READING

Masker Khusus Tukang Parkir, Ada Risleting Mulut

Masker Khusus Tukang Parkir, Ada Risleting Mulut

KEDIRI – Kewajiban memakai masker berlaku untuk semua orang dan semua profesi. Namun susah untuk petugas parkir sebab ia harus meniup peluit. Maka, pengrajin masker tenun ikat Kota Kediri berkreasi membuat masker menggunakan ritsleting.

Ide itu tercetus dari perhatian Pemkot Kediri pada juru parkir. Setiap kali bertugas, ia harus membuka maskernya dan menggantungkannya di leher karena tidak bisa meniup peluit. Maka dibutuhkan masker yang bisa dimasukkan peluit tanpa harus melepaskan.

“Saya minta pengrajin masker dari tenun ikat kediri untuk membuat masker beritsleting. Jadi bisa dibuka bila pakai peluit,” kata  Nur Muhyar, Plt. Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian. Realisasinya, Disperdagin memesan 50 buah masker sebagai percobaan.

“Awalnya pas melihat, wah ini cukup rumit. Jadi tidak bisa cepat karena belum terbiasa,” kata Erwin, pemilik usaha Tenun Bandoel di sentra tenun ikat Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto.

Rupanya, setelah membuat masker pesanan Disperdagin, Erwin tertantang untuk membuat masker yang beda dengan yang sudah ada. Sebelumnya, dari Pemkot sudah memesan masker lipat jumlahnya ribuan.

“Tujuannya agar penenun tetap berproduksi, penjahit tetap mendapatkan order,” tambah Nur Muhyar. Terbukti, upaya pemesanan masker ini bisa menggerakkan perekonomian para penenun dan penjahit. Pada masa pandemi, orderan sangat sepi. Bahkan beberapa pesanan yang sudah dibuat pun tidak diambil karena PSBB dan kegiatan tertunda.

Tak hanya itu, menurut Erwin, Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar memberi tantangan kepada para pengrajin untuk membuat masker yang berbeda. Erwin pun membuat masker dengan desain unik dan bentuknya beda dengan masker tenun ikat yang sudah ada. Bukan masker lipat, melainkan masker dengan 3 lapis, salah satunya dengan kain kapas. Pun dalam pemotongan, Erwin sangat memerhatikan motif sehingga bisa bersambung bila jadi masker.

“Karena mencocokan motif, maka kalau masker lipat selembar tenun bisa jadi 60 buah, kalau masker saya hanya jadi 35 buah,” terang Erwin.

Karena bahan yang dibutuhkan lebih banyak, maka Erwin membandrol harga lebih. Satu lembar masker dibanderol Rp 20.000,-, sedang untuk masker beritsleting seharga Rp 25.000,-. Erwin juga menjual melalui akun medsos dan ternyata peminatnya banyak. Masker yang ia buat laris manis.

“Sehari kalau desain yang seperti ini hanya bisa bikin 50 buah dengan 2 penjahit,” kata Erwin. Pemkot Kediri dengan berbagai upaya terus membangkitkan UMKM pada era pandemi ini. Melalui pemesanan langsung dan juga promosi. (pro/Hari TW)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.