READING

Masjid Seblak Jombang, Peninggalan Menantu Mbah Ha...

Masjid Seblak Jombang, Peninggalan Menantu Mbah Hasyim Asy’ari

Sudah berumur satu abad lebih. Namun Masjid Seblak di komplek pondok pesantren Salafiyah  Seblak, Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, masih tampak kokoh dan terawat

JOMBANG- Sejak berdiri tahun 1913, bentuk rumah ibadah itu tidak banyak berubah. Atapnya bertahan dengan model meru. Segitiga lancip serupa piramida seperti halnya atap masjid Demak.

Bagian teratas itu tidak berganti kubah lonjong seperti umumnya digunakan masjid kekinian. Disisi dalam, yakni ruang jamaah dan pengimaman, lengkungan arsitektur khas jaman kerajaan Hindu juga masih kental terlihat. Begitu juga di bagian terasnya.

Selain sepuh, keberadaan masjid peninggalan Kiai Ma’shum Ali juga menjadi saksi tumbuh kembang sejumlah pondok pesantren besar di Jombang.

Siapa Kiai Ma’shum Ali yang juga dikenal sebagai penulis kitab Al-Amtsilah al-Tashirifiyyah itu ?. Ulama asal Gresik itu tidak lain suami Nyai Khairiyah Hasyim, putri KH Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Kelar berhaji sekaligus menimba ilmu kepada Syaikh Mahfudz Al-Termasi, Syaikh Baqir Al-Jukjawi, Syaikh Umar Hamdan Al-Mahrusi dan Syaikh Umar ibin Sholeh Al-Samarani,  Kiai Ma’shum mendirikan pondok pesantren Seblak bebarengan dengan masjid.

”Pembangunan masjid ini merupakan instruksi dari gurunya Mbah Ma’shum Ali yaitu KH Hasyim Asy’ari, “ujar KH Halim Mahfudz cucu Kiai Ma’shum.

Pusat Kegiatan Santri

Awalnya hanya bangunan kecil dari bambu berukuran tidak lebih dari 8 x 10 meter. Seiring bergulirnya waktu dan bertambahnya jamaah, pembenahan dilakukan disana sini.

Ukuran yang sempit diperluas. Dinding bambu bersalin tembok batu bata. Masjid Seblak bukan hanya menjadi kegiatan santri. Warga di lingkungan sekitar juga melaksanakan salat lima waktu dan salat Jumat, disana.  

Menurut Halim Mahfudz, adanya madrasah dengan sistem pembelajaran klasikal memang sejak awal menjadi tujuan pembangunan masjid dan pondok pesantren. Ngaji kitab kuning dan hafalan para santri juga dipusatkan di masjid dan itu berjalan hingga sekarang.

Masjid Seblak di Dusun Seblak, Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. FOTO: JATIMPLUS.ID/syarif abdurrahman

Pada awal awal, madrasah terdiri dari enam kelas dan kelas sifir sebagai persiapan. ”Karena madrasah tersebut yang mendirikan Ma’shum Ali maka beliau yang menjadi kepala sekolahnya,’’tuturnya.

Tanah yang dipakai berdirinya pondok dan masjid tersebut, merupakan pemberian KH Hasyim Asy’ari. Saat pertama kali berdiri, Mbah Hasyim juga memberi santri dari Ponpes Tebuireng, yakni diantaranya Kiai Adlan Ali yang merupakan adiknya sendiri.

Dusun Seblak terkenal sebagai kawasan hitam. Saat itu terkenal sebagai gudangnya dukun santet sekaligus sarang maksiat. Meski sempat menjadi kendala saat pendirian pesantren, secara perlahan semua itu mampu ditepis oleh Kiai Ma’shum Ali dan Nyai Khairiyah.

”Berkat kesabaran keduanya dalam mengenalkan Islam, akhirnya kendala tersebut mulai hilang. Bahkan pesantrennya didatangi berbagai santri di Indonesia, “papar KH Halim Mahfudz.

Dari pernikahannya dengan Nyai Khairiyah, Kiai Ma’shum Ali  memiliki dua puteri, yakni Nyai Abidah dan Nyai Jamilah. Sayang, rumah tangga itu tidak berumur panjang.

Pada tahun 1947 Kiai Ma’shum tutup usia akibat penyakit paru paru yang diidapnya. Sepeninggal Kiai Ma’shum, ponpes beserta masjid dikelola oleh Nyai Khairiyah.

Reporter : Syarif Abdurrahman
Editor : Mas Garendi

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.