READING

Masker Tenun Ikat Kediri, Siasat Cantik Di Tengah ...

Masker Tenun Ikat Kediri, Siasat Cantik Di Tengah Pandemik

Empat mesin jahit bergerak lincah di teras salah satu rumah penjahit di Desa Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Seminggu terakhir, mereka mendapatkan pesanan 8.000 lembar masker dari Pemerintah Kota Kediri sehingga harus mengejar target produksi. Sebetulnya, tak hanya empat orang penjahit yang membuat masker, ada dua belas orang lainnya mengerjakan proyek ini di rumah masing-masing. Penjahit yang mulai sepi order akibat pandemik, kini bergerak kembali. Begitu juga dengan pengrajin tenun ikat khas Kediri yang menemukan peluang baru. Kain tenun bikinannya bisa diolah menjadi masker pelindung dari peyebaran virus Corona.

Awalnya, Siti Ruqoyah, pengusaha tenun bermerek Medali Emas memutar otak untuk bisa tetap menggaji penenunnya. Ia coba membuat beberapa lembar masker dari kain sisa. Kemudian, masker ini dilihat oleh Nur Mukhyar, Plt. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan dibawa ke Wali Kota Abdullah Abu Bakar. Mas Abu menyambut baik sehingga memesan 8000 lembar masker tenun ikat kediri untuk dibagikan ke warga. Bukan hanya membagikan masker yang berguna untuk mencegah penyebaran Virus Corona, namun juga turut menggerakkan perekonomian yang sempat berhenti.

“Sudah tiga minggu ini tidak ada pembeli sama sekali. Sementara saya tidak mungkin tidak menggaji penenun dan saya akan terus mempertahankan mereka untuk tetap berproduksi agar tetap bisa makan,” kata Ruqoyah. Ruqoyah mengerluarkan uang minimal Rp 20.000,-/minggu untuk menggaji penenun. Jumlah itu biasanya bisa tertutup dengan hasil penjualan kain tenun. Namun ketika tak ada pembeli, ia terpaksa mengabil tabungan yang mulai tandas.

Dengan pesanan masker ini, 200 lembar tenun ikat/hari bisa terjual untuk dibuat masker sehingga ekonomi berputar. Tak hanya Ruqoyah, penenun lain pun bisa memasok tenunnya melalui KUB (Kelompok Usaha Bersama) sehingga produksi masih terus berjalan.

Setelah Pemkot memesan, berbagai pesanan pun datang dari berbagai instansi dan jumlahnya pun ribuan. Selain para pembeli personal atau eceran. Ruqoyah mematok harga Rp 7.500,-/lembar bila membeli minimal 10 lembar dan Rp 8.000,-/lembar untuk eceran.

“Harapan kita dengan kegiatan ini yang bisa kita gerakkan bukan hanya ekonomi penenun, tetapi juga para tukang jahit dan toko-toko penyedia aksesorisnya seperti toko karet, benang, dan kain tlisir. Dengan demikian juga akan ada efek daya beli masyarakat yang tetap terjaga,” kata Nur Mukhyar. Memberi pancing, bukan ikan merupakan fokus dari Pemkot untuk terus memutar perekonomian masyarakat Kota Kediri dalam pandemi Covid-19.

Aktifitas di sentra tenun ikat Bandar Kediri.
Seorang pengrajin sedang menenun menggunakan alat tenun bukan mesin.
Beberapa penjahit menyelesaikan pesanan masker kain tenun ikat.
Butuh ketelitian dan kecepatan untuk menyelesaikan pesanan masker kain tenun yang menggunung.
Zaki Taylor, salah satu penjahit yang kebanjiran order masker kain tenun ikat.
Masker kain tenun ikat Bandar Kediri.

Teks oleh Titik Kartitiani dan Foto oleh Adhi Kusumo (Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Kediri)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.