa memanfaatkan situasi.

Reporter: Nikolaus Suhud
Editor: Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.