Melacak Jejak Harimau Jawa

Sebuah foto harimau loreng terpampang di linimasa Dewi Kurnianingsih, salah satu anggota Peduli Karnivor Jawa (PKJ) dan di-tag ke laman Facebook Didik Raharyono, pendiri PKJ pada 8 Mei 2019. Foto tersebut ditulis sebagai harimau jawa. Spesies yang sudah dinyatakan punah oleh IUCN sejak 1980. Hoaks atau fakta?

Kemunculan foto yang diduga harimau jawa (Panthera tigris sondaica) bukan sekali ini terjadi. Akhir Agustus 2017 sempat ramai di media sosial, “harimau jawa” tertangkap kamera di Ujung Kulon. Beberapa saat kemudian, foto tersebut terkonfirmasi sebagai macan tutul. Kemudian pada Maret 2018, penduduk Wonogiri mengaku melihat harimau jawa beserta anaknya di Gunung Pegat, Wonogiri. BKSDA Jawa Tengah pun mengonfirmasi sebagai macan tutul.

Foto kali ini jelas bukan macan tutul sebab difoto dengan jarak dekat dan bercorak loreng. Pertanyaan yang berkelindan, kapan foto itu diambil? Apakah betul di Jawa sehingga bukan harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae), satu-satunya harimau loreng yang masih tersisa di Indonesia.

“Difoto langsung oleh penduduk di tepi hutan jati di Jawa. Kawasan hutan jati Perhutani,” kata Didik Raharyono, pendiri PKJ. Menurut Didik, foto itu diambil oleh pemanen hasil hutan dari atas pohon mahoni. Ia mengambil 3 kali jepretan, foto ke-3 yang terekam gambarnya. Didik mendapatkannya pada tanggal 3 Desember 2018. Sebagai wujud pertanggungjawaban ilmiah, Didik ingin mencantumkan fotografernya namun yang bersangkutan menolak.

Oleh sebab itu, Didik masih merahasiakan lokasi sebelum ia bisa mengambil foto sendiri. Juga untuk melindungi harimau agar tak terusik habitatnya. Lahan tersebut mendapat ancaman pembukaan pabrik semen. Soal verifikasi, Didik sudah melakukannya. Mendatangi lokasi dengan screening yang ketat dari kelompok pemanen hasil hutan ini.

“Butuh waktu lama untuk mendekati mereka. Kadang sampai 2,5 tahun saya pendekatan untuk meyakinkan mereka bahwa saya peneliti, bukan ancaman. Untuk kelompok yang ini, saya butuh 3 minggu sampai saya diantar ke lokasi pengambilan foto,” kata Didik. Berlokasi di sebuah sungai yang memungkinan adanya prey (makanan untuk pemangsa) sehingga sangat mungkin harimau pun datang. Kemudian Didik mencocokkan bentuk vegetasi, kondisi bebatuan, dan data-data yang mendukung bahwa foto tersebut bukan editan.

Didik Raharyono, peneliti harimau jawa.
FOTO: dok. Didik Raharyono

Ada beberapa faktor pendukung bahwa foto tersebut harimau jawa. Pertama dari pengakuan para pemanen hasil hutan tentang perjumpaan-perjumpaan dengan harimau jawa tersebut. Pada tahun 1970-an, masyarakat sekitar hutan sudah biasa berpapasan dengan “Mbahe” alias si Nenek, sebutan untuk harimau jawa.

Tahun 2008, seorang pemburu di desa itu mengaku berhenti menjadi pemburu karena melihat harimau loreng yang sangat besar. Tahun 2012, pemanen hasil hutan ini (yang memberikan foto) mengaku menembak anakan harimau. Kejadian ini berjarak 6-7km dari lokasi foto tersebut. Kemudian tahun 2017, ketika ia sedang berburu merak. Merak yang menjadi target buruannya diikuti oleh harimau yang menjadikan ia batal memburu merak tersebut.

Dalam hal foto, beberapa pengamat pun meragukan terkait pola lorengnya. “Ada dugaan juga itu foto harimau sumatra yang dilepasliarkan. Kalau pun begitu, pasti butuh waktu untuk untuk bertahan. Juga keraguan akan pola lorengnya. Pertanyaannya, sejauh mana kita punya bukti pembanding?” kata Didik.

Keyakinan Didik ini didukung oleh narasumbernya yang bukan orang awam di bidang harimau, bahkan untuk sekadar mengenali pola loreng. Mereka adalah orang-orang khusus yang memang seumur hidupnya mengenali harimau jawa, meski bukan akademisi.

Sejauh ini, penelitian ilmiah tentang harimau jawa selalu minim pendanaan. Sebab utama tentu saja karena sudah ditetapkan punah sejak tahun 1980 oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature). Penelitian spesies yang ditetapkan punah dianggap kesia-siaan. Bahkan Didik pun kerap dituduh hanya menjual isu untuk mencari uang.

Didik di kalangan para pecinta alam memang identik dengan harimau jawa. Sejak kuliah di Fakultas Biologi, Universitas Gajah Mada, ketika Didik aktif di Matalabiogama tahun 1990-an, sebuah organisasi pecinta alam di fakultasnya, konsennya pada penelusuran harimau jawa. Hingga kini, tak berubah. Ia tetap yakin, harimau jawa masih ada.

