READING

Mbah Manab Sang Founding Father Lirboyo (2)

Mbah Manab Sang Founding Father Lirboyo (2)

Kiai Abdul Karim atau Mbah Manab  adalah founding father Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Pendiri sekaligus Bapak Ponpes Lirboyo. Di tangan Mbah Manab yang mengedepankan semangat Islam rahmatan lil alamin, cita cita Kiai Sholeh Banjar Mlati (mertua Mbah Manab) menemukan bentuknya.

KEDIRI–  Kabar adanya ponpes di Lirboyo Kediri dengan kiai yang jaduk ilmunya, terdengar sampai ke luar kota. Kabar itu tersiar secara getok tular, dari mulut ke mulut. Viral.  Dampak dari kabar itu, jumlah santri Pondok Pesantren  Lirboyo yang berdiri sejak tahun 1910, terus bertambah.

Meski sama sama ingin nyantri di Lirboyo, namun tujuan masing masing calon santri itu berbeda. Sejak meninggalkan rumah, ada yang ngangen angen ingin segera menyerap ilmu kanuragan. Belajar qizib, belajar ilmu hikmah, agar  bisa dukdeng, tidak tedas tapak palune pande (kebal), sakti mandraguna. Segala riyadhoh, tirakat, puasa dengan segala pantangan, dilakoni.

Maklumlah, Lirboyo kala itu kondang sebagai gudangnya ilmu hikmah. Ada juga calon santri yang murni ingin belajar ngaji. Mulai menghafal Alfiyyah Ibn Malik, Ta’lim Muta’alim, membedah tafsir al Jalalain, Aqaid 50, tashrif  dan lain sebagainya. Intinya ingin menimba ilmu syariat dan hakikat Islam.

Ada yang langsung kerasan. Begitu mengikuti kurikulum pondok pesantren langsung merasa klik. Namun tidak sedikit yang hanya bertahan tidak sampai satu rendengan (musim penghujan). Karena tak kuat menghadapi laku prihatin pesantren, akhirnya memilih desersi.

Di Ponpes Lirboyo, tidak semua santri bermukim. Banyak juga yang ngalong, yakni setelah ngaji langsung pulang. Mereka memang tidak menginap. Predikat santri kalong ini biasanya disematkan warga asli Kediri atau sekitar Lirboyo yang ikut menimba ilmu agama.

Pemandangan santri baru itu setidaknya terlukis dari penggalan Puisi Lirboyo, karya KH Ahmad Mustofa Bisri yang juga alumni Ponpes Lirboyo.

“Masihkah tebu tebu berderet manis melambai di sepanjang jalan menyambut langkah gamang santri anyar menuju gerbangmu?.

Ataukah seperti dimana mana pabrik pabrik dan bangunan bangunan bergaya spanyolan yang angkuh dan genit menggantikannya?”.

Almarhum Kiai Idris Marzuqi (pengasuh Ponpes Lirboyo generasi ke 3) pernah menyebut, jumlah santri Lirboyo lebih dari 10.000 orang. Angka satistik yang besar itu belum terhitung jumlah alumni sejak tahun 1910. Kiai Idris merupakan putra Kiai Marzuqi Dahlan (wafat tahun 1975).

Bersama Kiai Mahrus Aly (wafat tahun 1985), Kiai Marzuqi mengasuh santri Lirboyo.  Baik Kiai Marzuqi dan Kiai Mahrus merupakan menantu Mbah Manab (wafat tahun 1954). Keduanya merupakan pengasuh ponpes Lirboyo generasi kedua.

Tidak hanya jumlah santri yang terus bertambah. Secara bangunan, ponpes  juga terus berbenah. Bilik bilik santri yang dulu hanya tersusun atas bambu dan blarak, telah berganti tembok kokoh. Ponpes Lirboyo telah memiliki asrama santri yang berjumlah kurang lebih 500 kamar. Kemudian juga mempunyai  gedung sekolah yang terbagi atas 110 kelas.

Dari semula langgar angkring di atas 1.785 meter persegi, berkembang menjadi masjid besar, termasuk memiliki auditorium Al Muktamar yang megah. Berdiri juga sejumlah penunjang sarana pendidikan seperti perpustakaan, laboratorium bahasa dan komputer.

Kemudian juga memiliki rumah sakit umum Lirboyo, minimarket, dapur umum, warung dan kantin hingga sanitasi dan MCK.

Sistem pengajaran kepada santri juga tidak hanya menerapkan  bandongan, sorogan dan pengajian weton. Seiring berdirinya Madrasah Hidayatul Mubtadien (MHM), Ponpes Lirboyo juga menerapkan sistem klasikal. Ponpes Lirboyo memiliki madrasah mulai tingkat ibtidaiyah (MI), Tsanawiyah (Mts) hingga Aliyah (SMA).

Ponpes Lirboyo juga menyelenggarakan I’dadiyah,  yakni pendidikan yang fokus mengkaji Al Quran, Hadis, Tauhid, Fiqih dan semua yang menyangkut agama Islam. Santri juga berkesempatan mengikuti beragam ekstrakurikuler. Mulai seni baca Al Quran, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Falak, MC, Jurnalistik, Kepribadian, hingga  Pidato serta mengenal organisasi jam’iyah.

