READING

Melalui Puisi, PMK Gelar Roadshow Ganyang Korupsi ...

Melalui Puisi, PMK Gelar Roadshow Ganyang Korupsi di Kota Kediri

KEDIRI- Road show ke-56 Gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK) di Kota Kediri dihadiri puluhan seniman dari berbagai daerah. Tampil di kawasan pendidikan SMAN 01 Kediri Sabtu malam (5/10), gerakan moral itu juga menyuguhkan perform art musikalisasi puisi.  

Sosiawan Leak, inisiator Gerakan PMK menuturkan, roadshow yang digelar secara berkala ini merupakan salah satu ikhtiar memerangi korupsi. Meski bertujuan sama, gerakan ini berbeda dengan penegak hukum maupun LSM yang fokus pada penindakan dan pemerhati tindak pidana korupsi.

Melalui media seni puisi, PMK mengisi ruang edukasi ke masyarakat. “Kita memosisikan diri sebagai gerakan kultural yang melengkapi gerakan lain yang selama ini sudah dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat,” terang pemilik nama asli Sosiawan Budi Sulisyo ini.

Geliat PMK dimulai tahun 2013. Para penyair yang mengisi ruang di dalamnya merasa gelisah dengan maraknya kasus korupsi. Kesamaan tekad memerangi korupsi itu kemudian terejawantah ke dalam gerakan menolak korupsi melalui karya puisi.

“Setiap warga negara bertanggungjawab terhadap masa depan negaranya. Makanya kami di sini sebagai seniman juga mengambil bagian dengan melakukan kampanye antikorupsi dengan cara kami,” beber pria 52 tahun tersebut.

Ada dua media yang dipakai PMK mengampanyekan anti korupsi ke masyarakat. Pertama, melalui penerbitan buku yang berisi kumpulan syair bertema anti korupsi. Sejauh ini telah terbit tujuh buku yang berkaitan dengan fenomena korupsi di Indonesia yang diabadikan dalam antologi puisi.

“Buku PMK sudah ada tujuh jilid. Yang terbaru berisi harapan kami akan negeri tanpa korupsi,” jelas penulis yang karyanya sering mendapat penghargaan ini.

Media kampanye anti korupsi lainnya melalui roadshow.  Gerakan ini menyasar masyarakat umum dari berbagai kalangan dan status sosial, yakni seperti yang dilaksanakan di SMAN 01 Kediri.

Selain berdiskusi para peserta diajak untuk belajar membuat puisi, cerpen, maupun karya sastra semacamnya.

“Kalau penerbitan buku kan respon kita terhadap para penyair. Sedangkan roadshow kita lakukan karena memang ada banyak permintaan dari masyarakat agar kami melaksanakannya. Ini roadshow yang ke-56,” kata penulis Buku Puisi “Sajak Hoax” ini.

Dalam gerakan kultural ini PMK menegakkan diri sebagai gerakan mandiri yang tidak terikat dengan lembaga atau organisasi tertentu. Semua sumber pendanaan dan fasilitas berasal dari swadaya para anggota (laskar)-nya.

Sebagai bentuk sokongan atas gerakan, para penulis senior yang juga bagian laskar PMK, seringkali turut mendonasikan royalti buku mereka untuk pendanaan. “Kita jaga independensi gerakan ini agar tidak tergantung pada satu organisasi atau lembaga,” urai pria asli Solo tersebut.

Hingga sejauh ini PMK berjalan solid. Kesamaan ideologi memerangi korupsi telah menyatukan mereka. Saat memutuskan menyemplungkan diri ke dalam gerakan, tujuan para  laskar tidak ada yang lain selain menyuarakan aspirasi melalui puisi.

“Roadshow ini pula yang menjadi media kami bertemu, berkumpul selain untuk berkampanye,” jelas pria berambut panjang ini.

Lalu bagaimana sikap PMK terhadap kontroversi RUU KPK yang dianggap banyak kalangan melemahkan KPK?. Leak mengakui pro kontra yang terjadi di masyarakat juga muncul di lingkungan laskar PMK. Dirinya menilai perbedaan pandangan  masih taraf wajar.

“Pro kontranya juga menarik perhatian para laskar PMK tapi kan masih debatable. Apakah ada unsur politik atau benar-benar melemahkan KPK. Apakah ada yang menunggangi atau tidak. PMK sangat hati-hati menyikapinya. Karena tidak ingin terkooptasi oleh kepentingan apapun. Makanya gerakan ini kita fokuskan pada ideologi anti korupsinya, bukan anti orang atau organisasinya,” katanya diplomatis.

Soal generasi milenial, Leak mengatakan PMK tidak melakukan treatmen khusus dalam menjaring laskar dari kelompok milenial. Nyatanya tidak sedikit kaum muda yang ikut bergabung. Bagi Leak gerakan penolakan korupsi tidak bersifat agresif.

Spirit yang dibangun adalah kesadaran masyarakat bahwa selain berbahaya dan menyengsarakan rakyat, perbuatan korupsi juga tidak bermartabat.

“Pastinya selalu ada transformasi sosial. Para laskar PMK yang muda-muda lah yang berupaya secara mandiri mengakomodir budaya-budaya milenial sehingga puisi menolak korupsi juga digemari para generasi muda,” ujarnya saat ditemui di auditorium SMAN 1 Kediri.

Endah Pusporini selaku ketua penyelenggara menjelaskan bahwa acara temu sastra nusantara PMK kali ini bekerjasama dengan omah panji. Yayasan tersebut memang bergerak di bidang seni budaya sehingga selaras dengan tujuan dari penyelenggaraan PMK.

“Kerja sama ini sifatnya insidental saja. Omah panji hanya membantu dalam hal pelaksanaan karena kebetulan roadshow dilaksanakan di Kota Kediri,” terang perempuan berjilbab tersebut.

Reporter : Dina Rosyidha
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.