READING

Matinya Toko Buku Digerus Lapak Online

Matinya Toko Buku Digerus Lapak Online

KEDIRI – Bisnis toko buku tengah dirundung pilu. Maraknya perdagangan buku online mengancam pemilik gerai yang lebih banyak merogoh modal. Mengapa demikian?

Helton termenung di belakang meja kasir. Ujung jarinya ritmis mengetuk meja. Tak ada layar komputer atau mesin cetak nota di sana, kecuali kalkulator kecil. Meja di sudut toko itu bahkan lebih mirip meja warung di banding meja kasir.

Pemilik toko buku Abdi di Jalan Brawijaya Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri ini sedang pening. Bisnis jualan buku yang dirintisnya sejak enam tahun lalu mendadak limbung. Omzetnya turun drastis. “Hanya nungguin toko saja,” kata pria 39 tahun ini kepada Jatimplus.

Di dunia toko buku Helton bukan pemain baru. Ayahnya adalah pemilik toko buku di Surabaya yang menekuni bisnis itu sebelum dia lahir. Karena itu pasang surut telah dialami Helton meski tak pernah setragis sekarang ini.

Kecintaan Helton pada buku memang tak bisa diukur. Alih alih frustasi atas kebangkrutan toko buku orang tuanya, Helton justru mengikuti jejak itu. Bermodal meja kayu yang ditata di pinggir jalan Pasar Turi Surabaya, dia memajang puluhan buku yang dibeli dari pengepul. Modalnya cuma Rp 300 ribu.

BACA JUGA Ngopi Pagi di Rumah Belanda

Keputusan berdagang buku ini ditempuh setelah bisnis mebelair miliknya runtuh diterjang krisis ekonomi. Naiknya harga kayu melebihi besi dan aluminium menyisakan tumpukan hutang yang melilit. Dari juragan mebelair yang memiliki belasan pekerja, Helton terpuruk hingga tak menyisakan apa-apa.

Romantisme pada buku yang sempat dicecap saat kanak kanak membangkitkan semangat Helton berjualan buku. Berbeda dengan bisnis makanan yang harus menanggung basi, Helton yakin bisnis bukunya tak banyak memberi kendala. Toh buku tetap bisa dijual meski tahun cetakannya lawas.

Perlahan-lahan bisnis itu berjalan sesuai harapan. Bahkan sejak dua tahun lalu Helton bisa melebarkan sayap ke Kediri dengan mengontrak ruko di Jalan Brawijaya. Kawasan ini dibidik karena berada di pusat pembelajaran Bahasa Inggris di Pare. Kebutuhan buku tentu menjadi prioritas bagi mereka.

Toko Buku Abdi di Jalan Brawijaya Pare Kabupaten Kediri. Foto Hari Tri Wasono

Perkiraannya tak meleset. Bekerjasama dengan beberapa penerbit dan distributor, Helton mendapatkan pasokan buku berbagai judul. Selain buku pelajaran sekolah dan bahasa asing, toko buku itu juga memajang koleksi literasi sejarah dan pengetahuan umum.

Tak hanya dari penerbit, Helton juga mendapat pasokan dari sesama pedagang buku koleganya. Sudah menjadi rahasia umum jika praktik tukar menukar barang telah menjadi kebiasaan para pedagang buku. Tentu saja margin atau keuntungannya tak bisa maksimal.

Namun Helton sudah terbiasa. Memberi banderol tinggi pada buku lawas yang dicari menjadi jackpot bagi pedagang buku seperti dirinya. “Seperti buku Gurita Cikeas yang makin laris manis setelah dicekal,” katanya.

Hingga pada suatu masa kejayaan pemilik toko benar-benar redup. Pertumbuhan penggunaan gadget yang pesat tiba-tiba menggeser metode literasi atau membaca buku menjadi online. Hanya bermodal paket data, semua informasi dari buku digantikan mesin pencarian maya.

Tak hanya di buku pengetahuan umum, petaka ini juga terjadi di buku pelajaran sekolah. Perilaku penerbit yang kerap menggonta-ganti cetakan tiap tahun ajaran baru memperpendek usia buku. Penyematan tahun pada latihan soal atau buku paket memaksa pelajar untuk hanya membeli buku baru. “Padahal isinya hampir sama, hanya tulisan tahunnya saja yang berbeda sudah tak laku,” keluhnya.

BACA JUGA Kisah Tionghoa Dalam Semangkuk Pangsit

Penderitaan itu tak berakhir. Beberapa pelanggan tokonya mulai mengalami perubahan perilaku. Jika biasanya mereka datang untuk membeli, kini hanya melihat-lihat dan memotret. Buku yang dianggap bagus difoto untuk dipajang di media sosial mereka dengan caption “dijual”.

Helton mengaku tak bisa melarang. Sebab saat buku tersebut dilirik pembeli di dunia maya, pelanggan itu akan datang untuk membeli. Tentu saja harga yang diminta di bawah standar sebagai reseller.

Gempuran penjual buku yang memiliki lapak online makin mendesak bisnisnya. Tanpa modal besar untuk sewa tempat, listrik, dan menggaji karyawan, mereka lebih leluasa menjangkau pembeli secara massive.

Helton benar-benar tak punya daya untuk melawan gempuran teknologi. Bahkan menutup toko bukan lagi rencana yang haram dilakukan. Dia ingin memindah dagangannya menjadi online.

Langkah itu telah dimulai. Pemesanan buku baru dibatasi demikian rupa. Dia hanya mengambil buku-buku yang berprospek cerah. Helton tak mau menambah tumpukan buku lama yang mulai menggunung di sudut toko. Tak ada sistem retur atau kembali untuk buku. Buku yang telah dipesan harus dibeli tunai.

Beberapa buku juga dititipkan di kantor Kejaksaan Negeri Kediri untuk diamankan. Bukan tak laku, buku-buku tersebut dianggap berbahaya karena menyebut kata PKI di dalamnya. Helton pun mengikhlaskan ketika beberapa anggota TNI mengambilnya dari rak beberapa waktu lalu. “Tidak apa-apa, dari pada numpuk di sini. Buku itu sudah lama gak laku,” katanya tersenyum. (*)     

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.