Mbahnya Sehat, Polisinya Kuat

Tak setiap orang bisa menjadi polisi. Namun semua orang pasti akan menjadi tua (mbah).

Meski relasi antara polisi dan mbah di atas seperti dipaksakan, namun tidak dengan polisi Semen. Polisi Semen bukanlah polisi yang terbuat dari adonan semen, melainkan anggota Polri yang bertugas di Kepolisian Sektor Semen, sebuah kecamatan di kaki Gunung Wilis Kabupaten Kediri.

Di sini, relasi atau hubungan anggota Polsek Semen dengan warga setempat sangat kuat, khususnya mbah-mbah. Tak heran jika hampir semua mbah di Kecamatan Semen tak canggung saat berinteraksi dengan polisi.

“Coba sebutkan nama salah satu mbah yang ada di Semen, anggota saya akan dengan cepat menunjukkan rumahnya,” kata Ajun Komisaris Siswandi, Kepala Polsek Semen kepada Jatimplus, Jumat 13 Maret 2020.

Kedekatan polisi dengan mbah-mbah di wilayah hukum Polres Kediri Kota ini bukan abang-abang lambe alias basa-basi. Setidaknya, setiap satu pekan sekali di Hari Jumat, Siswandi menjalin kontak fisik dengan mereka.

Mengajak serta anggotanya di Polsek Semen, Siswandi mendatangi rumah mbah-mbah untuk bersilaturahmi. Ia tahu di mana letak rumah mbah-mbah itu meski tersembunyi dari jalan raya.

Uniknya, kedatangan para polisi ini tak membuat tuan rumah panik. Jika biasanya warga terkejut dan cenderung panik jika didatangi polisi, tidak dengan mbah-mbah ini. Dengan wajah sumringah, mereka membukakan pintu dan mengajak tamunya masuk. “Kami mendatangi rumah para orang tua yang hidup dalam kondisi pra sejahtera. Merekalah yang butuh perhatian,” kata Siswandi.

Mengenakan seragam polisi lengkap dengan baret coklatnya, Siswandi menyapa pemilik rumah dengan riang. Gokilnya, polisi kelahiran Nganjuk, Jawa Timur ini juga memberi hormat kepada seorang kakek renta di gubuk reot.

Penampilan Siswandi yang berseragam lengkap saat beradu dengan kakek yang bertelanjang dada cukup menarik perhatian. Sang kakek tak terlihat canggung saat berinteraksi dengan Siswandi meski hanya berbalut sarung.

Kakek ini bernama Ponilan, yang tinggal sendirian di Dusun Mojoduwur, Desa Puhsarang, Kecamatan Semen. Kondisi fisiknya yang tuna wicara membuat interaksi sosialnya terbatas. Selama puluhan tahun Mbah Ponilan hidup sebatang kara tanpa pekerjaan. Hidupnya bergantung dari uluran tangan warga sekitar yang berbagi rejeki.

Kedatangan anggota Polsek Semen ke rumahnya siang itu membuatnya merasa istimewa. Apalagi tanpa canggung Siswandi memasuki dapur yang menjadi satu dengan bagian rumahnya.

Tampak dua buah panci yang sudah menghitam teronggok di atas perapian batu bata. Salah satu perapian terlihat menyala dan mengeluarkan asap pekat yang memenuhi ruangan. Siswandi pun tergerak membuka tutup panci dan mengintip apa yang dimasak Mbah Ponilan. “Hanya beras yang dibungkus plastik seperti lontong,” kata Siswandi trenyuh.

Tak terlihat bahan masak ataupun lauk di rumah itu. Ini berarti Mbah Ponilan hanya akan menyantap lontong tanpa lauk hari itu. Ia sengaja mengolah beras menjadi lontong untuk menyesuaikan pencernaannya yang tak lagi kuat.

Kondisi rumah dan perapian di rumah itu, menurut Siswandi, cukup berbahaya. Nyala api yang tak terkontrol karena hembusan angin bisa dengan mudah menyambar dinding rumah Mbah Ponilan yang terbuat dari anyaman bambu.

Sebelum meninggalkan rumah, Siswandi meminta anggotanya memberikan paket sembako kepada Mbah Ponilan. Mantan Kasat Narkoba Polresta Kediri ini juga merogoh kocek pribadinya sebagai bekal Mbah Ponilan membeli lauk pauk.

Mbah Ponilan adalah satu dari enam mbah-mbah di Kecamatan Semen yang didatangi jajaran Polsek Semen siang tadi. Kepada setiap rumah, mereka juga memberikan paket sembako sumbangan dari donatur.

Siswandi membuka kesempatan kepada siapapun untuk terlibat dalam aksi Jumat Berkah Polsek Semen. Ia memastikan bantuan itu tak akan salah sasaran karena setiap hari anggotanya mendata warga miskin yang butuh pertolongan. “Selain kemanusiaan, saya ingin mengingatkan kepada jajaran untuk selalu menghormati orang tua. Doa mereka adalah kekuatan kita. Kalau mereka sehat, polisinya juga kuat,” pungkas Siswandi.

(Hari Tri Wasono)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.