Intinya Ponpes Lirboyo semakin besar. Terutama di kalangan warga nahdliyin Jawa Timur Lirboyo menjadi salah satu  “kiblat” menimba ilmu pengetahuan pesantren.  Kebesaran Lirboyo tidak lepas dari riyadhoh, kesabaran, ketekunan, dan istiqomah Mbah Manab.

Siapa sebenarnya founding father Lirboyo yang luar biasa itu?.

Mbah Manab atau Abdul Karim berasal dari Desa Diangan, Kawedanan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Putra ketiga dari empar bersaudara pasangan suami istri Abdurrahim dan Salamah itu lahir pada tahun 1856.

Abdurrahim, ayah Mbah Manab adalah seorang petani biasa.  Bukan tuan tanah kaya raya. Juga bukan seorang ulama yang memiliki pondok pesantren.

Semasa hidupnya Abdurrahim dikenal sebagai seorang yang  pekerja keras. Kisah kerja kerasnya diceritakan  tak hanya menggantungkan hidup dari hasil panen sepetak sawah. Untuk menambah penghasilan, Abdurrahim juga nyambi menjadi pedagang.

Sebelum matahari menyembul, Abdurrahim juga diceritakan sudah berjalan kaki memikul dagangan menuju Pasar Muntilan, Magelang. Sebuah jarak tempuh yang relatif jauh. Tidak puas disitu. Selepas dari pasar Abdurrahim masih juga menyempatkan ke sawah.

Ikhtiar yang tak kenal lelah itu kelak tercermin pada sikap Mbah Manab dalam mengembangkan pendidikan agama di Ponpes Lirboyo.

Baca juga:

Santri Zuhud dan Alim

Lirboyo Menyusuri Jejak Bangkiak

Abdurrahim tutup usia diwaktu Manab dan saudaranya masih berusia anak anak. Apa yang terjadi kemudian?. Sepeninggal suaminya, Salamah mengambil alih posisi kepala keluarga. Menjadi tulang punggung keluarga. Perannya ganda, sebagai ibu sekaligus ayah.

Praktis, masa pertunbuhan Manab hanya didampingi seorang ibu. Lazimnya anak kecil. Tidak ada yang bisa dilakukan selain membantu semampunya. Di pagi hari Manab ikut jualan di pasar. Siang hari selepas dari pasar mencari rumput pakan ternak peninggalan mendiang sang ayah. Begitu juga yang dilakukan saudara saudaranya.

Singkat cerita, Salamah menikah lagi dan dikarunia tiga anak, yakni satu laki laki dan dua perempuan. Sementara seiring bertambahnya usia, Manab yang sejak kecil  haus ilmu pengetahuan, mulai tertarik mengikuti jejak kakaknya.

Aliman dan Mu’min lebih banyak menghabiskan waktu berkelana untuk memperdalam ilmu agama. Keduanya jarang berada di rumah. Kelak Aliman menjadi seorang kiai di daerah Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Di mata Manab, laku saudaranya itu menarik.

Saat itu tahun 1870. Tanpa berkabar Aliman tiba tiba  pulang. Tidak lama di rumah Aliman menyampaikan niatnya mengajak Manab berkelana. Pucuk dicinta ulampun tiba. Meski masih berumur 14 tahun, dengan ringan Manab menyambut ajakan yang baginya menggembirakan.

Singkat cerita, dengan berjalan kaki kakak beradik ini memutuskan berkelana mendatangi pondok pesantren ke Jawa Timur. Berhari hari menyusuri jalanan. Saat penat tidak tertahan,  berhenti sejenak. Begitu istirahat dirasa cukup, perjalanan dilanjut kembali. Tidak terasa keduanya tiba juga di wilayah Jawa Timur.

Sesampai di Desa Babadan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, keduanya berjumpa  seorang kiai pemangku musala setempat. Kepada kiai kampung di desa setempat, Manab dan Aliman menyampaikan niatnya belajar ilmu agama.

Tidak ada catatan yang menyebut berapa lama kakak adik itu berada di Babadan, Kediri. Begitu ilmu yang dirasa cukup Manab dan kakaknya menyambung langkahnya. Di selatan Kabupaten Nganjuk yang berjarak 20 kilometer, yakni tepatnya di wilayah Cepoko, keduanya singgah ke pondok pesantren.

Setelah enam tahun  menimba ilmu, Manab melanjutkan belajarnya ke Pesantren Trayang Bangsri, Kertosono yang juga masih wilayah Nganjuk. Disana  mendalami Al Quran.

Dari Kertosono pengembaraan berlanjut semakin ke timur. Di Ponpes Sono, Kabupaten Sidoarjo, keduanya belajar ilmu nahwu sharaf  (tata bahasa Arab).  Selama tujuh tahun belajar Manab tidak bisa melupakan jasa besar kakaknya (Aliman).

Dalam buku Napak Tilas Masyayikh, Mbah Manab mengatakan, “Aku iso nyantri kerono diangkat kakangku (Aku bisa belajar di pesantren karena jasa kakakku)”.

Selama belajar di Ponpes Sono Sidoarjo, Aliman memilih bekerja. Aliman ingin adiknya tetap berkonsentrasi belajar tanpa harus terganggu repotnya memenuhi kebutuhan hidup.

Manab betul betul mengingat peristiwa itu. Sebagai orang yang rendah hati, dia sangat menghargai siapapun yang pernah berjasa dalam hidupnya. (*)              

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.