READING

Mata Air Kecokelatan Permukiman Warga TPA Bulusan

Mata Air Kecokelatan Permukiman Warga TPA Bulusan

Air sumur itu berwarna keruh kecokelatan. Baunyapun juga tidak sedap. Jangankan untuk minum dan memasak. Dipakai mandi saja timbul reaksi gatal gatal di kulit.     

BANYUWANGI- Awalnya Mustofa berfikir faktor sumber air yang bermasalah. Karenanya dia mencoba membuat sumur baru. Namun sampai pengeboran yang keempat, air yang keluar tetap berwarna kuning kecokelatan. Sama dengan sumur sebelumnya. Baunya juga sangat menyengat. Sementara untuk sekali ngebor, biaya yang dia keluarkan tidak kecil.

“Setelah ngebor yang keempat, saya akhirnya  menyerah. Karena sudah habis biaya Rp 60 juta,  “tuturnya kepada Jatimplus. Begitulah kondisi sumber mata air di  permukiman warga lingkungan Kampung Baru Kelurahan Bulusan Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi.

Pencemaran berasal dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah  Bulusan yang berjarak satu kilometer dari permukiman warga. Sejak diputuskan menjadi TPA pada tahun 1986, sumber mata air mengalami kerusakan. Tidak hanya bersifat meluas. Pencemaran juga berlangsung di kedalaman diatas rata rata.

Mustofa sempat meminta tukang bor untuk memperdalam mata bornya. Tidak tanggung tanggung. Dia meminta kedalaman hingga 36 meter. Namun kualitas air yang keluar tetap sama. Bahkan sumber air yang berjarak dua kilometer dari TPA, juga sama. “Air di masjid yang berjarak dua kilometer juga keruh dan bau, “katanya.

Tidak ada pilihan lain. Untuk memasak dan kebutuhan minum keluarganya, Mustofa memilih belanja air kemasan. Air sumur yang ada hanya dia gunakan untuk aktifitas MCK (mandi, cuci dan kakus). Meskipun akibatnya sering muncul keluhan gatal gatal pada kulit.

“Sering gatal gatal. Tapi mau bagaimana lagi. Adanya memang begitu, “keluhnya. Hal senada disampaikan Syarif, yang dikampung dikenal sebagai guru ngaji mushola. Karena tidak tahan dengan aroma air yang menyengat, Syarif yang biasa dipanggil ustadz, bahkan menutup sumur di belakang rumahnya.

“Selain keruh baunya juga tidak sedap. Sudah 10 tahun lamanya sumur dibelakang rumah saya tutup, “tuturnya. Sebelum memutuskan “mematikan” sumur, Syarif kerap mendapati panci untuk memasak gampang berkerak. Dalam candanya, tamu yang bertandang ke rumahnya juga sering menyindir warna air sumur yang keruh dan bau.

Karena kasihan dengan keluarga dan anak anak yang mengaji di tempatnya, Syarif memutuskan menyalur (air) ke tetangga yang kondisinya lebih baik. “Sejak tidak punya sumur sendiri saya menyalur ke tetangga, “ungkapnya.

Lingkungan Kampung baru dihuni sebanyak 71 kepala keluarga (KK) . Kurang lebih 20 KK memiliki sumur sendiri dengan 80 persen diantaranya telah tercemar. Oleh warga yang tidak tahan lagi, sumur itu ditutup beton dan kayu. Namun tidak sedikit yang dibiarkan meskipun tidak lagi diambil airnya.

Meski bertahun tahun hidup dalam pencemaran, warga Kampung Baru terkesan nerimo. Nyaris tidak pernah ada gejolak yang mencoba melawan keadaan. Namun dalam percakapan informal warga hanya meminta pemerintah membantu penyaluran air PDAM. Karena hanya itu solusi satu satunya mendapatkan air bersih yang murah.  

Fatkul Bahri Ketua RT 03 RW 02 Kampung Baru mengatakan warganya masih relatif  kondusif.  Sejauh ini persoalan yang ada disikapi dengan diam. Kendati demikian Bahri menilai polemik yang ada ibarat bara dalam sekam. “Meski kondusif, namun persoalan ini ibarat bara dalam sekam, “katanya.

Bahri menilai TPA yang ada sudah tidak layak. Selain berusia tua, yakni 30 tahun dan melebihi kapasitas, pengelolaan limbah cair diduga tidak dilakukan dengan cara yang benar. Akibatnya limbah merembesi air sumur dan menimbulkan pencemaran.

baca juga: Tarik Ulur Pengelolaan Sampah Kabupaten Banyuwangi Pasca Penutupan TPS Bulusan

Kondisi itu diperparah posisi TPA yang lebih tinggi dari permukiman warga.  Begitu juga dengan kolam limbah cair atau air lindi yang memiliki kedalaman 12 meter.  Ditengah diamnya sebagian besar warga berharap TPA untuk segera ditutup.  

“Apalagi di setiap musim hujan air lindi TPA seringkali meluber dan masuk ke rumah warga. Dan ini terjadi bertahun tahun,  “terang Bahri. Menanggapi keresahan warga Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyuwangi  Khusnul Khotimah mengatakan pihak TPA telah menjalankan prosedur yang berlaku.