“Yang membuat saya yakin, karena pemburu itu masih ada. Pemburu yang khusus memburu harimau jawa,” kata Didik. Perjumpaan dengan masyarakat di sekitar hutan dan juga para pencari hasil hutan memberi pengetahuan yang tak didapat di meja akademis. Mereka sangat mengenal aroma, peta, dan jejak di dalam hutan karena setiap hari mereka melakukan perjumpaan dengan hutan itu.

Menurut Didik, tak ada salahnya menyusuri jejak harimau jawa ini dengan etnotigrologi. Pengetahuan penduduk lokal yang menyumbang khasanah Ilmu Biologi. Tugas para peneliti untuk memilah yang mitos (klenik) dan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Didik mencontohkan, foto harimau jawa di Ujung Kulon, Provinsi Banten, yang diambil oleh Andries Hoogerwerf pada tahun 1938 juga awalnya bersumber dari informasi penduduk lokal. Pun hingga saat ini, peneliti LIPI pun menggunakan guide lokal bila melakukan ekspedisi.

Foto cakaran harimau setinggi lebih dari 170cm ditemukan pada November 1997.
FOTO: dok. Didik Raharyono

Bukti-Bukti Morfometri

Upaya ilmiah yang dilakukan Didik mencatat berbagai rekam jejak kehadiran harimau jawa ini. Tahun 2009, Didik menitipkan tes DNA. Namun tidak dilakukan uji sehingga sampel ia minta kembali. Dilanjutkan tahun 2014, Didik kembali menitipkan ke LIPI untuk tes DNA berupa 3 sampel dari Gunung Cermai (Cirebon, Jawa Barat), Meru Betiri (Kabupaten Jember, Jawa Timur), dan Baluran ( Kabupaten Situbondo, Jawa Timur). Lima tahun kemudian baru keluar hasilnya. Sampel dari Cermai dan Baluran rusak sampelnya sehingga tidak teridentifikasi. Sedangkan sampel kulit dari Meru Betiri terindentifikasi macan tutul.

Bukti kuat yang dimiliki Didik berupa bukti morfometri (bukti terkait ukuran panjang dan kerangka). Penemuan-penemuan morfometri ini dekat dengan macan tutul karena persinggungan habitatnya yang sama. Maka Didik memberi batasan untuk harimau jawa.

Untuk feses diameter di atas 4cm, bila di bawah 3,5cm masih macan tutul. Meski tak menutup kemungkinan, harimau anakan. Namun konsennya tetap pada spesies yang dewasa.

“Saya punya temuan feses dengan diameter 6cm dan 7cm,” kata Didik.

Plastercast dengan diameter di atas 14cm.
Foto: dok. Didik Raharyono

Selain feses, jejak yang dicetak dengan gips (plastercast). Tahun 2004, petugas TN Meru Betiri mencetak 9 jejak dengan ukuran 14x16cm dan diduga macan tutul. Ketika kantor dibongkar pada tahun 2016, Didik baru melihat plastercast tersebut dan mengatakan bahwa macan tutul maksimal hanya 10cm. Bila di atas 14cm, sudah dipastikan harimau. Bila di Meru Betiri, kemungkinan besar harimau jawa.

“Hal itu diperkuat juga oleh saksi mata. Anak-anak Jember yang sedang kemah, mau mandi. Mereka lari karena melihat kucing besar warna merah. Karena suasana menjelang gelap, tak terlihat jelas coraknya. Paginya, ditemukan jejak kaki tersebut dan dicetak oleh petugas,” kata Didik.

Selain bukti feses dan jejak, bukti lain berupa garukan dan cakaran di tanah. Untuk cakaran di tanah, harus detail memerhatikan jarak antar jari. Harimau jawa jaraknya lebih panjang dibanding macan tutul. Sedangkan yang lebih terukur adalah cakaran di pohon.

Range lebih tinggi dari 175cm di atas permukaan tanah, saya berani klaim itu harimau jawa. Kalau cakaran di bawah 150cm milik macan tutul. Kalau di Sumatera, di bawah 100cm bisa harimau karena di sana tidak ada macan tutul,” terang Didik.

Bukti-bukti morfometri itulah yang ingin didapatkan Didik untuk melengkapi foto yang diambil pada Desember 2019. Sembari menggalang dana, para pemanen hasil hutan menyarankan untuk melakukan ekspedisi pada musim kemarau. Pada musim tersebut, tutupan hutan tidak begitu rapat. Hanya hutan-hutan tertentu dan keramat yang masih menyisakan vegetasi sehingga mempersempit gerak harimau. Ekspedisi akan direncakan pada akhir Juni atau awal Juli 2019.

Didik pun melakukan presentasi kepada Ditjen KSDAE (Konservasi Sumberdaya Alam Ekosistem), Ir. Wiratno, MSc. Mereka sepakat untuk merahasiakan lokasi penemuan sampai semua bukti-bukti terkumpul. Bila sudah terkumpul, akan melibatkan semua pemangku kebijakan untuk sama-sama melindungi harimau jawa bila memang ditemukan. Melindungi harimau jawa sama halnya dengan melindungi habitat hutan yang menjadi sumber kehidupan manusia.

print

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.