Di area TPA petugas sudah membuat sumur pantau yang digunakan sebagai obyek kajian. Dengan sumur pantau itu akan diketahui ada tidaknya pencemaran sampah pada air bawah tanah.  “Setiap tahun kami rutin memeriksakan air sumur ke laboratorium. Dan hasilnya tidak ada masalah pencemaran, “katanya.

Untuk kebutuhan air bersih warga disekitar TPA, pemerintah kata Khusnul  juga sudah menyediakan sumur bor.  Air bersih itu ditempatkan ke dalam tandon yang bisa setiap saat diakses warga sekitar. Terkait perubahan warna air sumur warga, menurut Khusnul baru terjadi dalam dua bulan ini.

Perubahan itu diduga akibat melubernya kolam lindi yang tidak mampu menampung curahan air hujan.  Kendati demikian Khusnul mengaku sejauh ini pihaknya belum menerima laporan langsung dari warga. “Untuk air sumur warga, kami belum menerima laporan langsung, “paparnya.

Kondisi  TPA Yang Tak Sempurna

Slamet Sumarto mantan pegawai Pekerjaan Umum Pemkab Banyuwang bercerita konsep pembangunan TPA.  Metode controll landfill di TPA Bulusan diakuinya belum sempurna. Saat pembangunan, di bagian dasar pembuangan limbah tidak dipasang lapisan penampung.

“Metode controll landfill yang ada di TPA Bulusan memang belum bagus. Tidak ada lapisan penampung yang otomatis limbah cair akan keluar, “katanya.

Kondisi ini diperparah permukaan tanah yang tidak rata.  Ketidakrataan itu membuat lobang penimbunan lebih condong ke utara. Akibatnya, jika hujan deras dan air lindi meluber, maka rumah warga yang berada di sisi utara TPA akan terimbas langsung.   

Slamet yang juga mantan Ketua Forum Banyuwangi sehat itu juga menyoroti soal pengambilan sampel air di sumur pantau. Petugas DLH akan mendapati fakta yang berbeda jika pengambilan contoh air dilakukan di sumur warga. Mereka akan melihat bagaimana limbah telah mencemari sumber air yang ada.  “Terutama sumur warga yang berada di sisi utara, “paparnya.

Berharap PDAM

Satu satunya harapan untuk mengatasi pencemaran air sumur di kawasan sekitar TPA Bulusan hanya dengan menyalurkan air PDAM. Dengan adanya PDAM warga tidak perlu lagi merogoh biaya banyak hanya untuk mendapatkan air bersih. Mereka terbatas biaya juga tidak perlu repot lagi merebus dan menyaring air sumur berwarna keruh kecokelatan itu  berkali kali.

“Harapan kami hanya satu, yakni PDAM masuk kemari, “tegas Mustofa. Ungkapan senada disampaikan Fatkul Bahri. Dia berharap warga di lingkungan Kampung Baru bisa menikmati air bersih yang layak seperti warga Banyuwangi lainnya.  Namun melihat kondisi geografis yang ada, yakni berada di permukaan tanah lebih tinggi dan dilintasi rel kereta api, Bahri pesimis harapan itu bisa terwujud.

“Kalau secara geografis sepertinya memang tidak memungkinkan, “katanya. Secara adminstrasi kewilayahan, Kelurahan Bulusan terbagi atas dua dusun atau lingkungan, yakni Kampung Baru dan Krajan. Memiliki 7 RW dan 30 RT. Dengan luas wilayah 7,86 persen dari seluruh luas Kecamatan Kalipuro, Kelurahan Bulusan berpenduduk 6.984 jiwa.

Kedua lingkungan (Kampung Baru dan Krajan) itu dibelah rel kereta api. Akibatnya tidak semua masyarakat Bulusan, yakni terutama di Lingkungan Kampung Baru dapat menikmati air bersih PDAM. Sebab saluran pipa air terhalang oleh jalur rel kereta api.

Menurut mantan Direktur PDAM Banyuwangi, Ayyub Hidayat,  wilayah Kampung Baru belum bisa dijangkau PDAM lantaran kondisi geografisnya yang tidak memungkinkan.  Di eranya PDAM pernah berupaya membuat saluran air. Namun karena berada pada posisi lebih tinggi dari sumber air, maka upaya itu dihentikan.

“Jika dialirkan dari sisi barat terhalang rel kereta api. Sementara kalau lewat sisi timur, geografis tanahnya naik, “ujarnya. Keberadaan rel kereta api menjadi kendala. Sejauh ini air PDAM baru bisa menjangkau sebagian kecil kawasan Kampung Baru. Termasuk kebutuhan air di dua tempat ibadah (masjid) juga terlayani dari PDAM. Namun untuk permukiman warga yang berada di sekitar TPA, air PDAM masih sulit untuk disalurkan. Ayyub hanya berharap pemerintah Banyuwangi yang sekarang bisa segera mewujudkan aspirasi masyarakat setempat. “Semoga segera ada solusi agar PDAM bisa masuk hingga permukiman warga disekitar TPA, “harapnya. (Widie Nurmahmudy)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.